Abraham yang Paham Gagal

M. Reza Sulaiman | Ryan Farizzal
Abraham yang Paham Gagal
Ilustrasi gambar dari cerpen Abraham yang Paham Gagal (Gemini AI/Nano Banana)

"Gagal lagi, Pak? Kamu ini memang ahlinya membuat rencana yang indah, tetapi runtuh sebelum siang," kata Abraham sambil menyodorkan secangkir kopi hitam pekat kepada pria muda di depannya.

Budi menerima gelas itu dengan tangan gemetar. Di belakang mereka, Jalan Sudirman menggeram seperti binatang yang tidak pernah tidur. Klakson bersahutan, lampu merah memantul di genangan air hujan sore tadi, dan gedung-gedung kaca menjulang seperti gigi yang tidak pernah puas menggigit langit Jakarta.

"Situs rintisan (startup) saya mati, Pak. Investor mundur, tim bubar. Saya bahkan tidak punya uang untuk membayar ojek online pulang," gumam Budi, suaranya hampir hilang di antara deru busway.

Abraham tersenyum. Keriput di wajahnya seperti peta kota lama yang sudah lusuh, penuh tikungan gagal dan jalan buntu yang akhirnya menjadi jalur alternatif. Dia duduk di bangku kayu warung kopi reyot yang tidak pernah tutup ini sejak dua puluh tahun lalu. Rambutnya putih acak-acakan, kemejanya lusuh, dan sepatunya sudah bolong di ujung. Namun, matanya jernih, seperti orang yang sudah bosan menang.

"Kamu masih muda, Budi. Masih takut gagal. Itu normal. Namun aku? Aku sudah paham gagal seperti paham napas sendiri."

Budi mendengus. "Gampang mengatakannya. Bapak kan hanya pedagang koran pinggir jalan."

Abraham tertawa pelan. "Dulu aku arsitek, Nak. Desain gedung tertinggi di kota ini pernah lewat tanganku. Namanya Proyek Mahakarya. Katanya akan menjadi simbol kebangkitan Indonesia. Namun, fondasinya retak karena korupsi tender. Lantai tiga puluh ambruk saat uji beban. Delapan pekerja meninggal. Aku dipenjara enam bulan. Keluargaku pergi, rumah disita. Semua hilang dalam satu malam."

Ia menyesap kopinya. "Dan itu baru kegagalan pertama."

Budi menatapnya tidak percaya. "Lalu Bapak menyerah?"

"Menyerah? Tidak. Aku justru mulai mengumpulkan kegagalan orang lain."

Abraham berdiri, memberi isyarat agar Budi ikut. Mereka berjalan menyusuri trotoar yang basah. Lampu warung makan kaki lima berkedip-kedip. Bau gorengan dan knalpot bercampur menjadi satu.

"Lihat itu," kata Abraham sambil menunjuk sebuah gedung perkantoran yang separuh gelap. "Dulu kantor fintech terbesar. Bangkrut tahun lalu. Ribuan karyawan di-PHK. Sekarang menjadi sarang startup baru yang sedang bermimpi. Kegagalan mereka menjadi pupuk untuk yang berikutnya."

Mereka terus berjalan, melewati jalan bawah tanah (underpass) yang dulu banjir setiap musim hujan. Kini sudah ada pompa baru, tetapi pompa itu juga pernah rusak total di minggu pertama. Abraham bercerita panjang lebar tentang proyek monorel yang tidak pernah selesai, mal mewah yang sepi pengunjung, restoran rooftop yang tutup karena pandemi, bahkan taman kota yang tanamannya mati karena salah jenis bibit.

"Setiap kali kota ini hampir mati, kegagalan menyelamatkannya," ujar Abraham. "Kalau semua langsung sukses, kota ini akan kaku dan mati. Seperti patung marmer yang cantik, tetapi tidak bernyawa. Gagal itu denyut nadinya."

Budi berhenti di depan sebuah bangunan tua yang sedang direnovasi. "Namun saya lelah, Pak. Tiap kali bangun, besoknya sudah roboh lagi."

Abraham meletakkan tangan di bahu Budi. "Karena kamu masih berusaha menjadi pemenang. Coba jadi orang yang paham kalah. Aku dulu sama seperti kamu, ingin namaku diabadikan di puncak gedung. Sekarang namaku tidak ada di mana-mana. Namun, aku bebas. Aku bisa duduk di sini setiap hari, mengopi, mengobrol dengan orang-orang yang baru saja jatuh. Dan anehnya, mereka semua pulang dengan perasaan sedikit lebih ringan."

Malam semakin larut. Hujan mulai turun lagi, tipis-tipis. Lampu-lampu mobil membentuk sungai cahaya yang lambat di bawah jalan layang (flyover). Tiba-tiba Abraham berhenti di depan sebuah plang kecil yang hampir tidak terbaca: "Galeri Kegagalan: Tutup Selamanya."

"Ini tempatku dulu," katanya pelan. "Aku memajang gambar-gambar desain yang gagal, blueprint yang robek, foto runtuhnya gedung. Orang-orang datang untuk menertawakan. Namun, lama-kelamaan mereka datang untuk menangis. Lalu mereka pulang dan mencoba lagi. Galeri ini bangkrut juga, tentu saja. Namun sebelum tutup, ia sudah menyelamatkan ratusan orang dari tindakan bunuh diri."

Budi terdiam lama. "Lalu sekarang Bapak sedang apa?"

Abraham tersenyum lebar. "Aku jadi penjaga kegagalan kota ini. Tiap kali ada orang seperti kamu yang mau menyerah, aku muncul. Kadang di warung kopi, kadang di halte bus, kadang di mimpi mereka. Aku tidak pernah mati, Budi. Karena kegagalan tidak pernah mati."

Angin malam menerpa wajah mereka. Budi merasakan sesuatu yang aneh, seperti beban di dadanya perlahan bergeser; bukan hilang, melainkan berubah bentuk menjadi sesuatu yang lebih ringan dan lebih jujur.

"Besok saya harus mulai dari nol lagi," gumam Budi.

"Bagus," jawab Abraham. "Mulai dari nol adalah tempat terbaik. Karena nol itu luas, banyak ruang untuk jatuh berkali-kali."

Mereka berpisah di depan lampu merah yang sudah hijau. Budi menoleh untuk terakhir kali. Abraham masih berdiri di sana, tangannya melambai pelan, siluetnya menyatu dengan bayangan gedung-gedung yang tidak pernah selesai dibangun.

Keesokan harinya, Budi membuka laptop di kamar kosnya yang sempit. Ia menulis nama perusahaan baru di dokumen kosong: "Gagal Studio". Ia tersenyum sendiri.

Di sudut kota yang sama, Abraham duduk kembali di warung kopi reyotnya. Seorang perempuan muda baru saja duduk di sebelahnya dengan mata sembap.

"Maaf, Mbak," kata Abraham lembut. "Kamu terlihat seperti orang yang baru saja kehilangan segalanya."

Perempuan itu mengangkat wajahnya. Dan Abraham tersenyum lagi, seperti biasa. Karena di kota ini, kegagalan tidak pernah kehabisan pelanggan.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak