Film The 400 Blows (judul asli Les Quatre Cents Coups) adalah karya debut sutradara François Truffaut yang dirilis pada 1959. Sebagai salah satu film pembuka gerakan French New Wave, film ini menawarkan potret mendalam tentang masa remaja yang penuh gejolak.
Berdurasi 96 menit, film hitam-putih ini berfokus pada Antoine Doinel, seorang bocah laki-laki berusia 12 tahun di Paris yang menghadapi berbagai konflik di rumah dan sekolah. Truffaut, yang juga menulis skenario bersama Marcel Moussy, menarik inspirasi dari pengalaman pribadinya sendiri, membuat cerita ini terasa autobiografis dan autentik.
Hidup Antoine Doinel: Antara Kebebasan dan Penjara Tak Kasat Mata

Plot film mengikuti kehidupan Antoine (diperankan oleh Jean-Pierre Léaud), seorang anak yang kerap diabaikan oleh orang tuanya. Ibunya (Claire Maurier) sibuk dengan perselingkuhan rahasia, sementara ayah tirinya (Albert Rémy) kurang memberikan perhatian.
Di sekolah, Antoine dicap sebagai pembuat onar oleh guru-gurunya yang otoriter. Ia sering bolos sekolah, berbohong, mencuri, dan kabur dari rumah demi mencari kebebasan. Puncaknya, setelah serangkaian kesalahan kecil yang menumpuk, Antoine ditangkap dan dikirim ke pusat penahanan remaja.
Film ini berakhir dengan adegan ikonik ketika Antoine berlari menuju pantai dan menatap lautan luas—sebuah simbol kebebasan yang ambigu, sekaligus memuat harapan dan keputusasaan. Tidak ada alur cerita yang rumit; Truffaut memilih pendekatan realis dengan menggambarkan kehidupan sehari-hari secara jujur, tanpa dramatisasi berlebihan.
Tema utama The 400 Blows adalah pemberontakan terhadap otoritas dan pencarian identitas di masa kanak-kanak yang penuh tekanan. Film ini mengkritik sistem pendidikan Prancis pascaperang Dunia II yang kaku dan minim empati, serta dinamika keluarga yang disfungsional.
Antoine merepresentasikan generasi muda yang terpinggirkan. Istilah 400 blows merujuk pada idiom Prancis yang berarti “membuat masalah” atau “menghadapi kerasnya hidup”. Truffaut mengeksplorasi bagaimana lingkungan membentuk karakter anak tanpa sikap menghakimi.
Sebagaimana ditulis Roger Ebert dalam ulasannya, film ini merupakan “salah satu cerita paling menyentuh tentang remaja muda yang pernah dibuat”, karena berhasil memadukan kesedihan, humor, dan kegembiraan masa remaja secara sederhana.
Unsur autobiografis Truffaut tampak jelas: ia tumbuh di lingkungan Pigalle yang keras, pernah ditahan sebagai remaja, dan diselamatkan oleh kritikus film André Bazin, yang kemudian menjadi sosok penting dalam hidupnya dan kepada siapa film ini didedikasikan.
Review Film The 400 Blows

Akting Jean-Pierre Léaud sebagai Antoine menjadi sorotan utama. Pada usia 14 tahun, Léaud menampilkan performa yang alami dan ekspresif, berhasil menangkap perpaduan sifat nakal, rentan, dan penuh semangat. Truffaut memilihnya setelah mengaudisi ratusan anak, dan chemistry keduanya menciptakan ikatan yang terasa autentik di layar.
Léaud kemudian melanjutkan peran Antoine dalam empat film lanjutan karya Truffaut, salah satunya Stolen Kisses (1968). Para pemeran pendukung, termasuk Claire Maurier sebagai ibu yang egois, turut menambah kedalaman karakter tanpa jatuh pada karikatur.
Sinematografi Henri Decaë memanfaatkan teknik khas French New Wave, seperti pengambilan gambar panjang, lokasi nyata di Paris, serta kamera genggam untuk menghadirkan kesan kebebasan dan realisme. Musik ringan karya Jean Constantin berkontras dengan nada cerita yang gelap, sehingga memperkaya nuansa emosional film.
Sebagai bagian dari gerakan French New Wave, The 400 Blows merevolusi sinema dengan menolak formula Hollywood yang mapan. Truffaut, mantan kritikus Cahiers du Cinéma, menegaskan gagasan auteur theory, yakni sutradara sebagai pencipta utama karya film. Film ini memenangkan penghargaan Sutradara Terbaik di Festival Film Cannes 1959 dan meraih nominasi Oscar untuk Skenario Orisinal Terbaik. Pengaruhnya sangat luas, menginspirasi sineas seperti Martin Scorsese dan Wes Anderson.
Kritikus dari The Criterion Collection menyebut film ini sebagai “cerita tentang kebangkitan seksual dan emosional”, di mana Antoine mencari cinta dan kebebasan di tengah penindasan. Bagi saya, film ini merupakan observasi yang jujur tentang masa remaja tanpa balutan nostalgia murahan. Ditambah lagi, debutnya yang mengesankan menciptakan sensasi besar di Cannes.
Meski sarat elemen kesedihan, film ini tidak sepenuhnya tragis. Ada momen-momen ringan dan jenaka, seperti ketika Antoine dan temannya menonton film atau bermain di taman hiburan. Truffaut mampu menangkap kegembiraan masa kanak-kanak di tengah kesulitan hidup, sehingga penonton terdorong untuk berempati.
Adegan freeze-frame ikonik di akhir—Antoine menatap langsung ke kamera—mengundang refleksi mendalam: seperti apa masa depan anak seperti dirinya? Pertanyaan inilah yang membuat film ini bersifat lintas zaman dan tetap relevan hingga kini, terutama dalam diskusi mengenai kesejahteraan anak dan reformasi pendidikan.
Di Indonesia, The 400 Blows tayang kembali di layar lebar mulai 10 Januari 2026 melalui program re-release khusus KLIKFILM MATINEE.
Film ini dapat disaksikan di sejumlah jaringan bioskop seperti CGV, Cinepolis, dan Cinema XXI di berbagai kota, termasuk Jakarta. Tiket dapat dibeli melalui aplikasi TIX ID atau situs resmi bioskop. Penayangan terbatas ini merupakan bagian dari upaya memperkenalkan film klasik kepada penonton baru, menyusul hasil polling penggemar yang diumumkan melalui Instagram dan Facebook.
Secara keseluruhan, The 400 Blows adalah sebuah mahakarya yang memadukan realisme, emosi, dan inovasi sinematik. Film ini bukan sekadar kisah tentang seorang anak bermasalah, melainkan refleksi universal tentang kebebasan dan penderitaan manusia. Dengan peringkat IMDb 8,1/10 dari lebih dari 133 ribu ulasan, film ini layak ditonton oleh para pencinta sinema.
Di era digital saat ini, pesannya tentang empati terhadap anak-anak tetap relevan. Jika Anda ingin menontonnya, jangan lewatkan penayangan ini—sebuah pengalaman sinematik yang berkesan. Selamat menonton.