Filsafat, Pencarian Jati Diri, dan Perjalanan Hidup dalam Novel Sorge

Hayuning Ratri Hapsari | Rie Kusuma
Filsafat, Pencarian Jati Diri, dan Perjalanan Hidup dalam Novel Sorge
Ilustrasi novel Sorge (Ipusnas)

Sorge merupakan novel perdana yang ditulis Olive Hateem dan diterbitkan oleh Penerbit Gradien Mediatama (2021).

Sorge sendiri dalam bahasa Jerman memiliki arti rasa cemas, peduli, khawatir. Penjelasan yang lebih lengkap ada dalam novel ini sebagai berikut:

“Sorge,” ujarku. “Rasa peduli. Menurut Heidegger dalam “Sein und Zeit”, rasa peduli adalah hubungan dasariah manusia dengan dunianya. Manusia hidup di dalam dunia yang ia pilih, tapi ‘terlempar’ begitu aja. Mutu hidup seseorang dapat ditentukan dari sejauh mana ia mampu mengembangkan rasa peduli ini di dalam hubungannya dengan dunia ini.” (hlm 200)

Novel Sorge mengisahkan tentang seorang gadis bernama Lika, mahasiswa semester akhir jurusan filsafat, yang sedang dalam proses menemukan jati diri.

Lika digambarkan sebagai gadis yang aktif. Selain tercatat sebagai mahasiswa, Lika juga bekerja paruh waktu sebagai editor lepas, dan didapuk menjadi Program Manager di Jogja-NETPAC Film Festival (JAFF).

Di acara JAFF inilah Lika berkenalan dengan Nata dan dari kedekatan yang kemudian terjalin di antara mereka, pada akhirnya menjadikan mereka sepasang kekasih. Hubungan Lika dan Nata yang awalnya baik-baik saja kemudian merenggang ketika sikap Nata berubah, dan Lika mengendus ada sesuatu yang disembunyikan kekasihnya.

Di sisi lain, Lika yang kedua orang tuanya telah bercerai ketika ia masih sangat belia, menghadapi  kenyataan bahwa ayahnya akan menikah lagi, seperti yang lebih dahulu dilakukan sang ibu.

Perasaan kehilangan, kecemasan, dan ketakutan menghujani dirinya. Trauma masa kecil berlarian, sesuatu hal yang tak bisa Lika ceritakan pada sembarang orang.

Ada lembar puisi dalam novel ini yang sangat menggambarkan perasaan Lika saat itu dan sangat ingin saya apresiasi di sini.

barangkali kau masih terjebak

riak-riak kesepian

meraba pojok-pojok ingatan

seolah tiada lagi harapan

barangkali kau tengah digulung

gelombang kenangan

nyaris terhempas keputusasaan

menjelma Thoreau, Plath, Dylan

barangkali kau ingin berenang

menuju tepi pantai kesadaran

berteman pasir, kelapa muda dan ikan

mencari asa berpayung gerayang awan

karena permenungan dan kemurungan

tiada akan ada habisnya

berhenti berlindung pada kesedihan

bahagia masih tumpah dari semesta

Novel Sorge meskipun bergenre romance tapi tak melulu berkubang dengan romantisme. Kehidupan mahasiswa—dengan setumpuk tugas, pertemanan yang solid, grup belajar bersama—hubungan persahabatan, keluarga, impian dan cita-cita juga mewarnai novel ini menjadikannya paket lengkap.

Sebagai novel yang berlatar tempat di Yogyakarta, pembaca juga akan disuguhkan lokalitas yang kental dari Yogya sebagai salah satu tempat tumbuhnya literasi, terutama sastra dan seni, serta banyaknya tempat ngopi asyik, melalui tangan penulisnya.

Jika boleh saya simpulkan, novel ini adalah novel filsafat yang meramu cinta, persahabatan, keluarga, dan perjalanan hidup menjadi satu sajian yang menarik.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak