Membaca Halte Alam Baka: Pelajaran Hidup Tanpa Beban Penyesalan

Lintang Siltya Utami | Taufiq Hidayat
Membaca Halte Alam Baka: Pelajaran Hidup Tanpa Beban Penyesalan
Halte Alam Baka karya Kai Elian. (gramedia)

Saat pertama kali melihat judul dan premisnya, saya sempat mengira bahwa Halte Alam Baka adalah novel terjemahan asal Korea Selatan yang belakangan memang sedang tren dengan tema serupa.

Namun, setelah menyelami lembar demi lembar, saya menyadari bahwa ini adalah karya asli penulis Indonesia. Deskripsi situasi dan latarnya terasa sangat akrab di indra, memberikan rasa familier yang hanya bisa diciptakan oleh penulis yang memahami konteks lokal dengan baik.

Sinopsis: Misteri di Balik Rajutan Nenek

Cerita bermula dari penyelidikan Julian, seorang jurnalis muda yang tertarik pada rumor sebuah halte misterius berwarna merah. Halte ini konon dijaga oleh seorang nenek yang gemar merajut dan mampu mempertemukan pengunjung dengan orang-orang terkasih yang sudah tiada.

Julian yang semula hanya ingin mengisi rubrik "Kisah Pembaca", justru terseret ke dalam pusaran masa lalu yang menghubungkannya dengan orang-orang yang ia kira telah hilang selamanya. Secara garis besar, novel ini adalah biografi emosional seorang wanita bernama Kasih, yang dituturkan sejak lahir hingga dewasa.

Keberuntungan Menemukan Jawaban

Meskipun pengenalan tokohnya terasa lancar, saya harus mengakui bahwa keterhubungan antar-karakter dalam novel ini cenderung mudah ditebak. Tidak ada kejutan plot (plot twist) yang benar-benar menghentak, namun hal itu tertutupi oleh penuansaan latar yang sangat hidup. Saya seolah ikut hadir di lokasi, merasakan kesedihan, kemarahan, hingga rasa gemas yang dialami para tokohnya.

Satu hal yang membuat saya merenung adalah betapa beruntungnya para tokoh di buku ini. Dalam realitas, banyak orang pergi tanpa pernah menemukan jawaban atas pertanyaan: "Siapa orangtuaku?" atau "Mengapa aku sendirian?". Namun, dalam kisah ini, Kai Elian memberikan kesempatan bagi karakternya untuk menemukan jawaban. Kepastian bahwa mereka yang telah tiada berada dalam kondisi "baik-baik saja" memberikan kekuatan bagi mereka yang masih hidup untuk melangkah maju tanpa beban rasa bersalah.

Hidup Tanpa Penyesalan

Membaca buku ini memotivasi saya untuk menjalani hidup sebaik mungkin agar tidak menyisakan penyesalan saat tiba waktu untuk "pergi". Meskipun terdengar klise, pesan ini disampaikan dengan cara yang hangat. Orang-orang yang telah berpulang memang memiliki tempat suci di hati kita; mereka mungkin tidak dipikirkan setiap detik, namun mereka selalu ada dalam ruang spesial yang bisa kita jangkau melalui kenangan.

Halte Alam Baka adalah bacaan yang sangat ringan namun kaya akan rasa hangat. Meski ada beberapa bagian yang mungkin terasa tidak nyaman secara emosional (bahkan menjijikkan bagi sebagian orang), buku ini tetap menawarkan ketenangan.

Bagi saya pribadi, buku ini tidak memberikan trigger atau memicu tangisan yang meledak-ledak atas kehilangan yang pernah saya alami, melainkan sebuah penerimaan yang tenang. Sebuah pilihan tepat bagi Anda yang mencari fiksi fantasi lokal dengan sentuhan kontemplasi tentang takdir dan keluarga. Jika menyenangkan sebarkan, jika tidak, beri tahu!

Identitas Buku:

  • Judul: Halte Alam Baka
  • Penulis: Kai Elian
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
  • Tahun Terbit: April 2025
  • ISBN: 9786020682389
  • Jumlah Halaman: 280 halaman

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak