Camping di Gunung Lambeallu, Memotret Panorama dan Momen Tak Terlupakan

Hernawan | Budi Prathama
Camping di Gunung Lambeallu, Memotret Panorama dan Momen Tak Terlupakan
Foto camp di gunung Lambeallu Galung Paara Selatan, 15/01/2022. (Dok.pribadi/@budi.prathama)

Tanggal 15 Januari 2022, tepat malam minggu, kami mahasiswa KKN Unsulbar Gelombang XVIII kembali berkumpul bersama dengan pemuda Galung Paara dan Galung Paara Selatan. Seperti kebiasaan pemuda pada umumnya, malam minggu sering kali digunakan untuk pergi ke kafe atau istilah kerennya malam mingguan bersama orang spesial. 

Namun, kami bermalam minggu tidak kumpul di kafe, melainkan camping di gunung Lambeallu, salah satu gunung yang ada di Galung Paara Selatan. Suatu camping yang tidak terencana matang sebenarnya, bermula obrolan kecil saja yang terjadi di group WhatsApp, tetapi ujung kesimpulannya justru melaksanakan camping. 

Mungkin suatu bentuk kesal sedikit, beberapa rencana kegiatan sebelumnya telah batal, seperti kegiatan membuat acara di Sendana dan di Kalukku. Semuanya batal, padahal sudah direncanakan jauh sebelumnya. Alhasil, dengan kegiatan yang tak terencana seperti camping justru dengan cepat dapat direalisasikan. 

Sekitar jam 20.20 Wita, malam, kami baru berangkat mencari jagung sebagai bahan pasokan makanan saat di lokasi camping. Namun, itu semua dapat teratasi karena antusias dan semangat. 

Tempat kami camping berada di rumah kebunnya Sadli, salah satu tokoh pemuda Galung Paara Selatan yang telah banyak membantu kami pada saat KKN. Kebetulan juga beliau termasuk inisiator camping tersebut. Sehingga, hal itu tentu tidak terlalu menyulitkan bagi kami untuk mempersiapkan segala kelengkapan camping. 

Malam yang dingin dan sejuk, kami menikmati suasana kehangatan di gunung Lambeallu itu. Sedikit informasi, nama Lambeallu diambil dari salah seorang raja di Pamboborang waktu zaman kerajaan. Menurut penjelasan dari salah satu pemuda, masa kerajaan Lambeallu sangatlah berkesan di masyarakat waktu itu. 

Berada di tepian rumah sederhana di gunung Lambeallu, kami menikmati makan bersama, kelezatan terasa hangat yang dibungkus dengan nuansa kumpul berkumpul. Meski bukan saudara sedarah, tetapi momen itu telah menjawab tentang arti kekeluargaan. 

Usai kami selesai makan, mata mulai  terpikat dengan panorama di gunung Lambeallu dengan keindahannya. Deretan gedung-gedung tinggi terlihat dari kejauhan di perkotaan, pancaran lampu pun bersinar variasi di kota-kota itu. Itu kami saksikan sambil menyempatkan untuk berfoto. 

Selain itu, kami juga menghabiskan waktu untuk menikmati suara musik, mendengarkan bahkan menyempatkan untuk bernyanyi. Walau suara tak semerdu suaranya Zidan yang sekarang ini sedang hitz di media sosial, tetapi kami tetap pede dan mengeluarkan suara kocak.

Malam makin larut, tak terasa kegiatan yang kami lakukan ternyata sudah mendekati waktu subuh. Namun, tulisan ini masih tertuang sambil berbaring di rumah kebun itu, kira-kira sudah mau mendekat jam 4 subuh. 

Bukan tanpa alasan, malam itu tak bisa membuat kami dapat tertidur lelap. Saya pikir memang begitu, camping tentu akan dirundung kondisi tidak akan dapat tidur lelap. Bukan karena keributan yang ada di sekitar, melainkan aroma mengantuk yang kadang tak bisa tampak dalam diri. Alhasil, banyak dari kami yang begadang satu malam full. 

Kegiatan camping termasuk salah satu cara melepaskan kepusingan dan menggali ide-ide baru sebagai bahan untuk melangkah menghadapi kehidupan yang banyak tantangan ini. 

Mungkin masih banyak cerita yang tak bisa tertuang dalam tulisan ini, namun momen camping itu tak akan terlupakan. Selain momen yang berkesan, panorama keindahan gunung tak henti-hentinya memukau mata kami. Apalagi kegelapan malam telah menyorotkan kami untuk melirik dan memandang setiap sudut-sudut yang ada di gunung Lambeallu. Terima kasih untuk semua dan sampai jumpa kembali pada momen selanjutnya. 

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak