Film Sadali: Refleksi Diri di Balik Kanvas Kosong yang Sunyi

Hayuning Ratri Hapsari | Ryan Farizzal
Film Sadali: Refleksi Diri di Balik Kanvas Kosong yang Sunyi
Poster film Sadali (IMDb)

Film Sadali merupakan sekuel yang dinanti dari Hidup Ini Terlalu Banyak Kamu (2024), diadaptasi dari novel karya Pidi Baiq. Disutradarai oleh Kuntz Agus dan diproduksi oleh MVP Pictures, film ini bergenre drama romantis dengan durasi 89 menit.

Tayang serentak di bioskop Indonesia mulai hari ini, 5 Februari 2026. Pemeran utama meliputi Ajil Ditto sebagai Sadali, Adinia Wirasti sebagai Mera, Hanggini sebagai Arnaza, Faiz Vishal sebagai Budi, dan Ciara Nadine Brosnan dalam peran pendukung. Rating usia R13 menandakan konten dewasa yang mengeksplorasi konflik emosional mendalam.

Sinopsis: Kembalinya Mera dan Bayang Masa Lalu

Salah satu adegan di film Sadali (IMDb)
Salah satu adegan di film Sadali (IMDb)

Tiga tahun pasca kegagalan kisah cintanya di Yogyakarta, Sadali memilih hidup menyendiri di Magelang sebagai pelukis profesional. Ia fokus mempersiapkan pameran tunggal yang menjadi puncak kariernya, dibantu asisten setia.

Ketenangan itu terganggu saat sahabatnya, Budi, membawa kabar bahwa Mera, mantan kekasihnya, akan menikah. Belum reda, Sadali bertemu kembali dengan Mera dan Arnaza, wanita yang pernah dijodohkan dengannya. Pertemuan ini membuka luka lama, memaksa Sadali menghadapi penyesalan, rindu, dan pencarian jati diri.

Konflik batinnya memengaruhi proses kreatif, di mana lukisannya dikritik sebagai "belum selesai" karena kurang identitas. Cerita melompat waktu dengan cuplikan dari film pertama, membuatnya bisa dinikmati mandiri meski sekuel.

Plot Sadali lebih matang dibanding pendahulunya, fokus pada perjalanan dewasa Sadali dalam berdamai dengan masa lalu. Tema utama adalah seni sebagai medium katarsis, di mana inspirasi lahir dari emosi tak terselesaikan seperti marah, rindu, dan kegelisahan.

Konflik cinta segitiga antara Sadali, Mera, dan Arnaza dieksplorasi secara reflektif, bukan dramatis berlebih. Ini mencerminkan realitas dewasa muda: gagal move on, pertaruhan karier, dan pilihan antara kenangan atau masa depan.

Narasi lambat tapi mendalam, dengan lompatan waktu yang efektif menghubungkan dua film. Akan tetapi, menurutku beberapa bagian terasa repetitif, seperti pengulangan motif luka lama, yang bisa membuat kalian bosan jika tak suka drama introspektif. Keseluruhan, plot menyajikan resolusi emosional yang memuaskan, meski tak selalu bahagia.

Review Film Sadali

Salah satu adegan di film Sadali (IMDb)
Salah satu adegan di film Sadali (IMDb)

Ajil Ditto brilian sebagai Sadali, menampilkan seniman introvert dengan nuansa kegelisahan halus. Ekspresinya saat melukis atau menghadapi masa lalu terasa autentik, mencerminkan perjuangan internal.

Adinia Wirasti mencuri perhatian sebagai Mera; ia evolusi dari karakter sebelumnya menjadi wanita matang, dengan senyum dan tatapan yang menyiratkan kedalaman emosi. Pembawaannya tenang tapi penuh gejolak, membuat adegan konfrontasi dengan Sadali emosional.

Hanggini sebagai Arnaza solid, membawa kehangatan dan kerapuhan yang kontras dengan Mera. Faiz Vishal sebagai Budi menambah humor ringan, mencegah cerita terlalu berat. Chemistry antar aktor kuat, terutama trio utama, yang membuat konflik romansa terasa nyata.

Visual Sadali sangat memukau, dengan latar Magelang yang asri—bukit hijau, sungai, dan studio seni—menciptakan suasana tenang tapi tegang. Kuntz Agus memanfaatkan kolaborasi dengan ISI Yogyakarta dan pelukis profesional untuk detail proses melukis, membuat adegan seni terasa realistis.

Sinematografi hangat dengan warna earth tone memperkuat tema refleksi. Musik latar minimalis, didominasi piano dan string, mendukung emosi tanpa overpower. Soundtrack orisinal, termasuk lagu tema, menambah nuansa puitis.

Produksi MVP Pictures rapi, dengan editing yang mulus menghubungkan flashback. Kelemahannya kecil sih ada beberapa transisi terasa lambat, mungkin untuk penonton yang suka tempo cepat.

Kekuatan utamanya adalah kedalaman emosional dan relevansi tema bagi penonton dewasa, terutama yang pernah alami patah hati atau krisis identitas. Film ini tak sekadar romansa, tapi eksplorasi seni sebagai terapi. Visual dan akting jadi nilai tambah, membuatnya layak ditonton di layar lebar.

Kelemahannya sih pada cerita yang bergantung pada film pertama, meski bisa mandiri, dan kurang elemen kejutan. Bagi yang tak suka drama lambat, mungkin terasa membosankan.

Sadali adalah drama romantis yang dewasa dan reflektif, sempurna bagi penggemar cerita emosional ala Pidi Baiq. Dengan tayang di bioskop Indonesia mulai 5 Februari 2026, film ini memberikan pengalaman visual dan hati yang menyentuh.

Kalau kamu mencari kisah tentang seni, cinta, dan penyembuhan, ini pilihan tepat nih, Sobat Yoursay. Rating pribadi dariku: 8/10—solid sebagai sekuel, tapi bisa lebih inovatif.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak