Satu lagi film Korea yang pantang buat kamu lewatkan, apalagi kalau bukan 4PM! Film bergenre thriller dan misteri satu ini adalah buah karya sutradara Jay Song dengan Kim Hae-gon sebagai juru peramu naskah.
Oh Dal-Su, Jang Young-Nam, dan Kim Hong Pa adalah deretan pemain yang saling bersinergi menghidupkan suasana dalam film ini.
Adapun kisahnya bercerita tentang Jung In, seorang profesor yang pindah ke pedesaan bersama istrinya setelah pensiun dari pekerjaannya. Mereka menempati sebuah kediaman mewah dengan pemandangan asri yang menenangkan.
Semula mereka menemukan kedamaian di kediaman baru mereka, namun itu tidak berlangsung lama sebab tetangga misterius mereka selalu hadir bagai mimpi buruk di setiap dentang jam, pukul 4 sore.
Ulasan Film 4PM
Gokil, sih! 4PM adalah tontonan pertama bagi saya yang bawakan narasi segokil ini. Narasinya itu lho, benar-benar di luar dugaan. Bukan berarti out of the box, ya. Melainkan begitu sederhana, tanpa pengembangan yang ektrem namun sukses menancapkan kesan yang kuat.
Itu jadi semacam bukti kalau sineas yang menggarap film ini punya selera fancy dan punya cara jitu buat mengeksekusinya. Ya, sebagaimana yang sudah disinggung tadi, narasi film ini dibangun dari premis yang sederhana.
Yakni tentang kesengsaraan sepasang suami istri sewaktu berhadapan dengan seorang tetangga aneh yang terus datang bertamu tanpa henti di tiap pukul 4 sore.
Maka rentetan adegan film ini sebagian besarnya hanya berputar pada premis itu, lho. Jadi bisa dibayangkan, kalau sineasnya kurang jeli dan salah tindak dalam hal eksekusi, bisa dipastikan atmosfer yang terbangun akan sangat jauh berbeda dari ini. Alias, boring!
Untungnya, untuk hal eksekusi, sineas film ini mengusahakan yang terbaik. Alhasil, sepanjang jalan cerita, kita dibuat betah menyimak rentetan adegan yang sama dan merasakan sensasi muak darinya.
Pokoknya yang dirasakan sepasang suami istri ini di setiap kedatangan tetangganya itu akan menulari kita sehingga berasa sama muaknya dengan mereka. Intinya jiwamu bisa meronta-ronta sewaktu menyaksikannya, deh!
Tapi ya, gimana pun seriusnya film ini. Saya masih bisa mengais sisi humor di film ini. Ya, sisi humor itu saya dapati dari interaksi tokoh Jung In dengan tentangganya, dan menurut saya interaksi keduanya adalah kontradiktif yang kocak!
Bagi saya, kocak aja sih liat orang yang udah usaha maksimum merangkai topik tapi dilepeh bulat-bulat sama lawan bicaranya tanpa ampun.
Ngomongin soal visual, film ini juga juara, sih. Di awal kisah dan sebagian besar dari alurnya kita disuguhi pemandangan yang harmonis.
Latar waktu yang diambil adalah musim gugur jadi warna merah, oranye, dan cokelat akan mendominasi latar film ini, dan kombinasinya dengan set latar, hingga busana terpampang begitu harmonis, selayaknya karya seni.
Entah benar atau tidak, tapi kalau boleh dikait-kaitkan secara filosofi, musim gugur sengaja dipilih untuk memperingatkan penonton bahwa akan ada kekelaman setelah hamparan visual cantik musim gugur ini. Karena bagi sebagian tafsir, musim gugur indentik dengan kehilangan.
Emang nyambung sih, setelah disuguhi visual yang memanjakan mata, kita didesak untuk merasakan kekelaman mencekik setelahnya. Lantas kekelaman yang seperti apa sih? Bisa cari tahu sendiri dengan menyaksikan film ini, ya!
Hal yang gak kalah penting dan menjadi alasan suksesnya film ini, yakni akting para pemain. Semua pemain (yang meski jumlahnya sedikit ini) saling bersinergi meninggalkan kesan yang kuat baik untuk karakter yang dibawakan ataupun setiap adegan yang membangun cerita dan atmosfer yang tak terlupakan.
Intinya film ini menarik, gokil parah dan pantang buat kalian semua lewatkan.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS