Fort de Kock merupakan salah satu benteng yang cukup terkenal yang di bangun oleh pihak kompeni Belanda di Indonesia, di samping benteng-benteng lain yang melegenda.
Di Sumatera Barat selain Fort de Kock kita juga mengenal Benteng Van der Capellen di Batusangkar. Memang Sumatera Barat dianugerahi berbagai destinasi wisata yang cukup komplet, ada wisata alam yang menakjubkan, wisata budaya dan wisata sejarah.
Berbicara tentang Benteng Fort de Kock sendiri, mengutip dari Wikipedia, benteng ini didirikan pada tahun 1825 oleh Kapten Bouer sewaktu Hendrik Merkus de Kock menjadi Komandan Der Troepen atau Wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda waktu itu.
Benteng yang terletak di atas Bukit Jirek itu digunakan tentara Belanda sbagai kubu pertahanan dari gempuran rakyat Minangkabau pada masa perang Paderi 1821- 1837.
Sampai saat ini kita bisa menyaksikan meriam meriam kuno yang terletak di seputaran bangunan benteng sebagai bukti pertempuran hebat pernah terjadi disini.
Sejak tahun 2002, kawasan di sekitar benteng direvitalisasi oleh pemerintah daerah setempat menjadi suatu objek wisata yang terpadu. Hal itu tidak terlepas karena posisi bangunan benteng ini sendiri berada di Kawasan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan.
Selain bisa mengunjungi kebun binatang, wisatawan juga bisa bersantai dan berpiknik bersama keluarga karena kawasan ini sangat teduh dan bersih.
Selain itu, anak-anak dapat bermain karena ada playground buat anak atau ingin mencoba menunggang kuda atau gajah juga tersedia. Ada juga taman burung tropis di sana, ketika kita memasuki area Benteng kita akan melihat sangkar sangkar besar yang berisi aneka macam burung dari wilayah tropis.
Bagi yang ingin uji nyali, kita dapat mencoba spot sepeda gantung yang baru dirilis oleh Pemkot setempat untuk meningkatkan daya tarik pengunjung.
Pintu masuk menuju area benteng ini sendiri ada dua pintu, yang satu dari kawasan benteng sendiri, yang lainnya dari arah pasar atas di mana kita akan diarahkan untuk mengelilingi kebun binatang terlebih dahulu.
Untuk tarif masuknya bagi anak anak dikenakan biaya Rp20.000, sementara dewasa Rp25.000. Objek wisata ini memiliki jam operasional dari 08.00-18.00. Dengan harga karcis yang demikian, kita bisa menikmati wisata semua kawasan di sini, kecuali untuk naik kuda atau gajah dan sepeda gantung ada tarif tersendiri.
Jika kita ingin menikmati pemandangan landscape Gunung Singgalang dan Marapi , kita bisa berfoto ria dari tengah Jembatan Limpapeh yang menghubungkan kedua kawasan ini.
Bagi pecinta wisata budaya juga dapat mengunjungi Museum Rumah adat Banjuang yang terletak di tengah kawasan ini. Objek wisata ini terletak di jalan Yos Sudarso Benteng Pasar Atas, Kecamatan Guguk Panjang, Kota Bukittinggi. Wisata dengan paket terpadu telah tersedia, jangan lupa luangkan waktu anda untuk berkunjung.