Ulasan

Review Serial Last Samurai Standing: Perjalanan Heroik Shujiro yang Tragis!

Review Serial Last Samurai Standing: Perjalanan Heroik Shujiro yang Tragis!
Salah satu adegan di serial The Last Samurai Standing (IMDb)

Last Samurai Standing (judul asli: Ikusagami) merupakan serial televisi Jepang original Netflix yang dirilis pada 13 November 2025. Serial ini terdiri dari 6 episode dengan durasi sekitar 47–58 menit per episode, bergenre aksi, drama period, dan thriller survival.

Disutradarai oleh Michihito Fujii, serial ini diadaptasi dari novel karya Shogo Imamura dan manga berjudul sama. Dibintangi Junichi Oada sebagai Shujiro Saga, yang juga bertindak sebagai produser dan koreografer aksi, serta didukung oleh Yumia Fujisaki (Futaba) dan Kaya Kiyohara. Serial ini telah menerima pujian tinggi, dengan rating 100% di Rotten Tomatoes dari kritikus dan rating IMDb sekitar 7.5.

Epik Samurai di Era Meiji yang Memukau

Salah satu adegan di serial The Last Samurai Standing (IMDb)
Salah satu adegan di serial The Last Samurai Standing (IMDb)

Cerita berlatar belakang era Meiji awal (1878), saat Jepang mengalami transisi besar dari feodalisme menuju modernisasi. Samurai kehilangan status dan hak mereka, termasuk membawa pedang. Di tengah wabah kolera yang mematikan, kemiskinan, dan ketidakpastian, 292 samurai dikumpulkan di Kuil Tenryuji, Kyoto. Mereka diundang mengikuti permainan mematikan bernama Kodoku: sebuah battle royale lintas negara di mana peserta harus merebut tag kayu satu sama lain dan mencapai Tokyo untuk memenangkan hadiah besar senilai 100 miliar yen (sekitar ratusan miliar rupiah). Shujiro Saga, seorang samurai legendaris yang dijuluki The Manslayer atau Pembunuh Manusia, ikut serta demi menyelamatkan istri dan anaknya yang sakit parah.

Serial ini berhasil memadukan elemen survival brutal ala Squid Game dengan estetika samurai klasik seperti Rurouni Kenshin atau karya Akira Kurosawa. Adegan pertarungan pedang dirancang dengan koreografi tingkat tinggi, intens, berdarah, dan realistis. Junichi Okada, dengan pengalaman sebagai koreografer, menghadirkan aksi yang memukau—mulai dari pertarungan satu lawan satu hingga skala besar di hutan, desa, dan kuil.

Visual sinematografi Keisuke Imamura dan Hiroki Yamada menangkap keindahan lanskap Jepang era Meiji sekaligus kekerasan yang mengerikan. Nuansa periode terasa autentik, dari kostum hingga setting, sementara tema utama mengeksplorasi kehormatan, trauma pasca-perang (PTSD Shujiro), dan benturan antara tradisi dengan kemajuan.

Review Serial The Last Samurai Standing

Salah satu adegan di serial The Last Samurai Standing (IMDb)
Salah satu adegan di serial The Last Samurai Standing (IMDb)

Karakter Shujiro digambarkan sebagai pria penuh luka: tenang, penuh tekad, tapi terbebani masa lalu. Hubungannya dengan Futaba, gadis muda yang ikut serta demi menyelamatkan ibunya, menjadi jantung emosional serial. Futaba mewakili harapan dan empati di tengah kekejaman, memberikan kontras yang kuat terhadap kekerasan di sekitarnya.

Karakter pendukung seperti rival-rival Shujiro menambah kedalaman, meski beberapa di antaranya lebih berfungsi sebagai antagonis aksi. Pacing serial ketat; setiap episode membangun ketegangan melalui checkpoint yang semakin sulit, aliansi sementara, pengkhianatan, dan pengungkapan latar belakang.

Salah satu adegan paling emosional adalah saat Shujiro berbagi cerita masa lalunya dengan Futaba di tengah perjalanan. Flashback ke Perang Boshin menunjukkan Shujiro sebagai pejuang tak terkalahkan yang memimpin serangan heroik, hanya untuk menyaksikan kekuasaan pedang dikalahkan oleh meriam dan senjata api modern.

Adegan ini tidak hanya memvisualisasikan trauma Shujiro, tetapi juga simbolisasi akhir era samurai. Air mata Futaba dan ekspresi Shujiro yang penuh penyesalan menciptakan momen intim yang menyentuh, mengingatkanku bahwa di balik setiap pedang ada manusia dengan keluarga dan impian. Kurasa adegan ini sebagai puncak emosional yang membuat mereka terhubung secara mendalam dengan karakter.

Untuk adegan yang paling kuingat dan ikonik adalah duel klimaks melawan Bukotsu, rival psikopat Shujiro, di sebuah gubuk penuh kembang api. Pertarungan ini berlangsung di ruang sempit, dengan ledakan kembang api yang menyala secara berurutan, menciptakan efek visual dramatis. Kedua petarung terbakar, berlari ke danau untuk memadamkan api, lalu melanjutkan duel hingga akhir yang tragis.

Adegan ini memadukan aksi intens, simbolisme kehancuran kehormatan, dan ketegangan emosional. Menurutku ini adalah salah satu sequence aksi terbaik di televisi tahun 2025, menggabungkan kekerasan mentah dengan kedalaman karakter. Adegan pembuka serial—pertempuran besar di lumpur dengan Shujiro menyerbu bukit—juga tak terlupakan, menetapkan nada epik sekaligus menunjukkan keganasan sejarah.

Jadi kesimpulannya, Last Samurai Standing adalah pencapaian luar biasa dalam adaptasi live-action. Ia menawarkan hiburan aksi murni sekaligus refleksi mendalam tentang perubahan zaman dan harga dari survival. Kekurangan kecil mungkin terletak pada beberapa karakter pendukung yang kurang dieksplorasi, serta akhir season yang menyisakan cliffhanger untuk musim kedua. Meski demikian, serial ini aku rekomendasikan buat kamu penggemar aksi samurai, drama historis, atau cerita survival yang cerdas. Saat ini, seluruh episode Season 1 tersedia untuk streaming di Netflix secara global sejak 13 November 2025.

Dengan produksi berkualitas tinggi, akting solid, dan narasi yang memikat, Last Samurai Standing berhasil menghidupkan kembali semangat samurai di era modern. Serial ini bukan sekadar pertarungan pedang, melainkan perjalanan manusiawi di tengah kekacauan sejarah. Rating pribadi: 8/10.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda