Cerpen Putik Safron di Sayap Izrail: Kematian Sang Marbut di Tengah Pandemi

Lintang Siltya Utami | Fathorrozi 🖊️
Cerpen Putik Safron di Sayap Izrail: Kematian Sang Marbut di Tengah Pandemi
Buku Kumpulan Cerpen Putik Safron di Sayap Izrail (Dok.Pribadi/Fathorrozi)

Kumpulan cerpen Putik Safron di Sayap Izrail ini adalah karya Akmal Nasery Basral yang ke-18. Nama pria yang lahir di Jakarta pada 1968 ini sudah tidak asing lagi. Pasalnya, pada 2011 ia meraih penghargaan Fiksi Utama Terbaik Islamic Book Fair melalui novel sejarah Sang Pencerah, kisah KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah.

Melalui buku Putik Safron di Sayap Izrail ini, penulis ingin menghadirkan kisah-kisah penuh refleksi tentang kehidupan, kemanusiaan, dan makna musibah. Karya ini lahir di tengah situasi dunia yang sedang dilanda pandemi, sehingga banyak cerita di dalamnya menyinggung kondisi sosial, kesehatan, dan pergulatan batin manusia saat menghadapi penderitaan maupun kematian. Dari kisah seorang anak yang lahir di Minangkabau dan mendapat nama aneh dari orangtuanya, sampai kisah warga Korea Selatan yang berpihak pada rakyat Indonesia pada era pergerakan. Dari tragedi kehidupan seorang penyiar televisi yang juga seorang balerina, hingga kisah marbut tua yang tak kenal lelah di era wabah yang menggila.

Ulasan Buku

Buku ini berisi 10 cerita pendek dengan tema yang beragam. Beberapa di antaranya adalah berjudul Surat Abak, Ada Seseorang di Kepalamu yang Bukan Kamu, Seribu Purnama Penantian, Tarian Kematian, Mahligai Impian, Rasuk Pagebluk, Anjay!, Senja di Tenjolaya, hingga cerpen utama Putik Safron di Sayap Izrail.

Cerita-cerita tersebut menghadirkan berbagai potret kehidupan manusia: mulai dari kisah keluarga, konflik batin, tragedi sosial, hingga pengalaman spiritual. Tema yang diangkat pun sangat luas, dari politik, hoaks di media sosial, pandemi, hingga kerinduan dan cinta kemanusiaan.

Cerpen utama dalam buku ini menceritakan tentang Mang Embot, seorang marbut masjid yang sederhana dan tulus dalam menjalankan tugasnya. Ia dikenal sebagai sosok yang rajin dan tidak pernah meninggalkan salat Subuh berjamaah selama puluhan tahun.

Tubuh Mang Embot kurus, ligat, dengan urat menonjol di sekujur tangan dan kaki. Tubuhnya didera penyakit gula dan nyeri berkala di bagian perut, yang setelah diperiksa dokter hasilnya positif kanker usus. Namun, Mang Embot menyimpan rahasia ini dari pengurus masjid, apalagi jamaah, meski istrinya pernah menyarankan agar berterus terang saja.

"Sakitku tak ada seujung kuku penderitaan Nabi Ayub. Lagi pula sebagian besar hidupku selalu sehat. Penyakit bermunculan karena tambah tua saja. Itu biasa. Kamu, Ambu, jangan pernah keceplosan mengatakan soal ini kepada siapa pun," kata Mang Embot setegas majelis hakim membacakan vonis keputusan. (Halaman 246).

Suatu hari, ia mendapat hadiah putik safron dari seorang pelanggan pijatnya, Haji Dulgani, yang baru pulang dari luar negeri. Rempah langka tersebut dipercaya memiliki banyak khasiat kesehatan.

"Safron bisa menjadi obat kanker, diabetes, dan banyak penyakit lain. Rendam sehelai benang safron dalam air putih, tunggu sampai warna air berubah kuning, lalu diminum satu gelas sehari. Untuk jaga kesehatan." (Halaman 249).

Safron pemberian Haji Dulgani selalu dibuat minuman setiap hari, sehingga Mang Embot merasakan tubuhnya kembali segar. Ia pun menghabiskan waktu dengan membersihkan sudut-sudut masjid tanpa merasa lelah. Para pengurus masjid dan jamaah terkagum-kagum kepadanya.

Namun, pada jam tiga dini hari Mang Embot tiba-tiba tidak bisa bangun. Persendian tubuhnya ngilu, beberapa kali ia terbatuk. Istrinya menyarankan agar salat Subuh di rumah saja. Tetapi ia tetap memaksa bangkit dengan susah payah dari ranjang sambil berkata, "Aku belum pernah ketinggalan salat Subuh selama 40 tahun menjadi marbut."

Bertambah hari, kesehatan Mang Embot kian menurun. Ia akhirnya meninggal dunia di tengah pandemi. Warga tak bisa melihat jenazah marbut masjid yang tulus dan baik hati itu karena dilarang dokter.

Kisah ini menjadi refleksi tentang kematian, bahwa siapa pun saat tiba waktu nyawanya direnggut ia takkan mampu menolak. Sebab, kematian adalah kepastian dan kehendak Tuhan.

Kekuatan buku ini terletak pada keragaman tema dan kedalaman pesan yang disampaikan dalam setiap cerpen. Setiap cerita mampu menyentuh sisi emosional pembaca sekaligus mengajak mereka merenungkan makna kehidupan.

Selain itu, gaya penulisan Akmal Nasery Basral terasa kuat dan hidup. Ia mampu mengemas isu-isu aktual seperti pandemi, konflik sosial, dan krisis kemanusiaan menjadi kisah yang menarik serta relevan dengan kehidupan pembaca masa kini.

Plot cerita juga sering menghadirkan kejutan atau plot twist yang membuat pembaca semakin penasaran hingga akhir cerita.

Namun meski demikian, terdapat beberapa cerpen terasa cukup berat karena sarat dengan refleksi sosial dan spiritual. Bagi sebagian pembaca yang lebih menyukai cerita ringan, beberapa kisah mungkin terasa lebih serius dan membutuhkan pemahaman yang mendalam.

Identitas Buku

  • Judul: Putik Safron di Sayap Izrail dan Kisah-kisah Lain
  • Penulis: Akmal Nasery Basral
  • Penerbit: Republika Penerbit
  • Cetakan: I, November 2020
  • Tebal: 266 Halaman
  • ISBN: 978-623-279-091-9

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak