Ulasan
Review Serial Stranger Things: Tales from '85, Spin-off Animasi Terkeren!
Dunia Hawkins kembali menyapa penggemarnya melalui medium yang berbeda. Setelah kesuksesan luar biasa dari serial live-action yang berakhir di awal tahun 2026, Netflix dan Duffer Brothers menyuguhkan sebuah persembahan baru yang unik: Stranger Things: Tales from '85. Sebagai serial animasi spin-off pertama dari waralaba ini, proyek ini membawa beban berat untuk menjaga atmosfer mencekam sekaligus hangat yang selama ini menjadi ciri khas Stranger Things.
Misteri di Balik Selimut Salju Hawkins

Secara kronologis, Tales from '85 mengambil latar waktu pada musim dingin tahun 1985, menempatkannya tepat di antara peristiwa Musim 2 (akhir 1984) dan Musim 3 (musim panas 1985). Pengaturan waktu ini sangat cerdas; ia memberikan panggung bagi karakter-karakter kesayangan kita untuk berpetualang di tengah lanskap Hawkins yang bersalju—sesuatu yang jarang dieksplorasi secara mendalam di serial utamanya.
Narasi dimulai dengan The Party (Mike, Eleven, Dustin, Lucas, Will, dan Max) yang mencoba menjalani kehidupan normal sebagai remaja. Akan tetapi, ketenangan itu terusik ketika sebuah misteri paranormal baru mulai meneror kota. Ceritanya berfokus pada kemunculan makhluk-makhluk mutan dan ancaman yang terkubur di bawah es Hawkins, memaksa anak-anak ini kembali beraksi sebelum liburan musim dingin mereka berubah menjadi mimpi buruk.
Review Serial Stranger Things: Tales from '85

Salah satu aspek paling mencolok dari Tales from '85 adalah pilihan gaya animasinya. Dikembangkan oleh Eric Robles dan Flying Bark Productions, serial ini secara eksplisit mengambil inspirasi dari Saturday-morning cartoons era 80-an seperti The Real Ghostbusters dan Masters of the Universe. Meskipun menggunakan teknologi animasi modern yang mengingatkan kita pada Spider-Man: Into the Spider-Verse dalam hal kedalaman tekstur, estetika warnanya sangat retro dengan palet neon yang kontras dengan putihnya salju. Desain makhluk-makhluk baru dalam seri ini ditangani oleh Carlos Huante, yang sebelumnya terlibat dalam film E.T. dan Prometheus. Hasilnya adalah monster-monster yang terlihat asing namun tetap memiliki DNA horor klasik yang membuatku merinding.
Kita akan diperlihatkan wajah-wajah lama, Tales from '85 memperkenalkan karakter kunci baru bernama Nikki Baxter. Disuarakan oleh Odessa A’zion, Nikki digambarkan sebagai seorang tinker atau pengotak-atik mesin yang memiliki gaya nyentrik dengan rambut merah muda pendek. Kehadiran Nikki memberikan dinamika baru bagi kelompok; ia bukan hanya sekadar tambahan anggota, tetapi menjadi katalis bagi beberapa penemuan teknologi yang membantu mereka melawan ancaman paranormal.
Perlu dicatat bahwa pengisi suara untuk karakter utama tidak kembali diperankan oleh aktor aslinya (seperti Millie Bobby Brown atau Finn Wolfhard). Netflix memilih talenta suara baru seperti Brooklyn Davey Norstedt (Eleven) dan Luca Diaz (Mike). Meskipun awalnya terasa asing bagi telinga penggemar berat, performa mereka cukup solid dalam menangkap esensi emosional dari karakter-karakter tersebut. Kejutan menarik datang dari kemunculan legenda horor Robert Englund yang mengisi suara karakter misterius bernama Cosmo, memberikan nuansa dark fantasy yang lebih kental.
Serial ini terdiri dari 10 episode yang masing-masing memiliki narasi yang padat. Beberapa episode yang menurutku menonjol adalah di episode kedua dengan judul Bad Harvest: Menjelajahi horor di sebuah pertanian tua yang membeku, mengingatkan kita pada nuansa horor rakyat (folk horror). Kemudian episode ke lima dengan judul The Weekly Watcher: Sebuah episode bertema pencurian di mana anak-anak harus menyusup ke kantor tabloid populer demi melindungi identitas Eleven. Dan pada episode ke sepuluh dengan judul Countdown: Final yang emosional dan penuh aksi, menyatukan semua potongan teka-teki misteri musim dingin tersebut.
Kurasa serial ini sedikit lebih cerah dan ramah keluarga dibandingkan live-action-nya yang berdarah-darah, akan tetapi tetap mempertahankan momen-momen mencekam yang bisa membuat penonton dewasa terjaga. Bisa kubilang ini adalah sebagai entry-level Stranger Things—sebuah gerbang bagi penonton yang mungkin terlalu muda untuk serial aslinya, tetapi tetap memuaskan bagi para loyalis.
Stranger Things: Tales from '85 adalah surat cinta bagi penggemar nostalgia 80-an. Ia berhasil menangkap semangat petualangan masa kecil dan kengerian supranatural tanpa harus merusak kontinuitas cerita pentingnya. Kalau menurutku sih, kurang memiliki kedalaman psikologis seperti Musim 4, keunggulannya terletak pada kreativitas visual dan kemampuannya memperluas mitologi Hawkins.
Untuk kalian yang merindukan interaksi Dustin dan Steve, atau ingin melihat Eleven beraksi dalam format animasi yang dinamis, serial ini adalah tontonan wajib. Ini adalah bukti bahwa dunia Stranger Things masih memiliki banyak cerita untuk diceritakan, bahkan setelah gerbang ke Upside Down tampak tertutup.
Buat kamu yang ingin menyaksikan petualangan animasi ini, Stranger Things: Tales from '85 sudah tersedia untuk di-streaming secara global di Netflix mulai 23 April 2026. Seluruh 10 episode dirilis secara bersamaan (binge-release), sehingga kamu bisa langsung menghabiskan akhir pekan dengan maraton misteri musim dingin di Hawkins.
Jangan lewatkan juga skor musik dari Brad Breeck yang secara brilian mengaransemen ulang tema ikonik karya Kyle Dixon dan Michael Stein ke dalam nuansa animasi yang segar. Segera siapkan camilan dan kembalilah ke tahun 1985! Rating pribadi: 8/10.