Film Unexpected Family (2026), yang juga dikenal dengan judul asli Mandarin Guo Jia Jia (berarti bermain rumah-rumahan), adalah sebuah drama komedi yang menyentuh hati, disutradarai oleh Taiyan Li. Film ini menandai peran baru bagi Jackie Chan, yang biasanya dikenal dengan aksi laga, kini memerankan karakter dramatis sebagai seorang lansia penderita Alzheimer.
Dirilis di tengah tren film keluarga Tiongkok yang menekankan nilai-nilai emosional, Unexpected Family menggabungkan elemen humor ringan dengan tema mendalam tentang ikatan keluarga tak terduga, kesepian, dan belas kasih antarmanusia. Dengan durasi 121 menit, film ini berhasil menyajikan cerita yang hangat namun tidak bertele-tele, meskipun menurutku ceritanya klise.
Sinopsis: Keluarga Tak Terduga dari Orang Asing

Plot film berpusat pada Zhong Bufan (diperankan oleh Peng Yuchang), seorang pemuda dari kota kecil yang melarikan diri dari rumah karena masalah keluarga dan berusaha mencapai Beijing untuk mencari kehidupan baru.
Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan Ren Jiqing (Jackie Chan), seorang pria tua yang menderita Alzheimer dan salah mengira Bufan sebagai putranya yang hilang. Pertemuan tak sengaja ini memaksa Bufan untuk tinggal sementara di rumah Ren, di mana ia terlibat dalam kehidupan sehari-hari pria tua itu.
Cerita berkembang menjadi eksplorasi tentang membangun keluarga palsu yang akhirnya menjadi nyata melalui interaksi dengan tetangga dan komunitas sekitar. Tanpa spoiler, alur cerita awalnya penuh komedi situasional, seperti kesalahpahaman akibat penyakit Alzheimer, sebelum beralih ke nada lebih emosional yang menyoroti tragedi kehilangan memori dan pentingnya dukungan sosial. Skrip, yang ditulis dengan sederhana, terinspirasi dari tema universal tentang penuaan dan ikatan antargenerasi, mirip dengan film seperti The Father (2020) atau drama Korea tentang demensia.
Review Film Unexpected Family

Pemeran utamanya menjadi kekuatan besar film ini. Jackie Chan, pada usia 71 tahun saat syuting, memberikan penampilan yang mengejutkan dengan meninggalkan aksi fisiknya yang ikonik. Ia memerankan Ren Jiqing dengan kelembutan dan kerapuhan yang autentik, membuatku terharu dengan ekspresi kebingungan dan kerinduan seorang penderita Alzheimer. Chan berhasil menyeimbangkan humor—seperti adegan di mana ia mengajari Bufan seni bela diri ala Chan—dengan momen dramatis yang membuat air mataku otomatis mengalir.
Peng Yuchang, aktor muda yang sedang naik daun dari film seperti Leap (2020), memerankan Bufan dengan energi segar dan kedalaman emosional. Ia mewakili generasi muda yang berjuang dengan tekanan ekonomi dan keluarga, membuat karakternya relatable bagi penonton milenial.
Pemeran pendukung, termasuk Zhang Jianing sebagai tetangga yang peduli dan Pan Binlong sebagai teman Bufan, menambah lapisan hangat pada cerita. Mereka membentuk ensemble yang solid, meskipun beberapa karakter terasa kurang dikembangkan.
Dari segi penyutradaraan, Taiyan Li, yang sebelumnya dikenal dengan film-film independen Tiongkok, menggunakan pendekatan visual yang sederhana namun efektif. Sinematografi oleh Fan Chao menangkap keindahan kota Wuhan—lokasi syuting utama, termasuk Kuil Gude—dengan warna-warna hangat yang mencerminkan tema keluarga.
Transisi adegan yang menggambarkan kilas balik memori Ren sangat inovatif, menggunakan efek visual lembut untuk menyimbolkan kabut Alzheimer. Musik latar oleh Roc Chen, termasuk lagu tema oleh Liu Yu, menambah sentuhan emosional tanpa berlebihan.
Akan tetapi, film ini tidak luput dari kritik: bagian akhir terasa terburu-buru, dengan resolusi yang kuanggap toksik karena tidak mengeksplorasi konflik keluarga secara mendalam. Elemen klise film keluarga Tiongkok, seperti pesan moral tentang kebaikan, membuatnya predictable bagi yang familiar dengan genre ini.
Tema utama film adalah tentang menciptakan keluarga dari orang asing, terutama di masyarakat urban yang semakin individualis. Ia menyoroti isu sosial seperti perawatan lansia di Tiongkok, di mana Alzheimer memengaruhi jutaan orang, dan pentingnya komunitas dalam mengisi kekosongan keluarga biologis. Humornya ringan, sering dari kesalahpahaman, tapi tidak pernah mengejek penyakit; sebaliknya, ia menjadikannya alat untuk membangun empati.
Akting Jackie Chan terasa autentik dan menyentuh, seolah kejadian nyata. Meski semi-klise dan agak berantakan, film tetap feel-good kok, Sobat Yoursay. Drama demensia yang mengharukan, menonjolkan sisi tragikomik dari realitas yang tercipta. Keseimbangan humor dan emosi membuatnya lucu sekaligus sangat manusiawi.
Secara keseluruhan, Unexpected Family adalah tontonan yang menghibur dan mengharukan, cocok untuk keluarga atau mereka yang mencari cerita ringan dengan pesan dalam. Kekurangannya dalam orisinalitas diatasi oleh penampilan kuat para aktor, terutama Chan yang membuktikan versatilitasnya di luar aksi. Rating pribadi dariku: 8/10. Film ini layak ditonton untuk momen-momen emosionalnya yang bisa membuat kalian menangis dan tertawa bergantian.
Mengenai penayangan di bioskop Indonesia, film ini tayang perdana mulai tanggal 14 Januari 2026, dengan rating 13+. Di Jakarta, bisa disaksikan di jaringan seperti CGV atau Flix Cinema di PIK Avenue. Ini bertepatan dengan rilis global pasca-premier di Tiongkok pada 1 Januari 2026, membuatnya aksesibel bagi penggemar Jackie Chan di Indonesia. Jadi selamat menonton ya!