Antrean Panjang Pohon Furufara

M. Reza Sulaiman | Ryan Farizzal
Antrean Panjang Pohon Furufara
Ilustrasi cerpen Antrean Panjang Fufufafa (Gemini AI/Nano Banana)

“Aduh, Kukang, kamu yakin mau ikut antre di sini? Lihat tuh, barisannya panjang sekali! Dari pagi sampai malam mungkin baru giliranmu!” kata Burung Hantu sambil menggelengkan kepala, matanya melotot lebar di bawah cahaya bulan.

Kukang, si pemalas hutan yang gerakannya seperti air mengalir pelan di sungai kering, hanya tersenyum tipis. “Kenapa tidak, Hantu? Furufara kan tempat ajaib. Aku dengar, di sana ada rahasia yang bisa mengubah hidupku. Lambat-lambat saja, aku pasti sampai.”

Burung Hantu tertawa nyaring. “Rahasia? Itu cuma omong kosong para hewan penasaran! Furufara hanyalah sebuah pohon raksasa di tengah lembah, tempat katanya ada buah ajaib yang jatuh sekali setahun. Antrean panjang itu untuk mendapatkan satu gigitan. Tetapi kamu? Dengan kecepatanmu, antrean bakal habis sebelum kamu bergerak satu inci!”

Kukang tidak bergeming. Ia menggantung di dahan pohon, matanya menatap ke depan, ke tempat antrean hewan-hewan hutan membentang seperti ular raksasa. Ada Rubah yang licik, berlari mondar-mandir untuk memotong jalan; Kelinci yang gelisah, melompat-lompat tak sabar; dan Gajah yang besar, menginjak-injak tanah hingga debu beterbangan. Semua ingin buah Furufara, yang konon bisa memberi kekuatan super: kecepatan bagi yang lambat, keberanian bagi si penakut, atau bahkan kebijaksanaan bagi yang bodoh.

Pagi itu, Kukang mulai bergeser. Satu cakar demi satu cakar, ia turun dari pohon dan bergabung di ujung antrean. “Selamat pagi, teman-teman,” sapanya pelan pada hewan-hewan di belakang. Mereka hanya melirik sekilas, lalu kembali sibuk dengan keluhan mereka.

Hari pertama berlalu lambat bagi yang lain, tetapi bagi Kukang, waktu seperti teman lama. Rubah mencoba menyusup ke depan, tetapi ditangkap oleh Penjaga Hutan, seekor Elang yang bermata tajam. “Hei, aturan adalah aturan! Kembali ke belakang!” teriak Elang. Rubah menggerutu, tetapi terpaksa mundur.

Kukang hanya diam, mengamati. Ia melihat bagaimana Kelinci, yang biasa cepat, mulai kelelahan karena terus melompat. “Kenapa harus antre begini? Aku bisa lari ke depan!” gumam Kelinci. Namun, setiap kali ia mencoba, angin kencang dari sayap Elang mendorongnya kembali.

Malam pun tiba. Antrean masih panjang. Kukang tidur nyenyak di tempatnya, tubuhnya bergantung seperti buah matang. Esok pagi, ia bangun dan bergeser lagi, satu langkah kecil.

Pada hari ketiga, hujan deras mengguyur. Banyak hewan mundur karena basah kuyup dan putus asa. Gajah mengeluh, “Ini terlalu lama! Aku punya urusan lain.” Ia pergi meninggalkan ruang kosong. Kukang maju sedikit, senyumnya tak pudar.

Di tengah antrean, ia bertemu dengan Tupai kecil yang gemetar. “Kak Kukang, aku takut. Antrean ini panjang sekali dan aku kecil. Bagaimana kalau aku tidak dapat apa-apa?” tanya Tupai.

Kukang memandangnya lembut. “Tupai, lihat saja langkah demi langkah. Hal kecil yang mengubah segalanya adalah kesabaranmu sendiri. Jangan lihat ujungnya, nikmatilah perjalanannya.”

Tupai mengangguk dan mereka pun berbincang. Kukang menceritakan kisah-kisah hutan lama: tentang sungai yang pelan tetapi mampu mengikis batu, tentang pohon yang tumbuh lambat tetapi kuat. Tupai tertawa, lupa akan ketakutannya.

Semakin hari, antrean menyusut. Bukan karena cepat, melainkan karena banyak yang menyerah. Rubah kembali mencoba trik dengan menyamar sebagai hewan lain, tetapi Elang mengenalinya dan mengusirnya. Kelinci kelelahan, lalu tertidur di pinggir dan ketinggalan giliran.

Kukang, dengan kecepatan siputnya, justru maju secara stabil. Ia membantu hewan lain dengan memberi daun lebar untuk berteduh ketika cuaca panas dan membagikan cerita untuk menghibur kala bosan. Perlahan, antrean jadi seperti pesta kecil. Hewan-hewan mulai saling membantu, bukan saling sikut lagi.

Pada hari kesepuluh, Kukang sudah sampai di depan. Pohon Furufara menjulang megah, daunnya hijau berkilau. Buah ajaib itu tergantung satu, merah menyala seperti matahari terbit.

Elang memandang Kukang dengan heran. “Kamu? Yang paling lambat? Bagaimana bisa kamu bertahan?”

Kukang tersenyum. “Karena aku tidak buru-buru. Aku menikmati setiap momen. Dan lihat, teman-teman yang tadinya marah, sekarang tersenyum.”

Buah jatuh ke tangan Kukang. Ia menggigit kecil buahnya, rasanya manis seperti madu hutan. Namun, kekuatan yang ia dapat bukan kecepatan super, melainkan pengertian: bahwa perubahan datang dari dalam, bukan dari luar.

Kukang membagikan sisa buah kepada Tupai dan hewan lain yang bertahan. “Ini untuk kalian,” katanya. “Tetapi ingat, hal kecil yang mengubah segalanya adalah pilihan kita setiap hari.”

Kembali ke hutan, Kukang tetap lambat, tetapi kini ia menjadi pemimpin. Hewan-hewan datang meminta nasihat. Rubah belajar sabar, Kelinci belajar tenang, dan Gajah pun kembali. Furufara bukan lagi tempat antrean panjang yang menakutkan, melainkan simbol perjalanan. Setiap tahun, hewan-hewan antre lagi, tetapi kali ini dengan cerita dan tawa.

Dan Kukang? Ia menggantung di pohon sembari memandang bintang. “Hidup seperti antrean,” gumamnya. “Lambat, tetapi penuh keajaiban jika kau biarkan.”

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak