Review Film Dusun Mayit: Menghadirkan Ketegangan Teror yang Mencekam!

Hayuning Ratri Hapsari | Ryan Farizzal
Review Film Dusun Mayit: Menghadirkan Ketegangan Teror yang Mencekam!
Poster film Dusun Mayit (IMDb)

Film Dusun Mayit, yang juga dikenal sebagai Village of the Dead, adalah sebuah karya horor Indonesia yang tayang perdana di bioskop seluruh Indonesia pada 31 Desember 2025. Diproduksi oleh Hitmaker Studios dan disutradarai oleh Rizal Mantovani, film ini menjadi sorotan akhir tahun dengan tema pendakian yang berubah menjadi mimpi buruk supernatural.

Tayang di jaringan bioskop seperti Cinema XXI, CGV, Cinepolis, dan lainnya, Dusun Mayit menjanjikan pengalaman mencekam bagi penggemar genre horor, terutama yang menyukai elemen mistis lokal Jawa.

Dengan tiket yang bisa dipesan melalui aplikasi seperti TIX ID atau situs resmi bioskop. Film ini memiliki durasi sekitar 95 menit, rating dewasa (D17+), dan telah memicu buzz di media sosial sejak trailer pertamanya dirilis pada November 2025.

Mahasiswa Tersesat di Dusun Mayit yang Gaib dan Berhantu

Salah satu adegan di film Dusun Mayit (Instagram/film.dusunmayit)
Salah satu adegan di film Dusun Mayit (Instagram/film.dusunmayit)

Sinopsis film ini berpusat pada empat mahasiswa pencinta alam: Aryo (diperankan oleh Fahad Haydra), Nita (Ersya Aurelia), Raka (Randy Martin), dan Yuni (Amanda Manopo). Mereka memutuskan mendaki Gunung Welirang setelah ujian akhir semester, awalnya penuh tawa dan semangat petualangan.

Namun, segalanya berubah ketika mereka tersesat di pasar kaki gunung yang konon merupakan gerbang interdimensional.

Mereka terjebak di sebuah desa misterius bernama Dusun Mayit, di mana realitas bergeser menjadi aneh: kuburan tanpa batu nisan, sosok botak yang tersenyum lebar, boneka yang bergerak tanpa dalang, dan warga desa yang haus akan jiwa sebagai korban.

Setelah Nita jatuh ke danau dan menemukan sesajen aneh, perilakunya berubah drastis, memicu serangkaian teror yang mengancam nyawa mereka. Cerita ini terinspirasi dari thread Twitter (X) JeroPoint yang populer tentang mitos gunung Jawa, memadukan elemen horor psikologis, supernatural, dan survival.

Dari segi penyutradaraan, Rizal Mantovani, yang dikenal lewat film-film seperti Sumala dan Kereta Berdarah, berhasil menciptakan atmosfer mencekam dengan latar Gunung Welirang yang autentik. Lokasi syuting di Malang, Jawa Timur, menambahkan nuansa alam asli yang dingin dan gelap, membuatku merasakan ketegangan sejak awal penayangan.

Penggunaan sinematografi yang gelap, dengan angle kamera yang sering dari perspektif rendah untuk menekankan rasa terjebak, sangat efektif. Efek visual, meski tidak sebesar Hollywood, cukup meyakinkan untuk elemen supernatural seperti hantu dan ilusi interdimensional.

Sound design-nya patut aku diacungi jempol sih; suara angin gunung, bisikan misterius, dan musik latar etnis Jawa yang minimalis membangun suspense tanpa mengandalkan jump scare berlebihan.

Akan tetapi, beberapa adegan terasa agak lambat di paruh pertama, mungkin untuk membangun karakter, sampai-sampai membuatku dan penonton yang lain tidak sabar menunggu kelanjutan ceritanya.

Review Film Dusun Mayit

Salah satu adegan di film Dusun Mayit (Instagram/film.dusunmayit)
Salah satu adegan di film Dusun Mayit (Instagram/film.dusunmayit)

Amanda Manopo sebagai Yuni menunjukkan kedalaman emosi yang luar biasa, beralih dari gadis ceria menjadi korban trauma dengan natural.

Chemistry-nya dengan Randy Martin sebagai Raka, pacar Nita, terasa autentik, menambahkan lapisan romansa yang membuat cerita lebih relatable.

Ersya Aurelia sebagai Nita berhasil menyampaikan transformasi misterius pasca-insiden danau, dengan ekspresi wajah yang haunting.

Fahad Haydra sebagai Aryo, pemimpin kelompok, memberikan performa solid sebagai sosok rasional yang perlahan kehilangan kendali.

Ensemble cast ini saling melengkapi, meski dialog kadang terdengar klise seperti "Ini pasti mimpi!" atau "Kita harus keluar dari sini!". Para pemeran pendukung, termasuk warga desa yang creepy, menambah nuansa horor folklor tanpa overacting.

Secara tema, Dusun Mayit mengeksplorasi mitos lokal tentang desa gaib dan konsekuensi mengganggu alam spiritual. Ini bukan sekadar horor murahan; ada pesan tentang kesombongan manusia terhadap alam dan tradisi, yang relevan di era pendakian massal.

Elemen psikologisnya mengingatkan pada The Blair Witch Project, di mana ketakutan datang dari ketidakpastian daripada gore. Kelebihannya adalah orisinalitas cerita yang rooted di budaya Indonesia, membuatnya segar dibandingkan horor impor.

Eits untuk, kekurangannya menurutku terletak pada plot twist yang sudah bisa ditebak bagi penggemar genre, serta ending yang ambigu—mungkin disengaja untuk sekuel, tapi bisa mengecewakan yang suka resolusi jelas. Produksi juga terasa low-budget di beberapa efek CGI, seperti kabut supernatural yang kurang mulus.

Jadi bisa kusimpulkan, Dusun Mayit adalah tambahan solid untuk sinema horor Indonesia 2025, dengan rating pribadi 7.5/10. Ini cocok untuk malam tahun baru yang ingin diisi ketegangan, terutama bagi yang suka cerita berbasis mitos gunung.

Kalau kamu penggemar Amanda Manopo atau horor lokal, jangan lewatkan ya. Film ini membuktikan bahwa horor Indonesia bisa bersaing dengan narasi yang mendalam, meski masih perlu polesan di pacing.

Dengan tiket mulai Rp40.000-Rp60.000 tergantung bioskop dan kota ini layak ditonton bersama teman—tapi siapkan mental untuk mimpi buruk pasca-nonton ya Sobat Yoursay!

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak