Yogyakarta merupakan destinasi wisata terkenal di Indonesia yang memiliki beragam budaya dan tempat wisata. Mulai dari gunung, pantai, ragam kuliner, ramainya Jalan Malioboro dan sekitarnya hingga banyaknya peninggalan situs yang kerap menjadi momen istimewa dan diabadikan oleh para petualang yang ingin menjelajahi tempat-tempat baru. Salah satunya Candi Plaosan.
Candi Plaosan berada di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah ini terkesan dibagi menjadi dua situs; yang dikenal sebagai Plaosan Lor dan Plaosan Kidul. Dilansir dari informasi yang terpajang di kompleks candi, disebut demikian karena saat ini dua lokasi tersebut dipisahkan oleh jalan raya.
Dari temuan parit yang mengelilingi Situs Candi, diasumsikan bahwa kedua candi tersebut sebenarnya merupakan satu kesatuan yang dikenal dengan “Situs Candi Plaosan”.
BACA JUGA: Gereja Ganjuran, Wujud Inkulturasi yang Sarat Nilai Toleransi
Candi Plaosan Lor memiliki tinggi sekitar 21 meter dengan pintu masuk di sebelah barat. Pada bagian tengah candi, terdapat hamparan halaman yang dilengkapi pendapa dengan tiga buah altar pada sisi-sisinya.
Sementara, bangunan Candi Plaosan Kidul dikelilingi oleh 8 candi kecil yang terbagi menjadi 2 tingkat. Setiap tingkat terdiri dari 4 candi kecil. Selain itu, banyak ukiran mirip seperti bentuk tumbuh-tumbuhan yang terletak pada pintu masuk candi.

Wisata Candi Plaosan memiliki ratusan stupa dan puluhan candi perwara. Setiap candi perwara merupakan “persembahan” dari suatu daerah yang berbeda-beda. Hal ini ditandai dengan adanya relief tulisan kuno pada dinding luar candi perwara yang menunjukkan siapa pemberi candi perwara tersebut.
Mengisahkan candi, berarti membicarakan sejarah. Berdasarkan sumber papan informasi yang terpajang di dekat pos pengamanan pintu masuk candi, dijelaskan bahwa menurut De Casparis, situs candi Plaosan didirikan pada pertengahan abad ke-9 Masehi, antara tahun 825-850 M yang didasarkan pada data prasasti, gaya seni dan arsitektur candi.
BACA JUGA: Candi Ratu Boko, Situs Purbakala yang Indah dan Terawat di Indonesia
Disebutkan pula jika candi dibangun oleh putri dari Dinasti Syailendra yang bergelar Sri Kahulunnan, dibantu oleh suaminya, bernama Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya.
Sri Kahulunan adalah seorang ratu dari Dinasti Syailendra penganut Agama Buddha, yang disamakan dengan Pramowardhani.
Berdasarkan prasasti Karangtengah tahun 824 M, dijelaskan bahwa Pramowardhani adalah anak Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra penganut agama Buddha yang membangun Candi Mendut (vevuvana).
Pada masa pembangunan vevuvana, Raja Samaratungga dibantu oleh Rakarayan Patapan Pu Palar atau yang dikenal dengan Rakai Garung. Dia adalah seorang raja penganut agama Hindu. Dapat dikatakan bahwa Candi Palosan merupakan wujud nyata dari “kolaborasi” dua agama, yaitu Hindu-Buddha.
Dengan kata lain harmoni kedua agama ini tampak begitu jelas dari bangunan candi yang megah ini. Jika Anda mengunjungi Candi Plaosan, Anda akan menjumpai tempat “ujian” atau yang dikenal dengan istilah Mandapa untuk para murid yang belajar di Candi Plaosan oleh 21 Dewa yang duduk dihadapannya. Salah satu arca di tempat "ujian".
Di Candi Plaosan akan dijumpai dua jenis bangunan candi Perwara, salah satunya berbentuk stupa. Artinya bahwa sudah sejak lama di bumi nusantara ini telah banyak bangunan candi yang membuktikan bahwa kita mampu hidup berdampingan, bekerjasama, dan saling membantu satu sama lain.
BACA JUGA: Mencicipi Romantisme Masa Sejarah di Candi Ijo Yogyakarta
Jadi, tidak terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa Candi Plaosan adalah simbol kerjasama dua agama. Menurut catatan yang disediakan oleh pengelola di kompleks candi, perhatian terhadap keberadaan Candi Plaosan dimulai sejak masa penjajahan Belanda melalui penelitian dan pemugaran pada candi induk sisi selatan (plaosan kidul).
Sedangkan pada masa pemerintah Republik Indonesia, berbagai upaya perawatan dan pelestarian meliputi pemugaran, candi induk sisi utara, Candi Perwara, Perwara Stupa, Candi Patok, Arca-arca Dwarapala, Mandapa (kabarnya bangunan ini digunakan sebagai tempat persiapan ritual), gapura dan pagar halaman yang mengelingi candi sampai saat ini masih dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jawa Tengah.
Rute menuju Candi Plaosan sangat gampang karena melalui jalan raya utama. Bisa melalui Jl. Laksda Adisutjipto dan Jl Raya Solo-Jogja ke arah timur. Jarak dari pusat kota Yogyakarta kurang lebih 18 kilometer atau bisa ditempuh kendaraan bermotor hanya dalam waktu kurang dari 40 menit jika kondisi jalan lancar, lalu lintas tidak macet.
Bisa juga dengan kendaraan Trans Jogja. Silahkan memilih trayek yang melewati Jl. Jogja-Solo, lalu turun di Terminal Prambanan. Dari sana, bisa naik ojek, berjalan kaki, atau kendaraan yang tersedia di sana.
Untuk memasuki wisata Candi Plaosan, pengunjung hanya dikenakan tiket masuk Rp 10.000, untuk 1 orang Dewasa dan Rp 2000 untuk usia anak. Sedangkan untuk pengunjung mancanegara harus merogoh kocek Rp 50.000.