Ulasan

Trauma dan Beban Mental yang Ditularkan Lewat Film Grave of the Fireflies

Trauma dan Beban Mental yang Ditularkan Lewat Film Grave of the Fireflies
Poster Grave of the Fireflies (IMDb)

Situasi geopolitik global yang kian memanas saat ini, berpadu dengan berita-berita seputar Selat Hormuz, jujur makin membuat was-was. Kengerian akan meletusnya perang, yang sudah pasti begitu brutal dan mengerikan untuk jaman sekarang.

Teringatlah satu film animasi yang menggambarkan situasi Perang Dunia 2 di Jepang, berjudul Grave of the Fireflies.

Melansir IMDb, Grave of the Fireflies atau dalam bahasa Jepang bernama Hotaru no Haka adalah film animasi yang ditulis dan disutradarai oleh Isao Takahata yang dirilis pada 16 April 1988, serta dikerjakan oleh Studio Ghibli.

Film ini diadaptasi dari cerpen semiautobiografi berjudul sama karya Akiyuki Nosaka yang terbit tahun 1967.

Perjuangan Seita dan Setsuko yang Mencapai Akhir

Perang Dunia Kedua sudah pasti menjadi salah satu materi pelajaran sejarah jaman sekolah. Ketika Amerika Serikat menjatuhkan bom atom ke kota Hiroshima dan Nagasaki, sehingga keduanya runtuh seketika. Namun, perang sesungguhnya nggak hanya menyerang dua kota saja, melainkan banyak negara.

Hal itulah yang dialami oleh tokoh Seita dan adiknya, Setsuko, dalam film ini. Dengan berlatarkan kota Kobe, Jepang, mereka terpaksa meninggalkan rumah hingga terpisah dari orangtua. Ayah mereka ikut bertempur, sedangkan sang ibu ikut sebagai relawan.

Bahkan situasi semakin buruk saat kedua orangtua mereka gugur dengan keadaan mengenaskan. Kelaparan melanda negeri, hingga empati nyaris tiada lagi. Krisis mengguncang negara.

Puncaknya terjadi saat Setsuko meninggal akibat terkena malnutrisi sebagai efek bencana kelaparan, dan infeksi kulit karena lingkungan yang tidak terawat.

Pada akhir film, arwah Seita dikisahkan duduk bersisian dengan arwah Setsuko, berlatar belakang padang rumput dan kunang-kunang, sambil mengamati kemajuan Jepang yang kian gemerlap.

Perang Bukanlah Situasi Keren

Dunia memang selalu dipenuhi gonjang-ganjing. Entah laju inflasi, pemangku kebijakan yang lucu, hingga drama tetangga yang mewarnai hari-hari. Mungkin kita lelah dengan itu semua, tetapu Grave of the Fireflies menyajikan situasi yang lebih melelahkan.

Bayangkan saat anak-anak dipaksa menyaksikan orangtuanya mati kena serangan, atau pengeboman, bukankah mental mereka hancur? Belum lagi harus mencari shelter perlindungan, dengan sekian ancaman penyakit dan kelaparan mengintai. Bukankah dijulidin tetangga lebih baik rasanya?

Grave of the Fireflies telah memberikan gambaran dampak perang terhadap rakyat sipil. Kehancuran wilayah yang masif, hingga kehancuran generasi manusia bahkan peradaban. Para penyintasnya pun tentu harus mengemban trauma sepanjang hidupnya.

Jadi, perang bukanlah hal keren yang harus dibanggakan, apalagi digagas sedemikian rupa demi gengsi. Intinya, kedamaian adalah harga mutlak!

Film yang Bikin Nangis Hingga Trauma Beberapa Waktu

Grave of the Fireflies sejatinya adalah film yang direkomendasikan kawan padaku semasa SMA dulu. Dan, aku baru menonton sekali, dengan hasil nggak mau menonton ulang. Kenapa?

Kupikir, Studio Ghibli berhasil menggarap Grave of the Fireflies dengan ‘kejam’ mengingat reputasi studionya yang ‘sepenuh hati’. Iya, mereka kejam karena sukses bikin penonton trauma. Bukan hanya pada penggambaran situasi perang atau gerakan animasinya saja, tetapi merasuk ke jiwa. Baik dari lanskap kehancuran wilayah, duka tokoh-tokohnya, luka fisik yang tampil nyata, sampai pada menyerahnya manusia.

Aku meringis ngeri sewaktu scene perang itu terjadi, karena teror di wajah Seita terlihat realistis. Namun tangisku pecah begitu Seita menatap kosong jenazah Setsuko yang kurus kering, dan melakukan kremasi sendirian. 

Ditambah dengan trauma sewaktu ending film, dimana arwah Seita (dia dikisahkan meninggal sebagai gelandangan di stasiun kereta) duduk bersisian dengan Setsuko, sambil memakan permen kalengan berlatar padang rumput dan kawanan kunang-kunang. Mereka berdua menatap kedamaian Jepang, yang tampak gemerlap penuh lampu dan kemajuan.

Seharusnya kita ikut bahagia karena perang usai, dan negara kembali bangkit. Namun, justru kedamaian itulah yang mencoba melepaskan misteri pengorbanan masa lalu yang menusuk sanubari.

Apa Kabar Seiyu-nya Ya?

Aku bertanya-tanya, bagaimana keadaan Tsutomu Tatsumi saat dia harus membawakan suara Seita. Dengan sekian kejadian itu, tidakkah dia menangis di belakang layar?

Pada film, Seita dikisahkan selalu mencoba tenang dan menenangkan adiknya yang masih kecil. Walau aku ikutan hancur mendengar suara Tsutomu Tatsumi saat scene Seita menangisi kematian Setsuko sih.

Sedangkan Ayano Shiraishi yang mengisi suara Setsuko, buatku dia tegar banget. Ketika membayangkan situasi perang, dan anak kecil tampak riang karena nggak mengerti apapun, bukanlah disitu letak terornya? Bukankah disitu letak kesedihan tak berujungnya? Lantas, apakah Ayano Shiraishi baik-baik saja saat harus menjadi seiyu?

Secara keseluruhan, aku memberikan nilai 9/10 untuk eksekusi story, eksekusi animasi oleh Studio Ghibli, dan pesan kuat sekaligus ngerinya. Walau harus kuakui, aku nggak mau menonton Grave of the Fireflies lagi demi menjaga kewarasan. So, kamu berminat nonton?

Identitas Film

Judul: Grave of the Fireflies

Judul Asli: Hotaru no Haka

Adaptasi: cerpen autobiografi Akiyuki Nosaka tahun 1967

Sutradara: Isao Takahata

Rilis: 16 April 1988

Distributor: Toho

Negara Asal: Jepang

Bahasa: Bahasa Jepang

Durasi: 89 menit

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda