Aku, Gadis yang Meninggalkan Dunia

Bimo Aria Fundrika | Lena Weni
Aku, Gadis yang Meninggalkan Dunia
Ilustrasi Penunggu Koridor Apartemen ( Gemini)

Sekujur badanku terasa linu. Keringat sebesar biji jagung tak henti-hentinya mengucur dari pelipis dan dahi. Tekuk terasa dingin, sementara rasa mual mengaduk-aduk isi perut. Malangnya, selagi nyawa masih dikandung badan, laporan praktikum tulis tangan harus dikumpulkan esok lusa—harus.

Artinya, aku mesti mengejar ketertinggalan. Tiga bab lagi harus kugarap di tengah mual dan linu yang telah menyiksaku selama sepekan ini.

Pertengahan pukul dua siang ini, belum sampai seperempat bab kukerjakan. Sementara itu, sisa bab lainnya jauh lebih rumit karena sumber literasi yang terbatas dan jumlah gambar referensi yang mesti dilampirkan pun tak sedikit—aku pesimis mampu merampungkannya di tengah kondisiku yang begini.

Kupikir, masa iya aku harus mengulang praktikum tahun depan hanya gara-gara laporan. Karena itulah, aku butuh jalan pintas.

Aku butuh arsip—laporan kating yang formatnya sama persis dari tahun ke tahun. Kalau kudapat minimal dua arsip, darinya bisa kuramu sajian literasi yang baik tanpa perlu mengobrak-abrik e-jurnal di internet. Efisien waktu dan tenaga, meskipun salah.

Setelah kudapat dua arsip, kusadari kedua laporan kating itu terlalu banyak kemiripan. Nampaknya mereka penganut paham yang sama—pejuang arsip.

Jelas, aku butuh arsip yang lain lagi agar ramuan laporanku nanti tampak sedikit lebih otentik.

Aku mengabsen wajah kating yang kukenal dan akhirnya teringat Bang Bimo, katingku bertubuh jangkung, tampan, dan dikenal idealis dalam mengerjakan laporan.

Pertanyaannya, sosok seidealis itu akankah rela menyerahkan laporan yang ia tulis dengan sepenuh jiwa?

Kalau terus menebak-nebak tanpa eksekusi, waktuku makin habis. Urusan sungkan, nanti dululah. Ketuk dulu pintu kosnya. Siapa tahu, setelah melihat wajah pucatku, terketuklah pintu hati Bang Bimo dan terbitlah rasa iba.

Dengan langkah yang terasa melayang-layang, kuturuni tangga samping rusunawa tempat kutinggal. Setelah menempuh sekian jarak, kuketuk pintu kos Bang Bimo. Kuseru namanya hingga pintu itu terbuka dan wajah tampan itu menyembul, mencuci mataku.

Kusampaikan niatku, dan ternyata reaksinya nihil. Ia tak berkata apa-apa, bahkan tak memandang. Beberapa saat kemudian, pintu kos yang tadi kuketuk ia tutup dari dalam. Alamak, baru kutahu sosok tampan, pintar, populer, dan terkenal ramah di kampus seperti dia bisa sesadis ini.

Aku pun berbalik badan. Mau tak mau, aku harus pulang dengan tangan kosong. Namun, belum begitu jauh aku dari lingkungan kos Bang Bimo, kudengar derit pintu terbuka. Aku refleks berbalik.

Mungkinkah Bang Bimo berubah pikiran? Ternyata, ia tengah menyerahkan laporan yang kuharapkan kepada teman sekelasku, Muti.

Rasanya ingin mengutuk. Namun, sudahlah. Laporan itu kini ada di tangan Muti yang notabene cukup dekat denganku. Aku bisa nanti meminta “spill” banyak-banyak.

Setelah keduanya selesai melakukan seremoni serah terima itu, Muti langsung berbalik badan lalu melesat dengan motornya. Ya, aku tidak disapa. Mungkin karena aku tak terlihat oleh Muti. Kalau memang begitu, mustahil ia tidak menyapa. Alhasil, destinasi orang demam ini selanjutnya adalah apartemen kampus, tempat tinggal Muti.

Sesampainya di apartemen, kulihat langit sudah sangat gelap, padahal waktu baru menunjukkan pukul tiga sore. Apa karena hendak hujan?

Namun, kok tak berangin sama sekali. Ganjil. Atau mungkin fenomena alam? Entahlah dan tak penting, sebab tujuanku sekarang adalah ke unit Muti untuk memotret arsip yang ia pinjam.

Sesampainya di koridor lantai tiga, kulihat seorang perempuan mengenakan pakaian yang tak lazim di ruang publik, yakni gaun tidur putih transparan selutut. Rambut panjangnya tergerai. Ia duduk di pertigaan koridor dekat unit Muti.

Aku refleks tersenyum saat mata kami beradu pandang. Senyum gadis itu mengembang, namun semakin lama kupandangi wajah asing itu, entah mengapa terasa semakin ganjil.

Meski pertemuan itu diiringi suasana ganjil, aku terus mengikis jarak. Bukan karena mau, melainkan karena unit Muti berada tepat di sebelah tempat gadis itu duduk. Namun, entah mengapa, makin dekat ke arahnya, langkahku terasa makin berat.

Bukan karena sungkan, tetapi karena benar-benar berat, seperti berjalan di kubangan lumpur. Naluriku mencium sesuatu yang tak beres. Namun aku berusaha bersikap netral, seolah tak merasakan keganjilan apa pun.

Langkahku terhenti saat gadis itu tiba-tiba berdiri sambil menunjuk ke arah jendela besar di sampingku. Aku mengerti, ia memberi isyarat agar aku melihat ke luar. Tapi untuk apa? Rasa sungkan pun muncul dan akhirnya aku menuruti isyarat itu.

Awalnya, aku tak melihat apa-apa. Namun, saat kuperhatikan gedung rusunawa tempatku tinggal, tampak sesosok perempuan terlungkup bersimbah darah di lantai. Aku gemetar hebat. Kuperhatikan pakaian perempuan itu—semua yang ia kenakan persis seperti yang sekarang kupakai.

Mungkinkah aku sudah mati? Mungkinkah aku terjatuh dari lantai lima saat menuruni tangga samping rusunawa?

“Itu aku?” tanyaku pada gadis itu.

Alih-alih menjawab, perempuan itu kembali duduk sambil menyisir rambutnya yang mendadak menjadi terlalu panjang.

Dan barulah kusadari, yang memberatkan langkahku tadi tak lain dan tak bukan adalah tumpukan rambut gadis itu yang memenuhi lantai koridor.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak