Ulasan
Review Serial Rooster: Komedi Hangat Steve Carell di Kampus Liberal Arts
Serial Rooster adalah salah satu rilis HBO paling dinanti di awal 2026. Dibuat oleh Bill Lawrence (pencipta Ted Lasso dan Shrinking) bersama Matt Tarses, serial komedi ini menghadirkan Steve Carell dalam peran utama sebagai Greg Russo, penulis novel beach read laris yang tokoh utamanya adalah detektif swasta bernama Rooster.
Chemistry Ayah dan Anak yang Terasa Alami

Premisnya sederhana tapi penuh potensi: Greg datang ke Ludlow College, kampus seni liberal di New England, untuk memberikan ceramah. Namun, kunjungan itu berubah menjadi petualangan reinvention diri saat ia terlibat dalam kehidupan putrinya, Katie (Charly Clive), yang sedang menghadapi krisis pernikahan. Serial ini menggabungkan humor cringey khas Carell dengan drama keluarga yang heartfelt, latar kampus yang penuh intrik, dan sentuhan satire ringan tentang dunia akademik serta privilege.
Rooster tayang perdana pada 8 Maret 2026 di HBO pukul 10 malam ET/PT (sekitar pukul 9 pagi WIB keesokan harinya). Setiap episode baru rilis setiap Minggu, dengan total 10 episode di season 1 hingga 24 Maret 2026. Tiga episode sudah tayang Episode 1: Release the Brown Fat pada 8 Maret, Episode 2: Trousers pada 15 Maret, dan Episode 3: White Whale pada 22 Maret.
Episode berikutnya, Episode 4, akan rilis 29 Maret 2026. Di Indonesia, serial ini bisa streaming eksklusif di HBO Max dengan subtitle bahasa Indonesia. Tidak ada opsi gratis saat ini; Anda perlu langganan HBO Max untuk menonton full episode. Beberapa platform seperti Prime Video juga menawarkannya di wilayah tertentu, tapi HBO Max adalah yang resmi dan paling lengkap.
Review Serial Rooster

Secara visual, Rooster indah dengan latar kampus musim gugur yang romantis—daun kuning berguguran, gedung bata merah, dan jalan setapak yang tenang. Pengambilan gambar dilakukan di University of the Pacific di California yang mewakili Ludlow College. Sinematografi Blake McClure berhasil menangkap nuansa nostalgia sekaligus kekinian, sementara musik opening I Played the Fool karya Michael Stipe dan Andrew Watt langsung membawa vibe feel-good yang khas produksi Bill Lawrence.
Akting dan chemistry menjadi kekuatan utama. Steve Carell, yang juga executive producer, tampil memukau sebagai Greg—pria paruh baya yang awkward tapi penuh kasih sayang. Ia membawa campuran humor deadpan ala The Office dengan kedalaman emosional yang terasa tulus.
Greg bukan hero sempurna; ia sering overstep batas sebagai ayah, tapi Carell membuat kita peduli padanya. Charly Clive sebagai Katie luar biasa—energinya meledak-ledak, penuh frustrasi dan humor getir saat menghadapi perselingkuhan suaminya, Archie (Phil Dunster). Chemistry ayah-anak mereka adalah jantung serial ini; dialog mereka terasa alami, kadang menyentuh, kadang lucu sekali.
Pendukung lain tak kalah kuat. Danielle Deadwyler sebagai Dylan Shepard, profesor sastra yang eksentrik dan suportif, mencuri banyak adegan dengan energi exuberant-nya. John C. McGinley (Dr. Cox dari Scrubs) sebagai presiden kampus Walter Mann memberikan komedi absurd lewat obsesinya pada cold plunge dan activating brown fat. Rory Scovel sebagai polisi kampus yang konyol juga jadi highlight. Ensemble ini terasa hidup, mirip keluarga besar di Ted Lasso—semua punya masalah, tapi saling mendukung.
Tema utama Rooster adalah hubungan ayah-anak dewasa, reinvention di usia paruh baya, dan dinamika kampus modern yang penuh politik identitas serta drama pribadi. Serial ini tidak terlalu dalam soal isu sosial, tapi cukup pintar menyentil privilege dan ekspektasi keluarga.
Humornya campuran slapstick, dialog cepat, dan momen cringey yang relatable—seperti saat Greg mencoba menjadi cool di depan mahasiswa. Episode awal fokus pada konflik Katie yang berujung kebakaran rumah (secara metaforis dan literal), sementara Greg terpaksa jadi writer-in-residence. Cerita berkembang lambat tapi steady, membangun dunia kampus yang quirky tanpa terasa dipaksakan.
Kelebihan serial ini jelas ada pada heart yang hangat, akting kelas atas, dan vibe feel-good yang jarang ditemui di komedi HBO belakangan. Kalau boleh jujur sih, serial ini fresh dan feel-good seperti Shrinking. Penonton di Amerika Serikat mencatat 2,4 juta viewers di tiga hari pertama—rekor komedi HBO dalam 10 tahun terakhir.
Akan tetapi, bukan tanpa kekurangan. Menurutku ceritanya agak dated dan penuh klise—situasi unbelievable, dialog kadang terlalu mudah, serta minim konsekuensi atas kesalahan karakter. Karena ekspektasi tinggi dari nama Lawrence dan Carell. Bagi yang suka komedi tajam ala The Bear, Rooster terasa terlalu ringan dan aman. Tapi justru itu kekuatannya: serial ini bukan untuk mengguncang, melainkan untuk menghibur dan mengingatkan bahwa keluarga tetap penting di tengah kekacauan hidup.
Secara keseluruhan, Rooster adalah tontonan yang pas untuk akhir pekan. Dengan 10 episode berdurasi 30-34 menit, mudah dicerna tanpa bikin capek. Kalau kamu penggemar Ted Lasso, Scrubs, atau Carell di The Office, ini wajib tonton. Hingga episode 3, serial ini sudah menunjukkan potensi jadi salah satu komedi terbaik 2026—hangat, lucu, dan penuh harapan.
Di Indonesia, langsung buka HBO Max, siapkan popcorn, dan nikmati perjalanan Greg Russo yang “cock-a-doodle-doo” absurd tapi menyentuh hati. Sangat aku rekomendasikan untuk streaming sekarang—jangan lewatkan chemistry Carell dan Clive yang bikin ketagihan!