Rona
Ibadah Alam GKJ Baturetno ke-9: Memaknai Api, Kematian, dan Daya Hidup dari Balik Area Makam
Gereja Kristen Jawa (GKJ) Baturetno kembali menggelar agenda tahunan, Ibadah Alam, pada Minggu (4/10/2026) di Pemakaman Gembuk, Desa Sumberejo, Kecamatan Batuwarno. Di atas tanah pemakaman, senja berbisik lewat rintik hujan yang membasahi bumi perlahan. Sisa mendung yang menggantung di langit, seolah sengaja menyiapkan kanvas alami bagi perhelatan yang akan berjalan.
Tepat pukul 18.00 WIB, suasana hening menyelimuti area pemakaman ketika ratusan warga jemaat GKJ Baturetno berbalut busana nuansa putih berkumpul bersama. Diikuti oleh 9 wilayah, dalam penyelenggaraannya yang ke-9 sejak rutin dilaksanakan sejak 2018, kini api dipanggil menjadi saksi. Mengangkat tajuk Geni Dayaning Urip Tan Sinirep, ibadah ini membawa ingatan jemaat pada kisah tiga pemuda yang dilempar ke dalam tungku menyala-nyala karena menolak tunduk pada tirani Raja Nebukadnezar.
Ibadah dilayani oleh Pendeta Dyan Sunu Prakosa, Pendeta Filo Yustikarno Kristya Persada, dan Pendeta Emeritus Darsono Eko Nugroho.
Siluet Teatrikal dan Bayang-Bayang Kemanusiaan

Melalui sorot bayangan teatrikal, pesan teologis disampaikan secara visual. Penggunaan layar dan lampu memunculkan siluet yang menggetarkan. Saat panggung gelap, mata jemaat terpaku. Kisah keteguhan Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dari Kitab Daniel 3 menjadi sebuah pengingat iman, menyentil realitas masa kini: kekuasaan yang memaksakan kehendak atas pangan rakyat, tuntutan ketundukan buta, serta bayang-bayang kematian.
Suasana kian hening saat bait-bait puisi dibacakan, menyuarakan penderitaan bangsa tentang pilar ketidakadilan. Deretan sajak bersuara tersebut seakan memotret realita Indonesia yang memprihatinkan. Anak-anak putus sekolah, sarjana berpeluh menganggur di jalan, hingga jeritan yang terbungkam. Jemaat menunduk, merenung dalam-dalam.
Lilin Simbol Daya Hidup

Melalui prosesi Perjamuan Kudus, api lilin dibagikan kepada seluruh jemaat. Pendeta Filo menegaskan makna teologis dari simbol ini. “Lilin sebagai tanda bahwa api yang biasanya mematikan dan merusak, ternyata dibuat Tuhan sebagai api yang menjadi daya hidup. Saat persembahan, lilin ditaruh ke depan sebagai wujud bahwa kita sebagai api-api kecil mempersembahkan diri,” jelasnya.
Sutradara teatrikal, Basuki, menjelaskan alasan pemilihan media bayangan dan tema api dalam ibadah ini. “Nuansa ibadah api memakai pengantar bacaan jenis bayangan (teatrikal). Dari sini jemaat bisa melihat, mendengar, dan merenungkan, kemudian melakukan. Sebagai umat Tuhan bagaimana kita akan menjadikan api sebagai sumber hidup atas kuasa Tuhan,” terangnya.
Bagi jemaat, pengalaman ini menghadirkan perjumpaan rohani yang dalam. Siti Sudartini, warga jemaat GKJ Baturetno, mengaku tersentuh saat prosesi penyalaan lilin dan keberadaan pemakaman di dekat mereka. “Pemakaman itu mengingatkan bahwa besok kita juga akan ke sana. Tetapi Tuhan tidak meninggalkan kita. Kita pulang, bukan mati. Kita pulang ke dalam naungan kasih-Nya,” tuturnya haru.
Panggilan Bersuara dan Berbagi Cahaya

Kehadiran ibadah di dekat makam memberi rasa yang berbeda bagi warga jemaat, termasuk Thesa. Ia mengaku baru pertama kali merasakan peribadatan berdekatan dengan tempat pemakaman, tetapi justru merasa konsepnya sangat mengena.
“Dalam kegelapan, khususnya tahun ini yang kerasa susah banget, api jadi cahaya. Seperti Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, kita yakin Tuhan menyelamatkan kita. Istilahnya misal kita sudah masuk ke dalam api itu seperti Sadrakh, Mesakh, Abednego, kita yakin aja kalau Tuhan itu akan menyelamatkan kita seperti mereka, akan tetap hidup,” ujar Thesa.
“Api yang sudah kita terima itu kita bagikan dengan menaruh lilin ke tengah sebagai simbol, sebagai ikrar kita kalau kita bukan hanya ingin menerima tetapi kita mau membagikan sedikit cahaya dari lilin kecil itu buat apa yang ada di dunia,” tambahnya lugas.
Ia menambahkan bahwa kepedulian bisa diwujudkan dari hal sederhana, seperti bersuara atas situasi Indonesia saat ini melalui media sosial, karena menurutnya gereja juga harus hadir dan tidak pejam mata.
Ibadah alam malam itu tak sekadar seremoni, melainkan ajakan untuk tidak berdiam diri di tengah getirnya keadaan zaman. Ruang peribadatan tidak terbatas di dalam dinding gereja, melainkan turut hadir di tengah alam dan tantangan realitas sosial.