Ulasan

Beda Frekuensi: Ketika Cinta Tak Harus Selalu Sejalan

Beda Frekuensi: Ketika Cinta Tak Harus Selalu Sejalan
Beda Frekuensi (Dok. Pribadi/Oktavia)

Novel Beda Frekuensi karya Umi Astuti merupakan salah satu buku fiksi yang mengangkat tema percintaan dengan pendekatan yang realistis dan emosional. Diterbitkan oleh Batik Publisher, novel setebal 512 halaman ini menghadirkan kisah tentang hubungan yang tampak sempurna di awal, namun perlahan retak karena perbedaan yang tak terjembatani.

Sejak halaman pertama, pembaca langsung diajak merenung lewat premis sederhana namun mengena: manusia sering kali merasa tidak puas dengan keadaan. Saat menghadapi masalah, kita berharap semuanya segera selesai.

Namun ketika hidup terasa mulus, justru muncul kekhawatiran akan datangnya masalah baru. Pemikiran ini menjadi benang merah dalam perjalanan tokoh utama yang harus menghadapi realitas pahit dalam hubungan cintanya.

Sinopsis Novel

Cerita berfokus pada seorang perempuan yang menjalin hubungan dengan Parama Pringgayudha, sosok laki-laki yang pada awalnya digambarkan sebagai pasangan ideal. Tenang, dewasa, dan nyaris tanpa cela. Namun seiring berjalannya waktu, ekspektasi itu mulai runtuh.

Parama ternyata menyimpan sisi lain yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Kejutan demi kejutan muncul, bukan dalam bentuk romantisme, melainkan konflik yang menguji ketahanan hubungan mereka.

Konflik utama dalam novel ini bukan sekadar perbedaan karakter, melainkan sesuatu yang lebih dalam: perbedaan “frekuensi”. Istilah ini menjadi metafora untuk menggambarkan ketidaksinkronan cara berpikir, merasakan, dan memaknai kehidupan.

Dua orang bisa saja saling mencintai, tetapi jika tidak berada pada frekuensi yang sama, hubungan tersebut akan dipenuhi kesalahpahaman.

Hal menarik dari Beda Frekuensi adalah bagaimana penulis menggambarkan konflik melalui hal-hal kecil yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, pertengkaran yang terjadi hanya karena hal sepele seperti kecoak di rumah atau celengan yang pecah.

Namun dari hal-hal kecil itulah terlihat betapa besar jarak emosional di antara dua individu. Satu rumah yang hanya dihuni dua orang bisa terasa sangat bising, bukan karena suara, tetapi karena ketegangan yang terus menumpuk.

Kelebihan dan Kekurangan

Gaya penulisan Umi Astuti terbilang ringan dan mengalir, sehingga mudah diikuti oleh pembaca remaja maupun dewasa muda. Dialog-dialognya terasa natural, tidak berlebihan, dan mampu menggambarkan emosi tokoh dengan kuat. Selain itu, narasi yang digunakan juga reflektif, sering kali mengajak pembaca untuk ikut berpikir tentang pengalaman pribadi mereka sendiri dalam menjalani hubungan.

Dari segi tema, novel ini menawarkan perspektif yang cukup relevan dengan kehidupan modern. Di era sekarang, banyak orang terjebak dalam hubungan yang terlihat baik-baik saja dari luar, tetapi sebenarnya rapuh di dalam.

Beda Frekuensi mengingatkan bahwa cinta saja tidak selalu cukup. Diperlukan kesamaan nilai, komunikasi yang sehat, dan kesiapan untuk saling memahami.

Pertanyaan besar yang diangkat dalam novel ini adalah: apakah perbedaan harus dipertahankan atau justru menjadi alasan untuk berpisah? Tidak ada jawaban mutlak. Penulis membiarkan pembaca menafsirkan sendiri, seolah ingin mengatakan bahwa setiap hubungan memiliki dinamika dan batasannya masing-masing.

Selain itu, novel ini juga menyentuh isu kemandirian emosional. Tokoh utama dihadapkan pada pilihan sulit antara mempertahankan hubungan yang tidak sehat atau berani mengambil langkah untuk dirinya sendiri. Dilema ini menjadi sangat relevan, terutama bagi pembaca muda yang sedang belajar memahami arti hubungan yang sehat.

Secara keseluruhan, Beda Frekuensi bukan sekadar kisah cinta remaja biasa. Ia adalah refleksi tentang realitas hubungan, tentang ekspektasi yang sering kali tidak sejalan dengan kenyataan, serta tentang keberanian untuk mengambil keputusan.

Dengan cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan pesan yang kuat, novel ini layak dibaca oleh siapa saja yang ingin memahami bahwa dalam cinta, kesamaan frekuensi bisa jadi lebih penting daripada sekadar perasaan.

Identitas Buku

  • Judul: Beda Frekuensi
  • Penulis: Umi Astuti
  • Penerbit: Batik Publisher
  • Tanggal Terbit: 21 September 2020
  • Tebal:512 halaman
  • ISBN: 9786239472504
  • Genre: Fiksi / Roman Remaja

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda