Kota Lama & Sepotong Cerita Cinta: Antara Masa Lalu dan Pilihan Hari Ini

Sekar Anindyah Lamase | Miranda Nurislami Badarudin
Kota Lama & Sepotong Cerita Cinta: Antara Masa Lalu dan Pilihan Hari Ini
Novel Kota Lama & Sepotong Cerita Cinta (Dok. Pribadi/Miranda)

Ada fase dalam hidup ketika semuanya terasa berantakan. Rencana yang sudah disusun rapi tiba-tiba gagal, dan kita mulai mempertanyakan banyak hal—tentang pilihan, tentang mimpi, bahkan tentang diri sendiri. Di titik seperti itu, Kota Lama & Sepotong Cerita Cinta karya Herdiana Hakim terasa seperti teman duduk yang tidak banyak menghakimi, tapi pelan-pelan mengajak berpikir.

Novel ini tidak datang dengan cara yang ribet. Justru dari awal, ia terasa ringan, dekat, dan cukup mudah diikuti. Tapi semakin dibaca, ceritanya membuka lapisan demi lapisan yang ternyata tidak sesederhana yang terlihat.

Cerita yang Tidak Hanya Tentang Cinta

Kalau melihat judulnya, mungkin ekspektasi awalnya ini akan jadi cerita romantis biasa. Tapi ternyata tidak sesederhana itu. Cinta memang ada, tapi bukan itu yang paling menonjol.

Yang lebih terasa justru perjalanan tokohnya memahami hidup. Jenny, sebagai tokoh utama, digambarkan sebagai perempuan yang ambisius dan punya arah. Tapi ketika semuanya runtuh, dia tidak tahu lagi harus berpegang pada apa. Di situ, ceritanya mulai terasa dekat dengan realitas. Banyak orang pernah ada di posisi seperti itu—terlihat kuat di luar, tapi sebenarnya sedang kehilangan arah.

Novel ini tidak buru-buru “menyembuhkan” tokohnya. Justru prosesnya dibiarkan berjalan pelan. Dan itu yang bikin ceritanya terasa lebih jujur.

Ketika Sejarah Tidak Lagi Jauh

Salah satu hal yang paling menarik dari novel ini adalah bagaimana ia membawa pembaca bertemu dengan Raden Ajeng Kartini. Bukan dalam bentuk teori atau pelajaran sejarah, tapi sebagai sosok yang hidup di dalam cerita.

Kartini di sini bukan hanya tokoh besar yang penuh kutipan inspiratif. Ia juga manusia yang punya keterbatasan, punya kegelisahan, dan harus menghadapi realitas zamannya. Lewat interaksi dengan Jenny, kita jadi melihat bahwa meskipun zaman berubah, beberapa hal ternyata tetap sama—tentang tekanan, tentang harapan, tentang keinginan untuk punya kendali atas hidup sendiri.

Cara penyampaiannya juga tidak terasa menggurui. Informasi tentang Kartini masuk secara natural lewat cerita, bukan lewat penjelasan panjang yang terasa seperti buku pelajaran. Ini yang membuat bagian sejarahnya terasa lebih hidup dan mudah diterima.

Fantasi yang Masuk Akal dalam Cerita

Elemen perjalanan waktu di novel ini sebenarnya cukup berisiko. Kalau tidak diolah dengan baik, bisa terasa aneh atau malah mengganggu alur. Tapi di sini, justru sebaliknya.

Perjalanan Jenny ke masa lalu terasa seperti alat untuk melihat hidup dari sudut pandang lain. Bukan sekadar pelarian, tapi lebih ke cara untuk memahami apa yang selama ini tidak ia sadari.

Yang menarik, dunia masa lalu dan masa kini tidak dibandingkan secara berlebihan. Tidak ada kesan bahwa salah satunya lebih baik. Keduanya punya kelebihan dan kekurangan. Dari situ, pembaca diajak melihat bahwa setiap zaman punya tantangannya sendiri.

Tokoh yang Terasa Nyata

Salah satu kekuatan novel ini ada di karakternya. Jenny tidak digambarkan sebagai tokoh yang selalu tahu apa yang harus dilakukan. Ia ragu, kadang salah langkah, dan sering tidak yakin dengan dirinya sendiri.

Justru di situ letak kekuatannya. Karakter seperti ini terasa lebih manusiawi. Tidak dibuat sempurna, tapi juga tidak dibuat terlalu dramatis. Banyak pembaca bisa merasa relate karena apa yang dialami Jenny bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari.

Kartini pun ditampilkan dengan pendekatan yang sama. Ia tidak hanya kuat, tapi juga punya sisi rapuh. Ini membuat interaksi antara dua tokoh ini terasa seimbang, bukan seperti guru dan murid, tapi lebih seperti dua orang yang sama-sama sedang belajar memahami hidup.

Tentang Perempuan dan Pilihan Hidup

Di balik semua alurnya, ada satu hal yang cukup terasa kuat: bagaimana novel ini membicarakan posisi perempuan, tanpa harus terdengar berat.

Jenny mewakili perempuan modern yang punya banyak pilihan, tapi juga banyak tekanan. Sementara Kartini mewakili perempuan di masa ketika pilihan itu sangat terbatas. Dari pertemuan keduanya, muncul perspektif yang menarik—bahwa kebebasan bukan hanya soal kesempatan, tapi juga soal keberanian mengambil keputusan.

Novel ini tidak memberi jawaban pasti tentang mana yang benar. Tapi ia membuka ruang untuk berpikir. Dan itu justru yang membuatnya terasa relevan.

Bacaan Ringan yang Tetap Membekas

Secara keseluruhan, Kota Lama & Sepotong Cerita Cinta adalah buku novel yang mudah dibaca, tapi tidak mudah dilupakan. Bahasanya sederhana, alurnya tidak rumit, tapi isinya cukup dalam kalau mau dipikirkan.

Ini bukan tipe cerita yang akan membuat pembaca langsung berubah setelah selesai membaca. Tapi ada kemungkinan, beberapa bagian akan terus teringat—terutama saat sedang berada di fase hidup yang mirip dengan Jenny.

Dan mungkin itu yang membuat novel ini terasa berbeda. Ia tidak mencoba jadi besar atau dramatis. Ia hanya bercerita, dengan cara yang cukup jujur, tentang manusia dan pencariannya.

Pada akhirnya, novel ini seperti mengingatkan satu hal sederhana: kadang, untuk memahami hidup kita sendiri, kita memang perlu melihatnya dari jarak yang berbeda—even kalau itu berarti harus “pergi” sebentar ke masa lalu.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak