Film 28 Years Later: The Bone Temple, Horor Visceral Terbaik Sepanjang Masa

Sekar Anindyah Lamase | Ryan Farizzal
Film 28 Years Later: The Bone Temple, Horor Visceral Terbaik Sepanjang Masa
Poster film 28 Years Later: The Bone Temple (IMDb)

Film 28 Years Later: The Bone Temple merupakan installment keempat dalam franchise zombie ikonik yang dimulai dengan 28 Days Later pada 2002.

Disutradarai oleh Nia DaCosta, film ini melanjutkan narasi post-apokaliptik yang dibangun oleh Danny Boyle dan Alex Garland. Sebagai sekuel langsung dari 28 Years Later (2025), The Bone Temple mengeksplorasi dunia yang hancur akibat Rage Virus, di mana manusia bertahan hidup di tengah kekacauan.

Dengan anggaran produksi sekitar $63 juta, film ini difilmkan back-to-back dengan pendahulunya, menjanjikan kelanjutan yang seamless namun dengan sentuhan unik dari DaCosta.

Rilis di bioskop Indonesia dijadwalkan pada 14 Januari 2026, bertepatan dengan perilisan global yang dimulai dari premiere di London pada 13 Januari, diikuti AS pada 16 Januari. Penonton Indonesia bisa menikmatinya di jaringan bioskop seperti CGV, Cinepolis, atau XXI, meski jadwal pasti tergantung distribusi Sony Pictures Releasing.

Sinopsis: Kelanjutan Brutal di Dunia yang Hancur

Poster film 28 Years Later: The Bone Temple (IMDb)
Poster film 28 Years Later: The Bone Temple (IMDb)

Plot film ini berfokus pada dua narasi paralel yang saling terkait. Spike (Alfie Williams), seorang remaja pemberani, memulai pencarian pribadi di daratan utama Inggris yang porak-poranda.

Ia terlibat dengan geng pembunuh akrobatik yang dipimpin oleh Sir Jimmy Crystal (Jack O'Connell), seorang pemimpin psikopat yang membangun kultus mirip Jimmy Savile.

Di sisi lain, Dr. Ian Kelson (Ralph Fiennes), seorang dokter umum yang berdedikasi memperingati korban epidemi, membentuk hubungan baru yang berpotensi mengubah dunia.

Cerita ini menyelami tema kekerasan manusia versus kemanusiaan bawaan, di tengah brutalitas dan para infected. Tanpa spoiler besar, film ini memperluas mitologi franchise dengan memperkenalkan villain yang mengerikan dan elemen-elemen tak terduga, seperti adegan tari yang improvisasional dengan lagu Duran Duran Rio. Narasi Alex Garland tetap tajam, menyeimbangkan horor visceral dengan refleksi filosofis tentang sifat kejahatan.

Review Film 28 Years Later: The Bone Temple

Salah satu adegan di film 28 Years Later: The Bone Temple (IMDb)
Salah satu adegan di film 28 Years Later: The Bone Temple (IMDb)

Kalau dari segi cast, The Bone Temple dibintangi oleh ensemble aktor berbakat. Ralph Fiennes memberikan performa mendalam sebagai Dr. Kelson, menampilkan kerentanan emosional yang kontras dengan kegelapan dunianya.

Jack O'Connell sebagai Jimmy Crystal mencuri perhatian dengan karisma psikotiknya, membuat karakternya menjadi salah satu antagonis paling memorable dalam series ini.

Alfie Williams sebagai Spike membawa energi segar, sementara Erin Kellyman, Chi Lewis-Parry (sebagai Samson, pemimpin infected dengan prosthetic suit), dan lainnya seperti Emma Laird serta Louis Ashbourne Serkis melengkapi dinamika kelompok.

Cameo Cillian Murphy sebagai Jim dari film original menutup cerita dengan setup untuk film ketiga, menambah nilai nostalgik. Para aktor ini, di bawah arahan DaCosta, menghidupkan karakter yang kompleks, membuatku merasakan ketegangan emosional di balik aksi horor.

Secara teknis, Nia DaCosta membawa visi segar ke franchise ini. Berbeda dari gaya Boyle yang energik di film pertama, DaCosta memilih pendekatan lebih unnerving dan personal. Ia meminta penambahan lebih banyak infected dalam skrip, menghasilkan adegan gore yang lebih intens.

Sinematografi oleh Sean Bobbitt menggunakan kamera Arri Alexa 35, menghasilkan visual grimy dan atmospheric yang menangkap kebrutalan Inggris pasca-apokaliptik. Lokasi syuting di Ennerdale, Cumbria, dan Redmire, North Yorkshire, menambah autentisitas, dengan set khusus dibangun untuk adegan klimaks.

Editing oleh Jake Roberts menjaga pace yang ketat, sementara skor musik oleh Hildur Guðnadóttir—komposer pemenang Oscar—menambah lapisan dread yang mendalam. Efek visual oleh Adam Gascoyne, termasuk prosthetic untuk infected, terlihat realistis dan mengerikan, meski film ini lebih mengandalkan praktikal effects daripada CGI berlebih.

Film ini kelanjutan langsung yang bikin gore-nya lebih sadis dan rasa takutnya lebih dalam. Sutradara Nia DaCosta bikin suasana mencekam banget, ditambah akting Ralph Fiennes dan Jack O'Connell yang luar biasa.

Kekerasannya terasa kotor, brutal, tapi anehnya justru memuaskan. Jadi tontonan seru saat akhir pekan. Jujur, ini film zombie gila tapi sukses besar, ada adegan tari yang unik banget. Kekerasannya jauh lebih tinggi dari film sebelumnya, tapi ditambah humor biar nggak terlalu berat.

Cuma ada satu kekurangan kecil: perubahan nada ceritanya kadang terlalu beda, bisa bikin fans lama bingung. Tapi secara keseluruhan, film ini tetap layak banget ditonton dan bikin franchise ini makin berani serta tak terduga.

Jadi bisa kusimpulkan, 28 Years Later: The Bone Temple adalah film horor yang ambisius, menggabungkan aksi intens, elemen psikologis, dan komentar sosial tentang kekerasan manusia. Meski bukan tanpa kekurangan, seperti potensi kebingungan bagi penonton baru, kekuatannya terletak pada inovasi dan performa cast.

Bagi fans zombie, ini adalah must-watch yang memperkaya lore franchise. Di Indonesia, tayang mulai 14 Januari 2026, tepat saat momentum global sedang tinggi-tingginya. Jangan lewatkan untuk pengalaman bioskop yang mendebarkan!

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak