alexametrics

Berdamai dengan Kegelisahan

Hadid Aulia
Berdamai dengan Kegelisahan
Ilustrasi Pertemuan

Ada hal yang mungkin hanya bisa menjadi sebuah angan dan angin lalu saja. Dahulu bisa dikatakan kita selalu bersama, namun kini kita memilih untuk tak saling kenal.

Mungkin waktu itu aku saja yang terlalu bodoh! Menahan semua rasa yang tak kunjung ku ucapkan kepadamu. Bukan tak mau, hanya saja waktu itu aku belum ingin. 

Namun semua itu sudah berlalu, dahulu boleh saja kita selalu bertemu dan bersama. Namun kini tidak! kau sudah bersama dengan seseorang yang mungkin orang itu kukenal. Boleh saja kita bernanung disatu atap instansi yang sama, namun rasa bukan soal cepat atau lambat. Melainkan antara mau ataupun tidak.

Saat ini aku memilih untuk tidak kepadamu, namun tidak dengan yang lainnya nanti.

Banyak kenangan yang tercipta, suka duka kita rasakan. Raut senyum diwajahmu dahulu, masih teringat jelas dalam benakku. Itu dahulu, namun tidak untuk saat ini. Dahulu juga aspal jalan itu menjadi saksi, bahwa kita pernah melintas disana.

Atau mungkin, ibu-ibu atau anak kecil di sudut jalan waktu itu, tegur sapa ucapkan "Permisi" dan dijawab "Yaa,Silakan". Saat ini tidak akan kembali terdengar.

Atau bangku kayu cokelat itu, dalam satu baris yang selalu kupandang adalah kamu. Walau nampak dari belakang hanya rambut hitam panjangmu yang tak dapat ku sentuh, namun itu saja sudah membuat ku senang. Umpamanya.

Mungkin tidak untuk saat ini, saat ini aku sudah kembali bangkit dan tersenyum seperti sediakala. Bukan lagi soal kamu ataupun gugur daun ditaman kala itu. Melainkan aku sudah berdamai dengan kegelisahan yang telah merenggut kebahagiaanku kala itu.

Kamu bukan lagi segalanya. Jelasku!

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak