Kendati kali pertama terbit dua dekade yang silam, novel Colorful (Counterpoint, Press 2021) karya Eto Mori memiliki isu yang relevan dengan keadaan hari ini. Kehidupan remaja menjadi sorotan utama dalam novel tersebut, dan isu yang paling kentara berkaitan dengan praktik hikikomori.
Apa itu hikikomori? Berdasarkan sejumlah literatur, hikikomori diartikan sebagai keadaan atau situasi mengurung diri seorang remaja dari kehidupan sosial di sekitarnya. Remaja yang melakukan praktik ini, bahkan bisa menutup diri dari keluarganya dalam kurun waktu yang lama, dari mulai berbulan-bulan sampai bertahun-tahun.
Ada beberapa sebab yang melatari seorang remaja melakukan praktik hikikomori. Penyebab paling umum biasanya berkaitan dengan tekanan dari sekitarnya yang datang baik dari lingkungan keluarga maupun sekolahnya. Selain itu, bila ia sering menjadi sasaran perundungan, kerap diremehkan, tidak memiliki teman, dan kebingungan akan mencari arti dari kehidupan yang tengah dijalani, seseorang remaja memiliki kemungkinan besar untuk melakukan praktik hikikomori ini. Bahkan, karena hilangnya semangat bersosialisasi dan masuk ke dalam kehidupan pada umumnya, seorang pelaku hikikomori sangat berpotensi untuk mengakhiri hidupnya.
Lalu, bagaimana dengan karakter di dalam novel Colorful? Pertama-tama, novel ini sebetulnya tidak hanya berpijak pada sesuatu yang realistis, sebab ada bagian magis yang dihadirkan Eto di dalam novelnya itu. Dikisahkan, ada arwah yang sedang melalui perjalanan menuju alam lain demi mendapatkan kesempatan kelahiran kedua. Namun, tiba-tiba, ia dijegat oleh satu malaikat yang memberitahunya bahwa “ia pernah melakukan kesalahan di masa lalu, sehingga tidak diperbolehkan melanjutkan perjalanan, dan untuk menembus kesalahan itu, ia harus menjalani masa percobaan-kelayakan dengan menjadi orang lain di bumi”.
Tak disangka, ia mesti menjalani kehidupan seorang anak remaja bernama Makoto Kobayashi. Dulunya, anak itu sedang koma setelah menelan obat tidur ibunya demi tujuan bunuh diri. Dan saat siuman, tentu saja, ia tidak menjadi Makoto yang asli, sebab jiwanya sudah diisi oleh arwah tadi. Maka, dimulailah babakan kehidupan Makoto yang baru. Si arwah mau tak mau mesti menyesuaikan diri dengan keadaan barunya, ia mesti beradaptasi dengan kehidupan sekolah dan keluarga Makoto, juga mesti menghadapi masalah-masalah yang sebelumnya tidak terselesaikan oleh Makoto.
Proses yang dijalani si arwah tadi tentu tidak mudah. Ada banyak hal yang tampak berbeda dengan kehidupannya terdahulu dan tak sedikit pula yang berseberangan dengan prinsip yang diyakininya. Keadaan keluarga barunya tak lebih-lebih membuatnya terkejut, ia mendapati banyak keburukan dimiliki oleh setiap anggota keluarga itu, dan ia sampai bisa memahami mengapa Makoto dulu memutuskan untuk bunuh diri setelah lama menjalani laku hikikomori.
Lalu, bagaimana akhirnya? Di dalam novel, Eto mengisahkan keseharian Makoto yang baru. Dan dalam keseharian itu, sampai tiba di akhir novel, Eto menyebarkan banyak hal yang patut untuk direnungkan. Perkara yang disuguhkan dalam novel ini berkaitan dengan laku memaafkan, yang ditunjukkan banyak tokoh atas kesalahan yang mereka perbuat. Selain itu, hal penting dan utama lainnya, Eto menegaskan satu hal: Bahwa kita perlu melihat segala sesuatunya yang dengan sudut pandang yang berbeda. Barangkali, ada bagian dalam kehidupan kita yang terkesan monoton, hanya berwarna hitam atau putih, dan berjalan dengan selaput kekelaman yang tebal.
Namun, dengan kisah yang disuguhkannya, Eto menghadirkan permenungan lain: Bahwa kalau kita mau menggeser sudut pandang kita, bisa jadi kita akan melihat warna lain yang lebih indah dalam kehidupan kita. Itu yang membuat kehidupan kita tidak berjalan monoton dan memiliki keberagaman warna yang menyenangkan. Itulah yang diyakinkan olehnya. Eto ingin novel ini menjadi penyemangat bagi siapa pun yang sedang menghadapi fase terberat dalam hidupnya.
Dan, alih-alih menghadirkannya dengan cerita membosankan yang dipenuhi khotbah soal moral dan perilaku, Eto justru menghadirkannya dengan sebuah kisah unik, mengharukan, dan asyik untuk diikuti. Tidak ada pretensi menggurui dalam novel ini. Eto hanya bercerita, itu saja, tapi cerita yang ia bawakan bukan sesuatu yang tak meninggalkan kesan apa-apa.