Serangkum Kisah Pergulatan Hidup, Ulasan Buku Skenario Remang-Remang

Hayuning Ratri Hapsari | Thomas Utomo
Serangkum Kisah Pergulatan Hidup, Ulasan Buku Skenario Remang-Remang
Buku Sekenario Remang-Remang (Dokumentasi pribadi/Thomas Utomo)

Sebuah semboyan menyatakan bahwa hidup adalah perjuangan. Perjuangan sendiri amat relatif sifatnya bagi setiap orang; tergantung pada kepribadian orang itu sendiri dan jenis pengalaman yang dihadapinya.

Apabila kepribadiannya tangguh, pikirannya jauh ke depan, dan daya mentalnya tebal, maka kejadian seberat apa pun akan dapat dihadapi dengan mudah.

Sebaliknya, bagi orang dengan kepribadian lemah, pikiran sempit, dan iman yang tipis; sebuah kejadian remeh temeh sekalipun seolah-olah menjadi persoalan besar yang sukar dihadapi.

Hal demikianlah yang dikemukakan Jessica Huwae dalam buku kumpulan cerpen ini. Keempat belas cerpen di dalamnya mewakili romantika, paradoks, asam-manis kehidupan manusia dan pergulatannya.

Misalnya dalam cerpen Resep Rahasia Tante Meilan. Cerpen yang mengambil setting tempat sebuah ruko yang sempat terbakar habis di masa kerusuhan 1998 ini melukiskan pergulatan hidup Tante Meilan—seorang perempuan keturunan—sepeninggal suami dan anak gadis semata wayangnya.

Setelah sempat berganti-ganti jenis usaha—mulai dari MLM, berjualan pulsa, sampai membuka toko kelontong—hoki perempuan itu jatuh pada usaha terakhir, yakni usaha yang diberinya nama Mi Ayam Spesial Tante Meilan.

Mi buatan Tante Meilan sangat tersohor ke penjuru kota karena kelezatannya. Meski terletak di gang sempit yang hanya pas untuk dua pejalan kaki atau satu motor bebek—sebuah tempat yang tidak atraktif untuk berdagang dan menentang semua logika ilmu pemasaran, tempat Tante Meilan selalu dipadati pengunjung—lebih-lebih saat jam makan di siang hari.

“Mengapa mi buatan Tante Meilan bisa begitu terkenal? Selain enak dan gurih, mi Tante Mei memang telah membawa banyak keajaiban. Tante Mei memang tidak pernah mengklaimnya—akan tetapi para pelanggan yang ramai memenuhi rukonya siang dan malam tidak sungkan membagi kisah hidup mereka.

"Dua porsi mi Tante Mei bisa mendamaikan sepasang kekasih yang sedang bertengkar, mendiamkan anak-anak yang rewel saat orang tua mereka butuh ketenangan, termasuk menjadi konsumsi alternatif yang mengenyangkan bagi ibu-ibu yang menggelar arisan, pengajian, sampai kebaktian lingkungan.

"Mi Tante Mei juga hadir memberi asupan gizi dan mengembalikan kembali ide-ide segar dalam suasana meeting yang panjang dan melelahkan.” (halman 2-3).

Kepopuleran mi buatan Tante Meilan membuat banyak orang ingin bekerja sama dengannya lewat waralaba. Ada pula pengusaha makanan kering yang menawarkan untuk mengemas mi olahan Tante Meilan dalam bungkusan praktis yang dijual di supermarket-supermarket ternama.

Tapi Tante Meilan menolak semua proposal kerjasama itu.

Di samping itu, tidak kurang pula orang yang mendengki padanya, karena mi buatannya itu sungguh sukar ditiru—meski beragam cara sudah dilakukan. Termasuk di antaranya Burhan; pengusaha yang berkali-kali meniupkan isu bahwa mi buatan Tante Meilan mengandung bahan yang tidak halal.

Dia menyuruh Ali; sepupunya yang bekerja di Dinas Kesehatan Kota, untuk menguji kelayakan usaha Tante Meilan; mulai dari kebersihan, keamanan, dan test control.

Dengan begitu Tante Mei harus membongkar rahasia dapurnya dan bahkan mempresentasikan caranya mengolah bahan-bahan sebelum dihidangkan.

Itulah cara terakhir yang ditempuh Burhan untuk bisa meniru cara Tante Meilan dalam mengolah mi!

Tapi ternyata, Tante Meilan mengolah bahan-bahan mi dengan cara biasa saja—sama seperti yang lain. Hal yang membuat berbeda adalah Tante Mei mengolah adonannya sambil menyanyi, melenguh, menangis, merintih, kadang melolong dan tertawa terbahak-bahak.

Pada saat yang sama, cairan yang keluar dari kedua belah mata Tante Meilan bukan air melainkan darah yang terus mengalir sampai tumpah di atas adonan. Rupanya Tante Meilan mengolah adonan sambil mengenang suami dan anaknya yang mati tragis saat terjadi kerusuhan 1998.

"Dari penderitaan mi ini kubentuk, dengan darah dan air mata aku menguleninya.” (halaman 15).

Berikutnya ada cerpen Satu Hari dalam Hidup Aidan yang melukiskan mengenai kehidupan Aidan yang sejak kecil dibentuk orang tuanya untuk memiliki kepribadian robot; segala hal diatur, diarahkan, dilarang—anak harus patuh menuruti petunjuk orang tua!

Aidan tidak boleh jajan sembarangan—untuk itu dia tidak diberi uang saku—dan dilarang bergaul dengan orang-orang yang tidak jelas.

Tapi seperti yang dikemukan pengarang di awal cerpen ini, bahwa, “Dalam hidup, selalu ada satu waktu—atau satu hari di mana kita sadar bahwa kita telah melakukan kesalahan.

"Ketika memilih rute yang salah saat sudah terlambat, memakai baju terbalik karena terburu-buru—yang berakibat kita ditertawakan oleh seluruh penumpang di gerbong kereta—atau ketinggalan materi presentasi di hari yang paling menentukan dalam kehidupan karier kita.

"Hari sial, kata orang-orang… Bagaimana bila kita memulai hari dengan cara yang berbeda, memikirkan dan melakukan hal-hal yang berbeda atau tidak mengambil keputusan-keputusan yang kita ambil di hari itu, akankah hidup membawa kita pada akhir yang berbeda?” (halaman 33).

Suatu siang, karena tidak kunjung dijemput supirnya, Aidan pun memutuskan untuk berjalan kaki ke rumah lewat jalan alternatif di belakang sekolah. Pada saat itu, Aidan sangat girang karena perjalanan pulang sekolah yang tidak seperti biasanya. Itu adalah kesempatan yang langka!

Di samping pengalaman menyenangkan itu, Aidan juga mendapat pengalaman dicegat sekelompok preman saat sudah hampir sampai di belakang kompleks perumahannya. Dia dipalak dan diancam yang membuatnya ketakutan setengah mati.

Sejak saat itu, Aidan menjadi gampang gugup dan lebih suka menyendiri. Dia tidak suka lagi mengobrol dengan pembantu dan orang tuanya.

Orang tua Aidan menganggap kediaman Aidan sebagai proses yang mesti dilalui anak mereka yang sebentar lagi menjelma remaja tanggung. Karena itu, orang tua Aidan mundur dan membiarkan dia untuk banyak berpikir; merenung.

Aidan mengisi waktu luangnya dengan banyak menggambar—dia ingat perkataan gurunya, bahwa dia boleh menggambar apa saja yang terbersit di kepala.

Sampai kemudian, orang tuanya dipanggil ke sekolah karena gambar-gambar yang dia buat: gambar anak kecil yang dikejar-kejar, tubuh-tubuh tanpa wajah dengan kelamin yang terbuat dari pisau, dan anak-anak kecil telanjang dengan isi perut yang memburai. (halaman 46-47).

Kejadian itu membuat Aidan tidak diizinkan menggambar lagi. Buku gambar dan pensil warnanya dirampas. Selanjutnya dia dikirim ke pengasingan: sebuah sekolah berasrama dengan kurikulum agama.

Aidan memendam keinginan menggambar dalam diam. Selang sepuluh tahun kemudian, selepas dari pengasingan, Aidan merasa bebas melakukan apa saja yang dia suka, termasuk menggambar.

Tapi Aidan tidak lagi menggambar di kertas melainkan di tubuh. Tubuh Aidan yang sudah menjulang tinggi kini dihiasi banyak rajahan tato. Dia sangat bangga akan hal itu. Dan karenanya tidak ragu-ragu menggabungkan diri dengan kawanan preman yang dulu pernah mencegatnya sepulang sekolah.

Pada akhirnya, Aidan pun ikut mengincar dan mencegat bocah yang melintas sendirian.

Bagi peresensi sendiri, dua cerpen tersebut adalah cerpen yang paling bergetah, karena cukup mengganggu benak selama dan setelah membacanya.

Kandungan kedua cerpen itu dapat mendorong pembaca untuk berpikir dan berefleksi: mempertanyakan soal kehidupan yang kerap kali pahit-getir namun harus disikapi secara matang.

Di samping itu, terdapat pula cerpen-cerpen lain yang menuturkan soal pengkhianatan, perpisahan, kebohongan, juga harapan. Seperti cerpen Mencintai Elisa yang melukiskan perjuangan tokoh ia; seorang pemuda sederhana, yang berjuang mati-matian mendapatkan Elisa; seorang gadis cantik dari kalangan keluarga kaya, lewat belajar tekun dan kerja keras.

Tapi setelah keduanya menikah, ia justru sering menghujani Elisa dengan tamparan dan pukulan.

Atau cerita tentang seorang penyanyi lawas yang berharap-harap cemas mendapatkan kembali popularitasnya yang telah redup dalam cerpen Jalan Kembali.

Tidak kalah menariknya adalah cerpen yang judulnya tertera di sampul buku, yakni Skenario Remang-Remang. Cerpen ini terbilang istimewa, karena disajikan pengarang dengan cara yang tidak biasa. Pengarang sengaja menghapus narasi soal nama tokoh, tempat, kejadian, gerak tubuh, dan suasana.

Yang terpampang hanyalah dialog-dialog lucu namun cerdas dari sepasang kekasih. Misalnya, “’Lagi pula sinyalmu tidak jelas.’ ‘Aku perempuan, bukan mercusuar. Belajar dong membaca tanda. Jangan apa-apa musti dikasih tahu.’” (halaman 68).

Atau, “Ada harga yang harus dibayar dengan menjadi perempuan. Tampil alami itu omong kosong. Pada akhirnya kau tetap butuh bedak, lipstik, penjepit bulu mata, dan pemulas pipi.” (halaman 70).

Sedikit kritik bagi kumpulan cerpen ini, misalnya soal penggunaan kata acuh di beberapa cerpen. Lewat narasi-narasi yang dibangun, tampak jelas bahwa pengarang mengasosiasikan kata acuh dengan kata tidak peduli. Padahal hal demikian keliru. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, acuh justru berarti peduli.

Kritik yang lain adalah paparan mengenai keadaan ruko Tante Meilan (dalam cerpen Resep Rahasia Tante Meilan) yang digambarkan ramai pelanggan siang dan malam (halaman 2, paragraf 4).

Hal itu bertentangan dengan paparan di halaman sebelahnya (halaman 3, paragraf 2). Di situ diterangkan bahwa, “… Tante Mei membatasi jam buka rukonya hanya sampai jam tiga sore.” Jadi, mana yang betul: Tante Meilan berjualan siang dan malam atau berjualan sampai sore hari saja?

Barangkali jika buku kumpulan cerpen ini dicetak ulang, kekeliruan tersebut dapat diperbaiki.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak