Di tengah geliat perfilman Indonesia yang kian berani menggali khazanah budaya dengan sentuhan kekinian, Legenda Kelam Malin Kundang hadir sebagai adaptasi ulang yang cerdas dan memukau dari salah satu legenda rakyat paling terkenal di Tanah Air.
Disutradarai oleh duo talenta muda, Rafki Hidayat dan Kevin Rahardjo, film ini diproduksi oleh Come and See Pictures di bawah naungan Joko Anwar dan Tia Hasibuan, yang dikenal dengan karya-karya thriller berkualitas.
Tayang perdana di bioskop Indonesia mulai 27 November 2025, film berdurasi 99 menit ini adalah sebuah drama misteri psikologis yang menggali luka trauma antargenerasi dengan kedalaman emosional yang jarang ditemui di layar lebar lokal.
Sinopsis: Ketika Batu di Pantai Padang Mulai Berbisik Kembali
Cerita Malin Kundang, yang berasal dari folklor Minangkabau di Sumatera Barat, telah lama menjadi alegori abadi tentang anak durhaka dan kutukan ilahi. Seorang anak merantau, sukses, lalu menolak ibunya yang miskin hingga dikutuk menjadi batu. Namun, Joko Anwar, sebagai penulis skenario bersama Aline Djayasukmana, membalikkan narasi ini menjadi sesuatu yang lebih intim dan relevan.

Protagonis utama adalah Alif (diperankan dengan apik oleh Rio Dewanto), seorang seniman micro-painting kelas dunia yang perfeksionis dan teliti hingga obsesif. Alif baru saja pulih dari kecelakaan tragis yang merenggut sebagian ingatannya. Ia hidup bahagia di Jakarta bersama istrinya, Luna (Faradina Mufti), dan putranya yang berusia 10 tahun, Emir (Jordan Omar). Kehidupan mereka tampak sempurna: karier Alif sedang melejit, rumah tangga harmonis, dan masa depan cerah.
Semua berubah ketika seorang perempuan tua bernama Amak (Vonny Anggraini) muncul di depan pintu rumah mereka. Dengan aksen Minang yang kental dan mata penuh kerinduan, Amak mengaku sebagai ibu Alif yang ditinggalkan 18 tahun lalu saat Alif berusia 14 tahun dan merantau ke kota. Alif, yang tak mengenali wajah tuanya yang keriput dan penuh bekas luka hidup, merasa curiga.
Mengapa Amak datang sekarang? Apa motif tersembunyi di balik ceritanya yang penuh nostalgia? Saat Alif mulai menggali masa lalunya melalui lukisan-lukisannya yang penuh simbolisme, seperti miniatur batu karang yang mirip legenda Malin, rahasia kelam mulai terkuak. Trauma masa kecil, pengkhianatan keluarga, dan kutukan yang bukan dari Tuhan, melainkan dari luka manusiawi, menjadi benang merah yang menjerat Alif dalam pusaran kegilaan.
Secara naratif, film ini unggul dalam membangun ketegangan secara bertahap. Ini adalah thriller psikologis yang mengandalkan dialog tajam dan close-up wajah karakter untuk menyampaikan horor internal, bukan horor jump-scare ala hantu lokal. Skenario Joko Anwar brilian dalam memadukan elemen supernatural dari legenda dengan realisme psikologis: kutukan Malin bukan lagi literal menjadi batu, tetapi metafora untuk pembekuan emosi, di mana trauma masa lalu membekukan hubungan manusia.
Adegan klimaks di Pantai Padang, di mana Alif menghadapi "batu" masa lalunya, adalah puncak emosional yang membuat penonton terpaku, mengingatkan pada twist The Sixth Sense tetapi dengan rasa Nusantara yang kuat. Durasi 99 menit terasa pas, tanpa bertele-tele, meski beberapa subplot tentang karier Alif terasa sedikit kurang dieksplorasi.

Ulasan Film Legenda Kelam Malin Kundang
Kehebatan para aktor menjadi pilar utama yang membuat film ini begitu hidup dan meyakinkan. Rio Dewanto tampil semakin dewasa dan memikat sebagai Alif; ia mampu berpindah dari sosok perfeksionis yang dingin dan terkendali menjadi lelaki rapuh yang tersesat di labirin identitasnya sendiri. Sorot matanya yang ragu-ragu saat bertatap muka dengan Amak menjadi salah satu momen akting paling menggetarkan sepanjang tahun ini.
Faradina Mufti menghadirkan Luna dengan penuh kepekaan; karakternya bukan sekadar pendamping, melainkan pemicu yang memaksa Alif menatap langsung kegelapan dalam dirinya. Sementara itu, Vonny Anggraini benar-benar mencuri panggung lewat peran Amak, sebuah karakter yang memadukan kerapuhan dan ketegaran dengan begitu alami. Suara seraknya yang penuh luka saat mengenang “kampung yang ditinggal” berhasil membangkitkan rasa haru sekaligus kengerian dalam satu tarikan napas. Para pemeran pendukung seperti Nova Eliza dan Gambit Saifullah turut memperkaya lapisan emosi cerita, meskipun peran Tony Merle sebagai antagonis tambahan terasa sedikit klise dan kurang mengejutkan.
Dari sisi teknis, Legenda Kelam Malin Kundang benar-benar memanjakan mata dan telinga. Sinematografi dan gaya visualnya yang kental dengan nuansa Joko Anwar menghadirkan kontras memukau: gemerlap neon dan hiruk pikuk Jakarta yang dingin berhadapan dengan kegelapan lembap serta aroma tanah basah khas Padang. Setiap frame terasa hidup, seolah kita ikut menghirup udara laut yang asin. Lukisan mikro karya Alif menjadi elemen visual yang jenius; retakan halus pada kanvas, bayangan karang yang samar, hingga goresan kuas yang tak sengaja, semuanya menjadi metafora cerdas untuk ingatan yang retak dan trauma yang perlahan menganga.
Sound design-nya luar biasa mencekam—gemuruh ombak Pantai Padang yang datang dan pergi bercampur dengan bisikan berbahasa Minang yang samar, seolah masa lalu benar-benar merayap mendekat. Atmosfer yang menghantui itu semakin kuat berkat penyuntingan lincah dari duet Rafki Hidayat dan Kevin Rahardjo; transisi antara masa kini dan flashback mengalir begitu mulus, sampai penonton ikut merasakan disorientasi dan kehilangan pegangan yang dialami Alif.
Satu-satunya cela kecil adalah beberapa efek CGI pada unsur supranatural yang masih terlihat agak kasar dan kurang terpoles. Namun, kekurangan itu terasa sepele dan sama sekali tidak merusak pengalaman imersif yang sudah dibangun dengan sangat apik selama 99 menit.
Film ini relevan di era sekarang, di mana migrasi ke kota dan melupakan akar menjadi isu sosial. Ia mengkritik "sukses" modern yang sering mengorbankan ikatan keluarga, tetapi tanpa moralisasi berlebih. Sebagai adaptasi cerita rakyat, film ini berhasil menghindari jebakan klise horor Indonesia—tidak ada hantu berpakaian putih atau ritual murahan—dan malah menawarkan narasi manusiawi yang mendalam. Dibandingkan film Joko Anwar sebelumnya, ini lebih introspektif daripada Pengabdi Setan, tetapi sama-sama meninggalkan bekas.
Secara keseluruhan, Legenda Kelam Malin Kundang adalah karya ambisius yang layak ditonton di bioskop besar untuk merasakan getarannya. Film ini adalah cermin bagi kita yang pernah "merantau" dan lupa pulang. Dengan tiket mulai Rp50.000 di XXI atau CGV, segera tonton mulai 27 November 2025—sebelum "kutukan" amnesia budaya kita semakin dalam.
Rating: 9/10