Hobi
Anak Durhaka dan Balada Hari Tua Seorang Ibu
Suatu siang kala terik matahari menyengat, lelaki muda berkacamata yang tak pernah pulang kampung selama 10 tahun lamanya, tiba-tiba datang ke desa.
Mak Ju terharu. Ia segera menyingkirkan barang-barang yang berantakan di atas meja. Ia beranjak ke dapur, hendak memasak masakan anaknya, namun putranya malah memintanya duduk.
“Duduklah, Mak. Aku tak bisa lama-lama di sini. Aku hanya ada perlu dengan Emak.”
Mak Ju tak tenang. Ia melihat guratan tak nyaman saat anaknya mengutarakan ingin membopongnya ke kota.
“Daripada Emak tinggal sendiri di sini, alangkah baiknya ikut denganku.”
“Aku tak mau tinggal di sana.”
“Emak akan hidup enak daripada di desa.”
“Kau kira, aku tak tau tabiatmu? Memintaku pindah ke kota, lalu tanah dan rumah ini dijual, padahal sebetulnya kau ingin menaruhku di panti jompo, bukan? Inikah hasil sekolahmu yang tinggi itu?” mata Mak Ju menatap lekat Ersan, anak satu-satunya.
“Panti Jompo memang tempat orang tua. Aku akan menjenguk Emak setiap Minggu. Itu lebih baik daripada tinggal di sini.”
“Cukup, Ersan! Cukup! Aku jauh lebih mengenalmu daripada dirimu sendiri. Menyesal aku memiliki anak sepertimu. Semua sawah kujual demi kuliahmu, dan sekarang kau malah mau menjual tanah ini. Tanah bapakmu.”
Mak Ju berjalan keluar. Tak sanggup berlama-lama di dalam. Keesokannya, ia ditemukan meati sambil memeluk makam suaminya. Mak Ju ditemukan mati dalam di tengah kesepian.