Kolom
Gen Z dan Stigma Generasi Pemalas, Apa Benar Masalahnya Sesederhana Itu?
“Anak muda sekarang gampang mager, nggak mau susah!”
Sobat Yoursay pernah dengar nggak kata-kata mutiara di atas?
Kalau saya sejujurnya cukup akrab dengan kalimat-kalimat seperti itu. Menjadi anak muda di zaman sekarang kadang sedikit rebahan sudah dianggap malas, memilih work-life balance dianggap nggak mau kerja keras, bahkan ketika menunda mengerjakan sesuatu pun langsung dicap mager.
Namun, benarkah semua anak muda yang kelihatannya malas memang nggak punya ambisi? Atau jangan-jangan mereka sedang mengalami kondisi yang lebih rumit dari sekadar malas?
Bicara tentang stereotip “pemalas” yang kerap disematkan kepada generasi muda membuat saya teringat dengan istilah lazy ambitious yang saya dengar dari konten Sabrina Anggraini. Kondisi tersebut merupakan situasi ketika seseorang punya banyak mimpi dan ambisi besar, tetapi setiap kali ingin mulai mengerjakannya malah energi seolah terasa nggak cukup.
Target ada, to-do list sudah disusun, ide di kepala pun sudah mendesak ingin segera dituangkan. Sayangnya, tubuh dan pikiran terasa sangat berat untuk memulai. Kondisi semacam inilah yang mungkin membuat sebagian orang tampak malas dari luar. Padahal sebenarnya mereka hanya kesulitan mengambil langkah pertama karena ada berbagai tekanan di pikirannya.
Sekilas, istilah lazy ambitious memang terdengar kontradiktif. Inti dari kondisi ini sebetulnya bukan karena seseorang nggak pengen sukses atau nggak punya mimpi. Sebaliknya, mereka biasanya malah punya ambisi besar. Masalahnya, keinginan tersebut sering kali nggak sejalan dengan energi yang dimiliki untuk benar-benar memulai atau menyelesaikannya.
Penyebabnya pun bukan selalu karena malas. Ada beberapa faktor lain yang mungkin jadi penyebabnya. Yang pertama, overthinking. Kadang saat akan melakukan sesuatu, pikiran sudah dipenuhi berbagai kemungkinan buruk yang membuat ia terus menunda hal yang ingin dia lakukan. Kemudian perfeksionisme. Merasa belum terlalu baik untuk mulai dan terlalu banyak berencana agar hasilnya sempurna. Padahal banyak orang sukses memulai langkahnya dalam keadaan belum sempurna juga.
Selain itu, target yang terlalu besar dan to-do list yang terlalu banyak pun kerap membuat orang bingung harus mulai dari mana. Bahkan ini juga bisa membuat seseorang merasa burnout sebelum benar-benar memulai apa pun. Akibatnya energi habis untuk memikirkan pekerjaan daripada benar-benar mengerjakannya.
Lalu, bagaimana cara keluar dari fase seperti ini? Dalam salah satu podcast-nya, Sabrina Anggraini membagikan beberapa solusi yang menurut saya layak dicoba.
Pertama, kita bisa menganggap hidup atau pekerjaan yang akan kita lakukan sebagai sebuah eksperimen. Dengan begitu, kita akan tergerak untuk terus melakukan percobaan sebanyak-banyaknya, lalu melakukan evaluasi dan perbaikan. Sehingga jika eksperimen itu gagal, kita bisa menyimpulkan penyebabnya adalah kurang data, bukan karena kapasitas diri yang kurang baik.
Solusi kedua yang ditawarkan oleh Sabrina adalah dengan membuat tekanan eksternal. Contoh sederhananya seperti membuat jadwal bersama tim dan menentukan deadline yang tegas agar kita bisa memaksa diri untuk mulai bergerak. Kemudian jika persoalannya adalah target terlalu besar, kita bisa memecahnya menjadi tugas-tugas kecil. Yang terakhir, kita bisa rutin melakukan refleksi mingguan agar bisa melihat setiap perkembangan kecil yang sudah dicapai. Sekecil apapun pencapaiannya, layak dirayakan.
Saya pribadi pernah mencoba cara berpikir seperti itu, salah satunya saat menulis di Yoursay. Dulu, saya sempat menyerah ketika dua artikel pertama yang saya kirimkan gagal terpublikasi. Alih-alih mengevaluasi penyebabnya dan memperbaiki tulisan, saya justru sibuk menyalahkan diri dan merasa kemampuan menulis saya telah menghilang setelah berhenti berkarya cukup lama. Namun, beberapa bulan kemudian saya memutuskan untuk mencoba lagi. Ketika akhirnya satu artikel berhasil terbit, saya menyadari bahwa kegagalan sebelumnya bukan berarti karena kemampuan saya yang hilang, melainkan memang karya saya yang perlu perbaikan.
Sejak saat itu, setiap kali tulisan saya ditolak atau bahkan berhari-hari terjebak di kolom pending hingga akhirnya saya takedown, nggak ada lagi pikiran “aku nggak bisa nulis”. Sebaliknya, saya mulai bertanya, "Apa yang bisa saya perbaiki dari tulisan ini dan bagaimana saya bisa menghasilkan karya lain yang lebih baik?" Cara berpikir itulah yang membuat saya tetap bertahan menulis di Yoursay hingga sekarang.
Sobat Yoursay, jika kita tarik kembali ke pembahasan awal, saya rasa kita perlu lebih hati-hati sebelum melabeli seseorang sebagai pemalas. Sebab kita nggak pernah tahu sesibuk apa pikiran mereka sebenarnya. Perjuangan mereka mungkin tidak terlihat. Namun, melawan overthinking, perfeksionisme, dan rasa takut gagal terkadang jauh lebih berat dari yang dibayangkan orang lain.