Ulasan

Dari Pengusaha Sukses ke Hidup 'Serabutan': Kisah Jatuh Bangun Keluarga Cemara yang Bikin Terharu

Dari Pengusaha Sukses ke Hidup 'Serabutan': Kisah Jatuh Bangun Keluarga Cemara yang Bikin Terharu
Keluarga Cemara (Dok. Pribadi/Oktavia)

Novel Keluarga Cemara karya Arswendo Atmowiloto pertama kali dirilis pada tahun 1981. Cerita ini dikenal luas karena menggambarkan kehidupan sebuah keluarga sederhana yang memilih bertahan hidup dengan kejujuran, kebersamaan, dan kasih sayang.

Kisahnya begitu dekat dengan kehidupan masyarakat sehingga kemudian diadaptasi menjadi berbagai bentuk media, mulai dari sinetron televisi hingga film layar lebar.

Buku Keluarga Cemara  sebenarnya merupakan kompilasi dari tiga cerita, yaitu Keluarga Cemara, Musik Musim Hujan, dan Kupon Kemenangan. Melalui tiga kisah tersebut, pembaca diajak mengikuti kehidupan sehari-hari sebuah keluarga sederhana yang penuh nilai moral.

Sinopsis Buku

Tokoh utama dalam cerita ini adalah keluarga kecil yang terdiri dari Abah, Emak, dan tiga anak mereka: Euis, Cemara atau Ara, serta Agil. Abah berperan sebagai kepala keluarga yang bekerja keras demi menghidupi keluarganya. Ia tidak memiliki pekerjaan tetap dan sering bekerja serabutan, mulai dari menarik becak hingga menjadi buruh apa saja yang bisa dilakukan.

Sementara itu Emak adalah sosok ibu yang sabar dan penuh kasih. Ia mengurus rumah tangga sekaligus membuat opak untuk dijual demi membantu perekonomian keluarga. Opak tersebut kemudian dijajakan oleh Euis, anak sulung mereka yang masih duduk di kelas enam sekolah dasar.

Euis adalah anak yang paling tua sekaligus yang paling banyak memikul tanggung jawab. Ia membantu Emak membuat opak, mengantar adik ke sekolah, dan tetap berusaha belajar dengan baik.

Di sisi lain ada Cemara atau Ara, anak kedua yang baru masuk taman kanak-kanak. Ara digambarkan sebagai anak yang polos dan ceria. Adapun Agil adalah anak bungsu yang masih kecil dan belum bersekolah.

Nama Cemara sendiri dipilih karena ia lahir pada hari Natal. Hal ini juga menunjukkan bahwa keluarga tersebut adalah keluarga Kristen, sesuatu yang sering tidak disadari oleh penonton sinetronnya di televisi.

Walau pada awal cerita keluarga ini digambarkan hidup sangat sederhana bahkan sering kekurangan, ternyata mereka tidak selalu miskin. Dalam beberapa bagian cerita diungkap bahwa Abah pernah menjadi pengusaha sukses. Ia memiliki dua perusahaan: satu bergerak di bidang ekspor impor dan satu lagi di bidang asuransi.

Pada masa itu Abah memiliki puluhan karyawan dan beberapa mobil. Ia juga sering bepergian ke luar negeri untuk urusan bisnis. Namun kehidupan nyaman tersebut berakhir ketika seorang rekan bisnis menipunya. Usaha Abah bangkrut dan keluarga mereka harus meninggalkan kehidupan lama di Jakarta dan pindah ke sebuah kota kecil.

Dari seluruh anggota keluarga, hanya Euis yang sempat merasakan masa kejayaan tersebut. Meski demikian, ia digambarkan sebagai anak yang tidak manja dan mampu menyesuaikan diri dengan keadaan baru. Ia menerima perubahan hidup keluarganya dengan lapang dada.

Kelebihan dan Kekurangan

Salah satu kekuatan utama novel ini adalah nasihat-nasihat bijak dari Abah kepada anak-anaknya. Abah selalu menekankan pentingnya kejujuran, kebaikan, dan sikap saling membantu sesama.

Misalnya ketika menemukan barang di jalan, Abah mengajarkan agar barang tersebut dikembalikan kepada pemiliknya atau dilaporkan ke kantor polisi. Baginya, mengambil sesuatu yang bukan hak kita adalah tindakan yang salah, meskipun tidak ada orang yang mengetahui.

Abah juga menanamkan prinsip bahwa seseorang tidak perlu malu karena miskin. Dalam salah satu cerita, Euis pernah merasa malu ketika teman sekolahnya menghina opak jualannya sebagai “makanan kuda”. Abah kemudian menasihatinya bahwa yang patut membuat seseorang malu bukanlah kemiskinan, melainkan perbuatan jahat.

Selain itu Abah digambarkan sebagai sosok ayah yang tidak segan mengakui kesalahan. Sikap ini mengajarkan bahwa manusia tidak luput dari kesalahan, tetapi yang penting adalah keberanian untuk mengakuinya dan memperbaikinya.

Pesan Moral

Nilai-nilai sederhana yang disampaikan dalam Keluarga Cemara membuat cerita ini tetap relevan hingga sekarang. Pesan tentang kejujuran, kerja keras, dan kebersamaan keluarga menjadi hal yang universal dan mudah dipahami oleh pembaca dari berbagai generasi.

Tidak mengherankan jika kisah ini kemudian diadaptasi menjadi sinetron yang sangat populer di Indonesia dan bertahan selama bertahun-tahun di layar televisi. Karakter Abah yang bijak, Emak yang sabar, serta anak-anak yang penuh semangat menjadikan keluarga ini simbol keluarga ideal yang hangat dan penuh kasih.

Keluarga Cemara bukan hanya sekadar cerita tentang kemiskinan atau kesederhanaan. Lebih dari itu, novel ini menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak selalu bergantung pada kekayaan.

Selama keluarga tetap saling mendukung dan hidup dengan kejujuran, mereka masih dapat menemukan kebahagiaan di tengah berbagai kesulitan hidup.

Identitas Buku

  • Judul: Keluarga Cemara 1
  • Penulis: Arswendo Atmowiloto
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Tahun Terbit: 2023
  • Jumlah Halaman: 288 halaman
  • ISBN: 9789792292633
  • Jenis: Fiksi / Slice of Life

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda