Novel A Man Called Ove: Pelajaran Hidup dari Pria Tua yang Ingin Mati

Hayuning Ratri Hapsari | Taufiq Hidayat
Novel A Man Called Ove: Pelajaran Hidup dari Pria Tua yang Ingin Mati
A Man Called Ove (Pria Bernama Ove) Fredrik Backman. (Gramedia)

Novel A Man Called Ove karya Fredrik Backman memperkenalkan kita pada sosok Ove, seorang pria berusia 59 tahun yang kolot, kaku, dan gemar menggerutu. Ia adalah tipe tetangga yang akan memarahi Anda jika Anda memarkir sepeda sedikit miring atau membuang sampah tidak pada tempatnya.

Ketegasan Ove yang tanpa filter sering kali membuat orang-orang di sekitarnya enggan bersinggungan, tanpa menyadari bahwa di balik sikap menyebalkan itu, Ove sedang menanggung beban duka yang meluluhkan dunianya.

Enam bulan lalu, Ove kehilangan istrinya, Sonja, karena kanker. Bagi Ove, Sonja adalah satu-satunya warna dalam dunianya yang hitam-putih. Belum usai duka itu, Ove dipaksa pensiun dari pekerjaannya.

Bagi pria yang hidupnya didorong oleh rutinitas dan kegunaan fungsi seperti Ove, berhenti bekerja adalah sebuah bencana. Kehilangan dua pilar hidupnya membuat Ove memutuskan untuk menyusul Sonja dengan cara bunuh diri. Namun, siapa sangka, maut ternyata tidak semudah itu menjemputnya.

Rencana Kematian yang Selalu Digagalkan Kehidupan

Bagian paling menarik sekaligus tragis dalam novel ini adalah upaya bunuh diri Ove yang selalu gagal secara konyol. Setiap kali ia hendak mengakhiri hidup, baik dengan gantung diri maupun menghirup gas di garasi, selalu saja ada gangguan dari tetangganya.

Kedatangan pasangan Patrick dan Parvaneh, serta kedua putri mereka, seolah menjadi "interupsi" semesta yang memaksa Ove untuk tetap hidup.

Parvaneh, tetangga barunya yang keras kepala, menyeret Ove ke dalam berbagai drama domestik. Ove yang menggerutu tetap saja membantu: memarkirkan kontainer, memperbaiki radiator, hingga menyelamatkan kucing liar di tengah salju.

Dari sini kita melihat paradoks seorang Ove; mulutnya mungkin penuh makian, tetapi tangannya selalu terulur untuk menolong. Ia adalah pria yang tidak banyak bicara, namun tindakannya bicara sangat keras.

Prinsip Hidup yang Kuat: Sebuah Inspirasi

Membaca ulasan karakter Ove membuat saya bercermin pada nilai-nilai yang kita anut di zaman modern ini. Ove adalah pria dengan prinsip moral yang hitam-putih; benar adalah benar, dan salah adalah salah. Ada beberapa filosofi Ove yang sangat menyentil hati saya:

  • Tentang Kesederhanaan dan Kemandirian: Ove sangat benci pada utang dan benda-benda yang tidak memiliki fungsi. Ia menyindir manusia zaman sekarang yang lebih banyak memiliki "tetek-bengek" daripada benda berguna.
  • Tentang Menghargai Makanan: Di rumah Ove, makanan tidak boleh dibuang. Hal ini sangat menyentuh saya, menyadarkan betapa seringnya kita membuang makanan dengan dalih kenyang, tanpa memikirkan proses dan keberkahan di dalamnya.
  • Tindakan di Atas Kata-kata: "Orang dibentuk oleh apa yang mereka perbuat, bukan apa yang mereka katakan." (hal. 93). Ove mengingatkan saya untuk bekerja lebih baik dan menghasilkan karya yang nyata, bukan sekadar membual atau membesarkan apa yang telah kita lakukan.
  • Martabat dan Kebebasan: Ove percaya bahwa setiap manusia memiliki waktunya untuk memutuskan akan menjadi orang macam apa. Hal ini memicu saya untuk menulis ulang versi terbaik dari diri saya sendiri. Ove membuat kita bertanya: martabat seperti apa yang kita miliki dalam hidup ini?

Hubungan yang Mengubah Sudut Pandang

Fredrik Backman dengan sangat piawai menggambarkan bagaimana masa lalu Ove membentuk pribadinya sekarang. Ajaran ayahnya untuk selalu jujur namun tidak menjadi pengadu adalah nilai langka di zaman sekarang.

Selain itu, kisah cintanya dengan Sonja adalah bukti bahwa cinta sejati bukan tentang menemukan seseorang yang sama persis, melainkan tentang saling melengkapi. Ove yang kaku menemukan kelembutan pada Sonja, dan Sonja melihat integritas yang luar biasa pada Ove.

Alur cerita yang menggabungkan masa kini dan kilas balik (flashback) membuat kita memahami mengapa Ove begitu keras kepala. Terjemahan bahasa Indonesianya pun sangat baik, membuat emosi yang dibangun penulis tersampaikan secara utuh hingga bab terakhir yang sangat menyentuh.

Sebuah Warisan Karakter

Novel ini adalah bacaan wajib bagi siapa pun yang ingin memahami arti kemanusiaan. Ove mengajarkan kita pentingnya memiliki karakter yang kuat—kepribadian yang membuat kita dikenali bukan karena apa yang kita miliki, tetapi karena prinsip yang kita pegang.

Melalui kisah ini, kita diingatkan bahwa saat kita pergi nanti, biarlah orang lain merasakan kehilangan karena kebaikan yang pernah kita tanam.

Jika Anda belum sempat membaca novelnya, Anda mungkin bisa menonton versi filmnya yang dibintangi oleh Tom Hanks (A Man Called Otto).

Namun, membaca bukunya memberikan kedalaman emosional yang jauh lebih personal. Ove mungkin pria yang menyebalkan di awal, tapi di akhir cerita, Anda akan berharap memiliki tetangga sepertinya.

Identitas Buku:

  • Judul: A Man Called Ove (Pria Bernama Ove)
  • Penulis: Fredrik Backman
  • Penerjemah: Lulu Wijaya
  • Editor: Tanti Lesmana
  • Sampul: Martin Dima
  • Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
  • Terbit: Februari 2022
  • Tebal: 384 hlm.
  • ISBN: 9786020657899

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak