The Atala adalah novel fiksi fantasi–sains fiksi yang menggabungkan konsep perjalanan waktu, teori konspirasi sejarah, dan mitologi Nusantara dalam satu cerita yang penuh petualangan.
Kisah berpusat pada Seraeris Agartha, seorang siswi SMA Megalitha yang tanpa sengaja menemukan informasi kontroversial mengenai sejarah Nusantara.
Ia menemukan bahwa ada kemungkinan besar sejarah yang selama ini dipelajari di sekolah tidak sepenuhnya benar.
Penemuan ini menyeret Sera ke dalam konflik besar, termasuk tekanan dari pihak-pihak misterius yang ingin menutupi kebenaran.
Dalam perjalanannya, Sera bertemu dengan Juan Kanigara, siswa cerdas yang memiliki keterkaitan dengan rahasia besar tersebut.
Bersama beberapa teman, mereka akhirnya melakukan perjalanan waktu ke masa 12.000 tahun lalu untuk menyelidiki sebuah peradaban maju bernama The Kingdom of Atala.
Di masa lalu, mereka menemukan kerajaan dengan teknologi tinggi, sistem pemerintahan monarki, serta pemimpin karismatik bernama Raja Agysta III.
Perjalanan ini tidak hanya mengungkap misteri sejarah, tetapi juga mempertanyakan makna kebenaran, kekuasaan, dan bagaimana sejarah bisa dimanipulasi oleh pihak tertentu.
Cerita berkembang menjadi perpaduan antara petualangan, misteri, dan refleksi tentang identitas serta masa depan.
Salah satu kekuatan utama The Atala terletak pada ide cerita yang segar dan berani. Mengangkat sejarah alternatif Nusantara sebagai pusat peradaban maju adalah konsep yang jarang ditemui dalam novel lokal, sehingga memberikan rasa kebaruan dan kebanggaan tersendiri bagi pembaca.
Dari segi world-building, Lyraemoon berhasil menciptakan gambaran Kerajaan Atala yang cukup detail dan imajinatif.
Teknologi canggih, sistem kerajaan, serta nuansa spiritualitas membuat dunia Atala terasa hidup.
Selain itu, alur petualangan yang penuh misteri membuat pembaca terus terdorong untuk mengikuti cerita hingga akhir.
Kelebihan lain adalah daya tarik bagi pembaca muda, terutama generasi yang aktif di media sosial.
Latar cerita yang dekat dengan kehidupan remaja (sekolah, media sosial, viral, dan teori konspirasi) membuat novel ini terasa relevan dan mudah dihubungkan dengan realitas sehari-hari.
Meski memiliki konsep yang menarik, The Atala juga memiliki beberapa catatan. Kompleksitas cerita, terutama yang berkaitan dengan teori konspirasi dan perjalanan waktu, bisa terasa cukup padat bagi sebagian pembaca.
Ada bagian-bagian yang mungkin terasa terlalu cepat dalam menjelaskan konsep penting, sehingga pembaca yang menyukai penjelasan detail bisa merasa kurang puas.
Selain itu, beberapa karakter pendukung terasa belum tergali secara mendalam.
Potensi latar belakang dan motivasi mereka sebenarnya menarik, namun tidak semuanya mendapatkan porsi pengembangan yang seimbang.
Gaya bahasa Lyraemoon cenderung ringan, komunikatif, dan dekat dengan bahasa anak muda. Dialog terasa mengalir dan tidak kaku, sehingga memudahkan pembaca remaja dan dewasa muda untuk menikmati cerita.
Narasi juga cukup deskriptif, terutama saat menggambarkan dunia Atala dan suasana petualangan, meskipun masih bisa diperdalam di beberapa bagian.
Keunikan utama The Atala terletak pada penggabungan sejarah Nusantara dengan fiksi ilmiah dan fantasi. Konsep bahwa Indonesia pernah menjadi pusat peradaban maju di masa lampau adalah ide yang provokatif dan memancing rasa ingin tahu.
Selain itu, latar viral dari AU (Alternate Universe) yang awalnya populer di media sosial juga membuat novel ini memiliki basis pembaca yang kuat sejak awal.
Keberadaan ilustrasi dan desain sampul yang artistik juga menambah nilai estetika buku ini, membuatnya menarik sebagai koleksi.
The Atala sangat cocok untuk remaja dan dewasa muda (SMA–mahasiswa), pembaca yang menyukai genre fantasi, time travel, dan misteri, dan juga penggemar cerita sejarah alternatif dan teori konspirasi.
Secara keseluruhan, The Atala adalah novel yang menawarkan pengalaman membaca yang seru, penuh imajinasi, dan memancing rasa penasaran.
Dengan ide besar tentang sejarah alternatif Nusantara, novel ini berhasil tampil berbeda di antara novel fantasi lokal.