Sejarah kolonial Belanda di Indonesia adalah periode yang membentuk banyak aspek kehidupan bangsa, dari sosial, ekonomi, hingga politik.
Lebih dari 350 tahun penjajahan meninggalkan jejak mendalam, termasuk eksploitasi sumber daya, penindasan, dan perlawanan yang sengit dari penduduk pribumi.
Novel sejarah menjadi medium yang efektif untuk memahami dan merasakan atmosfer masa lampau, memungkinkan pembaca untuk menyelami pengalaman karakter di tengah konteks kolonial yang kompleks, tidak hanya menyajikan fakta, tetapi juga emosi, perjuangan, dan dinamika hubungan antarmanusia di era tersebut.
Berikut adalah lima rekomendasi novel yang berlatar kolonialisme Belanda di Indonesia yang dapat menambah khazanah pengetahuan tentang sejarah di era tersebut.
1. Rahasia Salinem oleh Wisnu Suryaning Adji

Rahasia Salinem adalah novel yang bercerita tentang Tyo yang berusaha mengungkap kehidupan neneknya, Salinem, setelah kematiannya.
Meskipun dari sinopsis novel tidak secara langsung menyebutkan latar kolonial Belanda, konteks "keluarga bangsawan" yang dikaitkan dengan Salinem dan misteri yang menggoyahkan keutuhan keluarga keturunan bangsawan dengan peran penting seorang jelata berpotensi kuat mengindikasikan intrik sosial yang lazim terjadi di masa kolonial.
Seringkali, sejarah keluarga bangsawan di Indonesia terhubung erat dengan relasi kekuasaan dan dinamika sosial yang terbentuk selama pendudukan Belanda.
Novel ini banyak mengeksplorasi sejarah pribadi yang kemungkinan besar bersinggungan dengan era kolonial melalui warisan dan rahasia keluarga.
2. Lebih Putih Dariku oleh Dido Michielsen

Novel Lebih Putih Dariku karya Dido Michielsen mengisahkan perjuangan perempuan di Hindia Belanda pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
Tokoh utamanya, Isah, adalah seorang anak di luar nikah yang menghadapi ketidakadilan dan memberontak dengan menjadi nyai seorang perwira Belanda.
Status ini justru membawanya pada eksploitasi dan kekerasan. Novel ini secara gamblang menggambarkan realitas sosial dan ketidakadilan yang dialami perempuan pribumi, khususnya nyai, dalam sistem kolonial yang rasis dan patriarkis.
Ini adalah salah satu novel yang secara terbuka mengangkat sejarah tabu, membawa pembaca kembali ke masa lalu dan memperlihatkan kekuatan serta ketahanan perempuan di tengah penderitaan.
3. Ca-Bau-Kan: Hanya Sebuah Dosa oleh Remy Sylado

Ca-Bau-Kan: Hanya Sebuah Dosa karya Remy Sylado adalah novel yang berlatar belakang kolonial Belanda, mengisahkan kisah cinta antara Tinung, seorang ca-bau-kan Betawi, dan Tan Peng Liang, seorang pengusaha Peranakan Tionghoa.
Cerita ini dinarasikan oleh Nyonya Dijkhoff (Geraldine), yang kembali ke Indonesia untuk menelusuri asal-usul ibunya, Tinung, yang hidup di zaman kolonial.
Novel ini menggambarkan berbagai rintangan akibat perbedaan etnis dan status sosial, serta peristiwa sejarah penting seperti kedatangan Jepang dan perang kemerdekaan, yang semuanya berakar pada era kolonial.
Novel ini mennggambarkan potret masyarakat Batavia, Semarang, dan Thailand pada tahun 1930-an hingga 1950-an, dengan tokoh sentral dari kalangan Tionghoa yang hidup di bawah bayang-bayang penjajahan.
4. Pangeran dari Timur oleh Iksaka Banu

Pangeran dari Timur adalah novel fiksi sejarah karya kolaborasi Iksaka Banu dan Kurnia Effendi yang berfokus pada kehidupan pelukis legendaris Raden Saleh di masa kolonial.
Novel ini membahas perjalanan Raden Saleh yang dikirim ke Belanda, kejeniusannya yang diakui di Eropa, namun tetap menyimpan "panggilan darah sebagai bangsa Jawa".
Ditulis berdasarkan riset mendalam selama dua puluh tahun, novel setebal 604 halaman ini tidak hanya memotret Raden Saleh tetapi juga dinamika seni, budaya, dan politik di Hindia Belanda.
Novel ini memiliki nuansa sejarah yang kuat, menunjukkan bagaimana Raden Saleh menyelipkan kode-kode nasionalisme dalam lukisannya, dan menguraikan kisah dari berbagai sudut pandang, termasuk dari orang Belanda, tanpa memandang sejarah secara hitam putih.
5. Bumi Manusia oleh Pramoedya Ananta Toer

Novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer adalah bagian pertama dari Tetralogi Buru yang secara luas dianggap sebagai salah satu mahakarya sastra Indonesia.
Novel ini mengisahkan kehidupan Minke, seorang pemuda Jawa yang cerdas dan kritis yang belajar di sekolah Belanda pada era kolonial Hindia Belanda.
Melalui perjuangan Minke dan kisah cintanya dengan Annelies, novel ini secara tajam mengkritik sistem kolonial, ketidaksetaraan rasial, dan menyoroti perjuangan melawan penjajahan serta hak asasi manusia.
Pramoedya berhasil menggambarkan kompleksitas masyarakat kolonial dan penderitaan pribumi dengan gaya bahasa yang mendalam, mencerminkan penindasan dan perjuangan yang dialami masyarakat pada masa itu, serta relevansi isu identitas dan keadilan hingga kini.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS