Ulasan Novel Melacak Jejak Reva yang Terkuak, Perjuangan Melawan Kekerasan

Hernawan | Christina Natalia Setyawati
Ulasan Novel Melacak Jejak Reva yang Terkuak, Perjuangan Melawan Kekerasan
Buku Melacak Jejak Reva yang Terkuak (DocPribadi/Christina Natalia)

Kekerasan seksual, KDRT, penyalahgunaan narkoba, pengalaman traumatis, dan lingkungan toksik, menjadi hal biasa yang bertebaran di kehidupan bermasyarakat dan keluarga. Kasus demi kasus saat ini kebanyakan menyeret perempuan dan anak-anak sebagai korban, pihak yang begitu rentan dilukai secara fisik, menyebabkan begitu kuat hukum menaunginya. Namun agaknya, pasal-pasal dalam hukum itu masih tidak cukup kuat bernaung dalam hidup dan hati pelaku kejahatan. Penjara pun tak cukup menjerakan mereka untuk mengentas diri dari perlakuan keji yang terus menerus membendung kokoh rasa manusiawinya.

Buku novelMelacak Jejak Reva yang Terkuak” mengisahkan secara pilu bagaimana perjuangan perempuan melawan masa lalu yang begitu kelam seorang diri. Bertahan hidup dengan lingkungan yang begitu keji, bersama orang-orang yang memberikannya luka setiap hari. Agnes Adhani, dengan ciri khas kejawaannya, mengemas kisah hidup Reva yang begitu sibuk mempertahankan harga diri, menyembuhkan luka-luka yang sejak muda tak pernah bisa pulih, dan menerima kehidupannya di masa kini.

Sosok yang begitu tidak berdaya dicambuk kenyataan hidup yang begitu pelik, Reva, tokoh utama dari novel ini, memberi gambaran pahit bagaimana kondisi seorang yang menjadi bagian dari penderitaan akibat kekerasan seksual. Kehidupan Reva tak ubahnya seperti peribahasa: sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Ia menghadapi berbagai masalah sejak masih berusia muda, bahkan terlalu muda untuk menerima penderitaan seberat itu.

Bermula dari kepergian ibunya yang meninggalkan keluarga mereka demi laki-laki lain, meninggalkan Reva dan ketiga adik lelakinya bersama sang ayah. Tiga tahun setelah peristiwa itu, Reva mengalami pelecehan oleh ayahnya sendiri yang tengah mabuk dan frustrasi ditinggal istrinya. Kejadian itu membuat Reva menyimpan dendam yang amat dalam pada kedua orang tua yang mengecewakannya. Sepeninggal ayahnya, Reva yang bertanggung jawab secara penuh atas kehidupan adik-adiknya. Tak cukup sampai di situ, di usia remajanya, ia kembali mengalami kekerasan seksual oleh ayah tirinya –suami baru ibunya, dan menerima tuduhan oleh ibunya sendiri sebagai penggoda lelaki itu.

Mengenaskan, Reva harus menahan semuanya sendiri. Seorang wanita yang dipaksa begitu kuat menghadapi peristiwa tak menyenangkan sepanjang hidupnya. Setelah peristiwa itu, Ibu Reva pergi dengan lelaki yang lain lagi, ia meninggalkan anak perempuan hasil zinanya kepada Reva. Beban Reva bertambah, kini ia memiliki empat orang adik sebagai tanggungannya.

Anak perempuan bernama Hera itu pun tumbuh dalam kondisi yang memprihatinkan, ia putus sekolah dan hidup dengan pergaulan yang tidak sehat. Terlibat asmara dengan lelaki yang tak jelas, pemakai dan pengedar narkoba. Mereka dinikahkan karena Hera hamil. Namun, lagi-lagi Reva harus dipaksa bersabar ketika ia mendapat perlakuan yang tak berbeda dari sebelumnya, kekerasan seksual oleh adik iparnya sendiri. Mendapat begitu banyak akar traumatis, Reva mulai mendekatkan diri kepada Tuhan, ia pergi ke biara kota lain untuk membantunya memperbaiki hidupnya. Lagi pula, keempat adiknya sudah berumah tangga, sedangkan Reva memutuskan untuk tidak menikah.

Bab-bab berikutnya mengupas satu demi satu latar belakang terjadinya peristiwa yang dialami Reva. Ibu dan adik perempuannya, Hera, mengidap hiperseks yang menyebabkan hidup mereka ada dalam pergaulan yang buruk. Pertemuan dengan Kakek –mertua Ibunya, yang mengubah hidup Reva 180 derajat dengan warisan yang diberikannya. Cobaan demi cobaan, mulai dari perilaku saudara dan tantenya yang gila oleh harta warisan kepunyaan Reva. Kebenaran yang terkuak satu per satu, seperti lembaran buku. Pengampunan yang mengaliri langkah-langkah Reva untuk masa lalunya, mengantarkan Reva menjadi pribadi yang baru.

Perjuangan yang luar biasa oleh sosok perempuan korban kekerasan seksual,  menopang kehidupan keluarga, berperang melawan hidup dan mati, menanyakan eksistensi diri dan derajatnya sendiri, hidup dalam bayang-bayang traumatis, menunjukkan pengorbanan besar untuk melawan batas yang dipatok pada dirinya sendiri. Buku ini walau berlatar agamis, layak dibaca oleh semua orang, ada banyak pesan yang ditautkan dalam setiap kisahnya. Penggambaran yang cukup mendetail oleh penulisnya, Agnes Adhani, membuat pembaca benar-benar mampu membayangkan dengan pasti apa yang dikisahkan di dalamnya.

Berhasil mengangkat isu-isu kekerasan seksual yang memang marak saat ini, membuat buku ini begitu unik. Terlepas dari status kisah fiktif, novel ini justru tampak seperti kisah nyata yang diambil dari hidup seseorang. Masalah yang datang bertubi-tubi, menyerang tokoh utama yang hampir mati karena frustrasi. Buku ini menyadarkan pembaca untuk memahami bahwa perempuan tak selemah yang diasumsikan masyarakat.

Di balik keteduhan dan kelemahlembutannya, selalu ada hal tak terduga yang diam-diam dirahasiakannya. Buku ini sekaligus mengajak para korban pelanggaran hak asasi wanita dan anak, untuk tidak menyerah menghadapi perilaku tidak menyenangkan itu. Bahkan lebihnya, buku ini cukup mengkritik aparat hukum untuk benar-benar tegas menindaklanjuti kasus kekerasan seksual, penyalahgunaan narkoba, KDRT, dan sebagainya secara cepat dan tuntas.

Jika ditelaah, Agnes menggunakan bahasa sehari-hari yang ringan dan benar-benar mampu menggambarkan secara gamblang seluruh kisah dan pesan di dalamnya. Meski beberapa alurnya tampak terlompat, beberapa tokoh yang kemunculannya seperti hantu, akhir kisah buku ini disajikan sambil berlalu. Dinyatakan seolah-olah kisahnya dibiarkan tetap hidup sampai saat ini.

Kekurangannya, penulis menggunakan banyak penyebutan merek yang tidak dianjurkan untuk karya sastra, apalagi tanpa menggunakan izin. Selain itu,  beberapa istilah dari bahasa Jawa yang menjadi ciri khas penulisnya, kebanyakan tidak disertai dengan arti. Hal itu tentu menyebabkan pembaca yang bukan penutur bahasa Jawa, sulit memahami maknanya. Jika saja menggunakan terjemahan melalui catatan kaki atau indeks buku, tentunya buku ini akan menjadi semakin lengkap.

Lebih dari itu, buku ini secara spiritual mengajak pembaca untuk tetap bersyukur dan menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Tuhan. Pengampunan adalah aspek paling penting dalam hidup damai dan sederhana. Sekaligus secara tegas memberikan suatu kesimpulan bahwa setiap pertanyaan selalu memiliki jawaban, dan setiap masalah pasti memiliki penyelesaian.

Kemustahilan yang dihapuskan dari mata Tuhan, perlu kita terima dengan sikap lapang dada. Bahwa setiap usaha tak pernah berakhir sia-sia, juga bahwa perempuan tak selemah yang kita duga. Kita diharapkan lebih peduli kepada orang-orang di sekitar kita, korban kekerasan, anak yang salah pergaulan, dampak-dampak penyalahgunaan narkoba, perlu dilawan agar tidak menjadi biasa dan dibiasakan.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak