Ulasan
Review The Art of Sarah: Saat Kemewahan Jadi Topeng yang Menutup Kepalsuan
Bagaimana jadinya kalau barang-barang mewah dengan merek terkenal yang selama ini kita lihat ternyata “palsu”?
Pertanyaan tersebut rasanya sangat menghantui saya sepanjang menonton drama The Art of Sarah. Bagaimana tidak, di drama Korea ini, penonton diperlihatkan proses pembuatan hingga penjualan tas mewah dengan merek yang sangat terkenal. Namun, di balik semua kesan glamor yang terlihat, ada kebohongan yang enggan diungkapkan, bahkan oleh pembeli tas itu sendiri.
Sinopsis The Art of Sarah
Bercerita tentang Sarah Kim (Shin Hye-sun), pemilik butik tas mewah dengan merek Boudoir yang memiliki identitas misterius. Penemuan jasad seorang wanita di sebuah selokan dengan identitasnya kemudian membuka satu demi satu rahasia yang selama ini tersembunyi dengan begitu rapi.
Di sisi lain, ada Park Mu-gyeong (Lee Joon-hyuk) yang merupakan petugas polisi penyelidik kasus tersebut menemukan banyak keanehan dari identitas jasad tersebut. Mulai dari namanya yang tidak teridentifikasi oleh sistem, hingga misteri-misteri lainnya yang tidak pernah ia duga.
Ulasan The Art of Sarah
Sejak melihat upcoming drama yang akan tayang di awal 2026, premis yang diangkat dalam The Art of Sarah langsung menarik perhatian saya. Mulai dari penipuan, pembunuhan, hingga teka-teki identitas, semua tema diangkat dalam satu cerita yang sangat epic.
Di episode pertama, penonton disuguhkan dengan adegan yang berlatar di sebuah butik tas mewah. Desain interior, pencahayaan, penataan ruang, hingga suasana di tempat itu terasa sangat “wah” di mata saya.
Lalu, ada satu adegan yang cukup mencuri perhatian, Sarah Kim dengan gayanya yang glamor dan elegan berjalan di karpet merah. Namun, di depan sana, ada seseorang yang mengenakan pakaian sama persis dengan Sarah. Sampai di sana, saya spontan mengernyitkan dahi dan bertanya dalam hati, “Siapa dia?”
Ada kalimat Sarah di awal kisahnya, “Apa yang kau lihat bukanlah segalanya.” Saya merasa kalimat ini sangat relevan. Di dunia yang penuh kepalsuan ini, sering kali seseorang hanya menampakkan bagaimana ia ingin terlihat di mata orang lain. Namun, orang melihat kadang lupa dan menilai hal itu sebagai pribadinya secara keseluruhan. Padahal kita tak pernah tahu, apa yang ada di balik visual seseorang yang bisa kita lihat secara nyata.
Seperti halnya saat kita melihat pencapaian orang-orang yang ada di media sosial, kita tak pernah menyaksikan proses jatuh-bangun yang mereka alami untuk bisa mencapai hal tersebut. Dan tanpa tahu tentang itu, kita sering membandingkan diri dengan mereka.
Lebih dari itu, yang tak kalah menarik dari drama ini adalah karakter Sarah Kim sendiri. Meskipun digambarkan sebagai sosok yang manipulatif dan memiliki banyak identitas, dia punya sisi rapuh yang seolah membuat kita ingin memahami dirinya. Namun, di saat yang sama, kita ditunjukkan dengan karakternya yang dingin dan penuh perhitungan hingga membuat kita berpikir lebih baik menjaga jarak.
Akting Shin Hye-sun di drama ini benar-benar membuat saya terpukau. Dia mampu menunjukkan berbagai karakter berbeda melalui ekspresi dan tatapan matanya. Sepertinya, memang bukan alasan aktris cantik ini kerap disebut sebagai “spesialis peran krisis identitas” oleh warganet mengingat di drama lainnya, ia juga sempat memerankan karakter wanita manipulatif.
Karakter Sarah Kim yang seperti itu pun bukan muncul tanpa alasan. Di masa lalunya, dia mengalami banyak hal buruk yang membentuk luka dan trauma begitu mendalam di hatinya. Trauma tersebut akhirnya melahirkan sifatnya yang ambisius, dingin, dan manipulatif.
Di sisi lain, Lee Joon-hyuk tampil sebagai seorang petugas polisi yang menyelidiki kasus penemuan jasad beridentitas Sarah Kim. Ia digambarkan dengan karakter yang cerdas dan logis dalam melihat segala sesuatu. Chemistry-nya dengan Hye-sun di beberapa episode drama ini, membuat saya merasa ingin mempersatukan keduanya. Tetapi sayangnya, ini bukan drama romansa.
Dari segi alur, saya rasa drama The Art of Sarah bukan tipe yang bisa dinikmati sambil lalu. Meski ada ketegangan yang terasa, tempo drama ini cenderung lambat. Penggunaan alur maju-mundur juga membuat penonton harus benar-benar fokus saat menonton agar memahami alurnya secara menyeluruh. Namun, dengan itu semua pun ternyata masih ada beberapa bagian cerita yang perlu penjelasan lebih detail untuk membantu penonton memahami seluruh kisah.
Menonton drama ini membuat saya menyadari bahwa tidak semua kepalsuan selalu berbentuk barang tiruan. Ada kalanya, yang palsu justru adalah identitas yang kita bangun untuk bertahan hidup.
Sarah Kim mungkin menjual tas-tas mewah yang tidak sepenuhnya asli, tetapi jauh sebelum itu, ia lebih dulu “menjual” versi dirinya yang ingin dilihat sempurna oleh orang lain. Cantik, elegan, berkelas, dan tidak tersentuh. Padahal di balik semua kemewahan itu, ada luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Rasanya, hal semacam ini tidak hanya terjadi di drama. Di kehidupan nyata, banyak orang juga melakukan hal yang sama—menyembunyikan retak dengan penampilan yang terlihat baik-baik saja. Menampilkan senyum, pencapaian, dan kemewahan, sementara di dalamnya ada ketakutan, trauma, atau kehampaan yang tidak ingin diketahui siapa pun.
Melalui drama ini, saya seperti diingatkan bahwa sesuatu yang terlihat mahal belum tentu bernilai, sesuatu yang terlihat sempurna belum tentu utuh, dan seseorang yang tampak kuat belum tentu tidak sedang rapuh.
The Art of Sarah bukan hanya menyuguhkan misteri pembunuhan dan manipulasi identitas, tetapi juga meninggalkan pertanyaan yang cukup mengganggu: seberapa banyak dari diri kita yang benar-benar asli, dan seberapa banyak yang selama ini hanya kita ciptakan agar diterima?
Jika Sobat Yoursay menyukai drama psikologi dengan teka-teki identitas, karakter abu-abu, dan alur yang membuat terus menebak, The Art of Sarah bisa menjadi tontonan yang layak masuk watchlist. Hanya saja, pastikan menontonnya dengan fokus, karena drama ini bukan hanya meminta perhatian mata, tetapi juga pikiran.