Ulasan
Makin Bijak di Bulan Ramadan: Bedah Kitab Luqman al Hakim yang Namanya Diabadikan di Al Quran
Luqman al-Hakim wa Hikamuhu merupakan salah satu kitab turats karya ulama abad ke-12 H, yaitu Habib Ali bin Abdillah bin Hasan bin Usman al-Attas, yang ditulis sekitar tahun 1157 H. Kitab turats sendiri adalah kitab klasik yang ditulis para ulama terdahulu—umumnya menggunakan bahasa Arab—yang menjadi rujukan dalam kajian keislaman di pesantren, mencakup bidang akidah, fikih, tasawuf, tafsir, hingga hikmah.
Kitab ini sering dikaji di berbagai pondok pesantren, terutama pada bulan Ramadan dalam tradisi ngaji kilatan, karena bentuknya relatif tipis tetapi sarat makna dan pelajaran hidup. Isinya disusun dalam beberapa bab yang membahas kehidupan serta hikmah-hikmah Luqman al-Hakim.
Hikmah Sang Bijak dari Sudan dalam Kitab Luqman al-Hakim wa Hikamuhu
Pada bagian muqaddimah (pendahuluan), penulis menjelaskan pentingnya mempelajari hikmah Luqman al-Hakim. Di bagian ini juga dipaparkan berbagai riwayat mengenai sosok Luqman beserta sumber-sumbernya. Riwayat yang paling kuat menyebutkan bahwa Luqman adalah seorang lelaki berkulit hitam yang berasal dari wilayah Sudan, Afrika. Luqman bukanlah seorang nabi, tetapi namanya diabadikan sebagai salah satu surah dalam Al-Qur'an, yakni Surah Luqman. Hal ini menunjukkan bahwa ia merupakan sosok yang memiliki kedudukan istimewa karena kebijaksanaan dan nasihatnya.
Kitab ini juga memaparkan berbagai riwayat mengenai kehidupan Luqman, mulai dari tempat hidupnya, usia yang dinisbatkan kepadanya, hingga hikmah-hikmah yang lahir dari kebijaksanaannya. Konsep hikmah sendiri dijelaskan dalam bab tanbihat, baik dari sisi bahasa, istilah, maupun dari sudut pandang filsafat. Penulis bahkan menyinggung pandangan beberapa filsuf Yunani seperti Aristoteles dan Plato mengenai kebijaksanaan dan ketuhanan. Selain itu, pemikiran para filsuf besar Islam seperti Fakhr al-Din al-Razi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd juga disinggung dalam pembahasan hikmah tersebut.
Salah satu inti ajaran Luqman terdapat dalam nasihatnya kepada putranya yang juga diabadikan dalam Al-Qur’an, yaitu larangan mempersekutukan Allah karena syirik merupakan kezaliman yang besar. Selain itu, terdapat pula nasihat sosial, seperti larangan bersikap sombong kepada sesama manusia—digambarkan dengan ungkapan “jangan memalingkan pipi dari manusia”—serta pengingat bahwa sekecil apa pun perbuatan manusia, bahkan yang dilakukan dalam kegelapan, tetap diketahui oleh Allah. Luqman juga menekankan pentingnya berbakti kepada kedua orang tua serta bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah, sebagaimana tercermin dalam nasihat-nasihat yang terdapat dalam Surah Luqman.
Dalam bab Maksurat Luqman al-Hakim, penulis menghimpun sekitar 77 nasihat Luqman kepada putranya yang sangat relevan hingga masa kini. Nasihat-nasihat tersebut mencakup berbagai bidang kehidupan, mulai dari agama, sosial, ekonomi, politik, pendidikan, hingga kesehatan. Di antaranya adalah nasihat agar tidak menjilat penguasa demi kepentingan pribadi serta peringatan agar tidak menyerahkan urusan kepada orang yang tidak ahli. Pesan ini seolah mengingatkan pentingnya memilih pemimpin yang memiliki kemampuan dan tanggung jawab, bukan sekadar berdasarkan hubungan kedekatan atau kepentingan sesaat.
Nasihat Luqman juga menyentuh persoalan akhlak dan kehidupan sehari-hari. Ia mengajarkan agar manusia menjaga hati dan lisannya, karena kebijaksanaan lahir dari hati yang bersih dan perkataan yang terjaga. Salah satu petuah yang terkenal adalah anjuran untuk menjaga lidah sebagaimana seseorang menjaga harta berharganya. Selain itu, Luqman menasihati agar manusia bersikap rendah hati dalam berjalan dan berbicara, tidak angkuh terhadap sesama, serta berhati-hati dalam memilih teman dan menghadapi musuh.
Menariknya, beberapa nasihat Luqman juga dapat dibaca dalam konteks kesehatan mental pada masa sekarang. Ia mengingatkan agar seseorang tidak terus-menerus bercerita kepada orang yang tidak mau mendengarkan, karena hal itu hanya akan melukai dirinya sendiri. Dalam kehidupan sosial, Luqman juga mendorong manusia untuk mengasihi orang miskin karena beratnya ujian hidup mereka, sekaligus mengingatkan bahwa orang kaya pun patut dikasihani apabila sedikit bersyukur. Ia juga menekankan pentingnya keseimbangan antara bekerja, berusaha, dan berdoa, sehingga kehidupan dunia dan akhirat berjalan seimbang.
Pada bagian penutup, kitab ini memuat dua kisah tentang Luqman al-Hakim yang diriwayatkan secara sahih. Secara keseluruhan, kitab ini ditulis menggunakan bahasa Arab fusha (klasik) dengan struktur kalimat yang relatif mudah dipahami tanpa banyak istilah yang asing, sehingga cocok dipelajari oleh para santri maupun pembaca umum yang ingin menggali hikmah kehidupan dari nasihat-nasihat Luqman al-Hakim.