Ulasan

Perempuan di Ujung Negeri: Suara Pinggiran yang Menggema dari Sangihe

Perempuan di Ujung Negeri: Suara Pinggiran yang Menggema dari Sangihe
Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut (Dok.Pribadi/Oktavia)

Novel Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut karya Dian Purnomo adalah potret kuat tentang perjuangan masyarakat di wilayah terluar Indonesia yang kerap luput dari perhatian.

Terbit pada 2023, novel ini mengangkat isu lingkungan dan ketimpangan kekuasaan melalui kisah yang emosional, sekaligus membuka mata pembaca terhadap realitas yang sering hanya muncul sekilas di berita.

Latar cerita berada di Kepulauan Sangihe, wilayah paling utara Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara lain. Sangihe dikenal sebagai daerah yang kaya akan keindahan alam. Laut biru, pantai yang masih alami, serta kehidupan masyarakat yang sangat bergantung pada hasil laut.

Sinopsis Novel

Mayoritas penduduk Sangihe bekerja sebagai nelayan, hidup berdampingan dengan alam yang menjadi sumber penghidupan sekaligus identitas mereka.

Namun keindahan itu terancam oleh kehadiran perusahaan tambang yang ingin mengeksploitasi sumber daya alam di wilayah tersebut. Dari sinilah konflik utama bermula: benturan antara kepentingan ekonomi skala besar dan hak masyarakat lokal untuk mempertahankan tanah serta laut mereka.

Tokoh utama dalam novel ini adalah Shalom Mawira, seorang perempuan muda yang digambarkan berani, cerdas, blak-blakan, dan sedikit “nekat”. Ia menjadi garda terdepan dalam perlawanan terhadap perusahaan tambang. Sosok Shalom tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga memiliki keteguhan mental yang luar biasa. Ia bahkan harus menghadapi intimidasi, kriminalisasi, hingga penjara karena perjuangannya.

Di sisi lain, ada Mirah, seorang perempuan dari Jakarta yang bekerja di sebuah lembaga dan ditugaskan ke Sangihe selama beberapa tahun. Melalui sudut pandang Mirah, pembaca diajak memahami konflik ini dari perspektif “orang luar”.

Mirah menjadi jembatan antara pembaca dan realitas Sangihe: awalnya asing, kemudian perlahan merasa terikat, hingga akhirnya ikut terlibat dalam perjuangan.

Dinamika antara Shalom dan Mirah menjadi kekuatan emosional dalam cerita. Jika Shalom adalah simbol perlawanan, maka Mirah adalah representasi kebimbangan. Antara ingin membantu dan terikat oleh batasan profesional serta rasa takut.

Konflik batin Mirah terasa relevan, terutama bagi pembaca yang mungkin ingin peduli, tetapi sering merasa tidak berdaya.

Salah satu bagian paling mengharukan dalam novel ini adalah ketika perjuangan mencapai titik ekstrem. Shalom digambarkan hampir kehilangan nyawa saat berhadapan langsung dengan situasi berbahaya di laut.

Dalam kondisi kritis itu, ia merasakan kehadiran sosok ayahnya yang telah tiada. Sebuah momen yang sulit dijelaskan secara logika, tetapi sarat makna emosional dan spiritual. Adegan ini memperlihatkan bagaimana kekuatan batin dan kenangan bisa menjadi sumber bertahan dalam situasi paling genting.

Kelebihan dan Kekurangan

Selain konflik utama, novel ini juga kaya akan kritik sosial. Dian Purnomo secara tajam menyoroti bagaimana hukum sering kali tidak berpihak pada masyarakat kecil. Mereka yang memiliki kekuasaan dan modal dapat dengan mudah mengabaikan aturan, sementara masyarakat lokal harus berjuang keras hanya untuk mempertahankan hak dasar mereka.

Realitas ini disampaikan tanpa terasa menggurui, tetapi cukup kuat untuk menggugah kesadaran.

Menariknya, novel ini juga menyisipkan unsur budaya lokal Sangihe. Mulai dari makanan khas hingga kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal mistis, semua dihadirkan untuk memperkaya cerita. Hal ini membuat latar tidak hanya menjadi tempat, tetapi juga bagian dari identitas yang ingin dipertahankan.

Meski demikian, novel ini tidak sepenuhnya tanpa kekurangan. Beberapa pembaca mungkin merasa alur cerita berjalan agak lambat di bagian tertentu, atau dialog yang kurang natural bagi penutur lokal. Namun, hal tersebut tidak mengurangi kekuatan pesan yang ingin disampaikan.

Secara keseluruhan, Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut tidak hanya bercerita tentang satu daerah, tetapi juga tentang banyak wilayah lain yang menghadapi masalah serupa. Novel ini mengingatkan bahwa di balik setiap konflik lingkungan, ada manusia, ada rumah, dan ada masa depan yang dipertaruhkan.

Lebih dari sekadar fiksi, buku ini adalah ajakan untuk lebih peduli, bahwa menjaga alam bukan hanya tanggung jawab mereka yang tinggal di sana, tetapi juga kita semua sebagai bagian dari bangsa yang sama.

Identitas Buku

  • Judul: Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut
  • Penulis: Dian Purnomo
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Tahun Terbit: 2023
  • ISBN: 9786020673004
  • Tebal: 288 halaman
  • Genre: Fiksi, Sastra Indonesia, Ekofeminisme

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda