Menikah Tanpa Cinta dalam Novel My Husband is My Cold Cousin

Hernawan | Rie Kusuma
Menikah Tanpa Cinta dalam Novel My Husband is My Cold Cousin
Cover My Husband is My Cold Cousin (Gramedia Digital)

Arista Vernanda Fajarin atau lebih dikenal dengan Arista Vee, penulis yang hobi menggambar dan menulis puisi ini telah menerbitkan sejumlah novel, di antaranya: Love Is Possible, So I Married A Senior, So I Love My Ex, dan yang akan saya ulas berikut ini novelnya yang berjudul My Husband is My Cold Cousin.

Valencia Larasati, mahasiswi baru di sebuah universitas negeri di Surabaya. Di kota itu ia tinggal di rumah tante jauhnya, Tante Atin, yang tinggal berdua saja bersama anaknya, Vinno.

Vinno yang dingin dan cuek suatu kali mengajak Valen menikah, agar ibunya, Tante Atin—yang bertanggung jawab selama Valen tinggal di rumahnya—bisa pergi berobat dengan tenang ke London karena kanker serviks yang dideritanya semakin parah.

Ibunda Valen pun merestui keinginan Vinno karena beliau juga ingin ada seseorang yang menjaga Valen. Valen yang belum punya perasaan apa pun pada Vinno menerima pinangan tersebut dengan pertimbangan untuk membahagiakan orangtua satu-satunya tersebut.

Untuk sebuah novel bergenre romance yang diperuntukkan untuk pembaca young adult, saya tidak menemukan adegan romantisme yang berlebihan, semua pas sesuai takaran, dan itu bagus sekali.

Konflik cerita sangat beragam dari kemunculan Nata, mantan kekasih Valen, kemunculan Sharena, sahabat Vinno yang mencintai dan dicintai Vinno, sampai konflik Tante Atin yang suaminya, Franciss, menikah lagi dengan sahabatnya di London. Dan tentu saja, konflik rumah tangga antara Valen dan Vinno yang dibangun tanpa cinta.

Sedikit kekurangan dalam novel terbitan Elex Media Komputindo (2017) ini adalah saya menjumpai beberapa kali pengulangan. Jadi, apa yang sudah dijelaskan di narasi diulangi kembali dalam dialog. Menurut saya jadi mubazir dan tidak efektif.

Karakter paling menonjol dalam novel ini ada pada tokoh Vinno. Ia digambarkan memiliki sifat kaku, dingin, irit ngomong, dan cuek, tapi terkadang bisa hangat dan penuh kejutan. 

Saya menyukai beberapa narasinya yang bisa dijadikan quote tersendiri, seperti contoh di bawah ini dan sekaligus sebagai penutup ulasan saya.

Memang, perpisahan karena kematian adalah luka paling mustahil untuk disembuhkan, namun bukan berarti luka itu harus selalu dikenang. (hlm 151)

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak