Ulasan

Masa Depan Abad ke-25 dalam Imajinasi Kumpulan Cerpen Revolusi Nuklir

Masa Depan Abad ke-25 dalam Imajinasi Kumpulan Cerpen Revolusi Nuklir
Kumpulan Cerpen Revolusi Nuklir. (Dok. Pribadi/ Chairun Nisa)

Revolusi Nuklir merupakan kumpulan cerpen karya Eko Darmoko yang diterbitkan oleh Penerbit Basa Basi pada tahun 2021. Buku ini menghadirkan gaya bercerita yang khas: bertele-tele, absurd, tetapi tetap menyimpan kedalaman gagasan. Imajinasi yang ditawarkan seolah meruntuhkan batas antara fakta dan fiksi, membuat pembaca berada di wilayah samar—antara realitas, satire, dan permainan imajinasi.

Kumpulan ini berisi 22 cerpen, sebagian pernah dimuat di berbagai koran nasional. Menariknya, cerita-cerita tersebut tidak terikat pada satu lokasi tertentu. Latar berpindah dari berbagai belahan dunia, seakan menegaskan bahwa persoalan manusia—absurditas, kekuasaan, nafsu, dan kehampaan—terjadi di mana saja.

Cerpen pembuka Revolusi Nuklir mengusung tema distopia abad ke-25 setelah perang dunia ketiga. Dalam dunia itu, ancaman nuklir, wabah, atau genosida bukan lagi yang paling menakutkan. Justru rasa lapar, kebosanan, dan kecemasan menjadi wabah terbesar. Para intelektual dan elit global kemudian menciptakan pil nuklir untuk menekan rasa lapar manusia—sebuah solusi yang terdengar sekaligus cerdas dan absurd.

Dalam cerpen Silampukau muncul robot burung yang mampu berkicau lebih merdu dari burung asli. Robot ini dibuang oleh Profesor Farokh Bulsara karena dianggap merusak artefak sastra. Setelah terusir, ia justru menjadi pendongeng yang menceritakan sejarah kelam sastra: bagaimana manusia modern tak lagi memiliki waktu membaca novel panjang. Cerpen yang mengikuti algoritma pasar lebih dipilih—pendek dan cepat—sementara karya yang mempertahankan idealisme sastra perlahan disingkirkan.

Cerpen Tumbangnya Pohon Android menghadirkan dunia setelah kepunahan manusia. Bumi kini dikuasai manusia kera yang bangkit setelah bencana meteor di Pulau Jawa. Namun makhluk baru ini ternyata tidak jauh berbeda dari manusia sebelumnya: mereka tetap mengeksploitasi alam, menebang pohon android demi menambang permata, serta hidup dalam budaya pengkhianatan dan penjilatan terhadap penguasa.

Cerpen lain, Mantra Apocalypto, mengikuti perjalanan mistis tokoh “aku” bersama Mel Gibson yang hendak melakukan survei lokasi film Apocalypto 2 di pedalaman Jawa. Terobsesi pada teori Atlantis karya Arysio Santos, mereka mencoba menjelaskan segala sesuatu dengan ilmu pengetahuan. Namun perjalanan itu berubah aneh ketika pemandu mereka justru kesurupan makhluk gaib, menabrakkan rasionalitas modern dengan kepercayaan mistis lokal.

Dalam Ayam Kampus, kisah disampaikan dari sudut pandang sebuah keset dari sabut kelapa di depan ruang dosen. Dari posisi diam itu, keset menyaksikan berbagai sisi gelap kehidupan kampus—mulai dari penghinaan, kemunafikan, hingga transaksi tubuh demi kelulusan.

Cerpen Gentayangan memakai tiga sudut pandang: kepiting, tokoh “aku”, dan istrinya. Cerita bermula dari pantangan keluarga yang tidak boleh memakan kepiting. Namun suatu malam tokoh “aku” melanggarnya saat menghadiri pesta. Tak lama kemudian ia meninggal secara misterius dengan kepala berlubang tanpa otak, sementara polisi dan dokter forensik tidak mampu menjelaskan kejadian tersebut.

Dalam Malaikat Pencabut Nyawa, dunia medis dipertemukan dengan mitos. Seorang perempuan bernama Bella menderita penyakit kulit parah yang tak mampu disembuhkan obat rumah sakit. Anehnya, mitos lama menyebut penyakit itu hanya bisa disembuhkan oleh seorang pelacur. Ketika Vika datang dan melakukan ritual pengobatan dengan gula merah dan kelapa, penyakit itu perlahan menghilang.

Sementara itu Pencinta Mimpi Instan menggambarkan budaya kerja masyarakat Jepang yang keras. Setelah kelelahan bekerja, sebagian orang mencari pelarian lewat minuman dan hiburan malam. Kisah ini mengikuti Yoshikawa yang menemani seorang pejabat dari Indonesia—perjalanan yang akhirnya menjadi potret ironi tentang kekuasaan dan amanah yang terkikis oleh godaan dunia malam.

Cerpen Harimau Jawa di Kepala Sang Begal berkisah tentang seorang begal kebal senjata yang akhirnya bertobat setelah kematian temannya yang dibakar massa. Pertemuan dengan seorang wartawan yang hampir menjadi korbannya membuka jalan bagi perubahan hidupnya.

Dalam Kabar dari Brescia, latar pandemi COVID-19 terasa kuat. Cerita menggambarkan kehidupan manusia yang terjebak lockdown di berbagai negara, dari Indonesia hingga Italia, ketika hubungan manusia terputus oleh jarak dan ketidakpastian.

Cerpen Ibadah Sastra di Gunung Rinjani menghadirkan tokoh Gregor Samsa yang tidak lagi menjadi kecoa seperti dalam The Metamorphosis, melainkan sosok mirip Sisyphus yang mendaki Mount Rinjani sambil memikul ransel berat. Ia adalah penyair miskin yang hidup dari honor cerpen koran dan pengagum berat Albert Camus serta Franz Kafka.

Beberapa cerpen dalam buku ini juga menghadirkan rasa tidak nyaman pada pembaca. Dalam teori sastra Julia Kristeva, pengalaman ini disebut abjection—rasa jijik sekaligus tertarik ketika manusia dihadapkan pada sisi paling rapuh dari dirinya. Nuansa ini memunculkan kegelisahan eksistensial khas Kafka, membuat beberapa cerita mengusik setelah selesai dibaca.

Nilai moral dalam cerita-cerita ini sedikit. Beberapa kisah bahkan meromantisasi hubungan seks di luar pernikahan. Namun di sisi lain, cerpen-cerpen ini juga dapat dibaca sebagai kritik sosial tentang manusia modern yang kehilangan arah, terjebak antara teknologi, mitos, hasrat, dan kesepian.

Identitas Buku

Judul: Revolusi Nuklir
Penulis: Eko Darmoko
Penerbit: Penerbit Basa Basi
Tahun terbit: 2021
ISBN: 978-623-305-218-4

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda