Novel Penantian Perempuan ini merupakan novel pertama karya Aguk Irawan MN. Sama dengan novel-novel garapan Aguk Irawan MN lainnya, novel ini pun sangat memukau dan mengagumkan. Berkisah tentang seorang laki-laki bernama Ahmad Syamsudin yang baru tiga bulan menikah dengan Ayuningrum Wulandari di Indonesia, lalu ditinggal selama tiga tahun untuk keperluan kuliah S2 di Kairo, Mesir.
Seperti dilihat dari judulnya, tokoh protagonis dalam novel ini adalah seorang perempuan. Perempuan muda yang selalu menanti karena dimabuk cinta dalam bulan madunya yang baru tiga bulan.
Nyaris seluruh halaman novel ini berisi kisah penantian sang istri yang ditinggal suami. Penantian panjang selama tiga tahun itu ternyata menelan kecewa, lantaran tokoh Syam kepincut dengan perempuan lain bernama Laila Faridah yang juga sedang menempuh pendidikan di Mesir.
Selama tiga tahun itu, Syam dan Ningrum, istrinya, hanya komunikasi via email. Saling bertukar pesan, menyampaikan kabar, bermanja, dan melunasi kerinduan lewat pesan elektronik. Selama menanti dengan sabar kepulangan Syam, Ningrum selalu dibuai rindu tak bertepi.
Hingga saat tiba waktu pulang, Syam meninggal dunia dalam kecelakaan laut di Alexandria. Ketika itulah semua kisah cinta Syam bersama Laila selama di Mesir terkuak. Ningrum menemukan foto Syam dengan Laila di Pantai Arish, dekat perbatasan Israel.
Foto mesra tersebut juga disertai secarik kertas bertuliskan kata-kata indah tulisan tangan Syam.
Laila, telah kusimpan segala peristiwa // Dan kau masih saja kata yang terus subur di tamanku // Meski semakin menghijau // Apalagi saat kurasakan kesepian bagai pisau menusuk tajam pada waktu // Aku tahu saat itu // Jiwaku terbentang, tak tahu sudah berapa perasaanku yang tersesat // Namun, bukankah yang menggetarkan selalu berjarak dan juga tak terjebak // Akan kumiliki kau sampai daun berguguran.
Usai suasana duka akibat kematian Syam, Ningrum menemui Laila yang kala itu juga hadir dalam pemakaman Syam. Ningrum berbicara empat mata dengan Laila. Ningrum ingin Laila berbicara jujur soal hubungannya dengan Syam. Ternyata benar, keduanya punya hubungan dekat.
Akibat sering bertemu dalam berbagai kesempatan, bibit-bibit cinta Laila kepada Syam mulai tumbuh. Bibit itu semakin subur karena Syam tidak memberi tahu bahwa dirinya telah berstatus sebagai suami orang. Keduanya menjalin hubungan selama satu tahun setengah di Mesir.
Di akhir kisah, Ningrum menanyakan soal alamat dan kondisi orangtua Laila. Usut punya usut, tak lain dan tak bukan Laila ternyata masih saudara tiri Ningrum yang tinggal di Medan.
Identitas Novel
Judul: Penantian Perempuan
Penulis: Aguk Irawan MN
Penerbit: Lanarka Publisher
Cetakan: I, September 2005
Tebal: 157 halaman
ISBN: 979-99465-1-4