Ulasan

Review Ghost Buzzer: Horor Keluarga yang Nyaris Punah di Indonesia

Review Ghost Buzzer: Horor Keluarga yang Nyaris Punah di Indonesia
Poster Film Ghost Buzzer (Instagram/ghostbuzzerfilm)

Bioskop Indonesia belakangan ini dibombardir film-film horor yang tema ceritanya nggak jauh-jauh dari kutukan turun-temurun, ritual pesugihan, arwah pendendam, yang lengkap dengan darah dan jumpscare bertubi-tubi. Formula itu memang berhasil mengundang jutaan penonton, tapi sebenarnya juga menciptakan persoalan lain: horor seolah-olah hanya diperuntukkan bagi penonton dewasa.

Di tengah situasi itu, Film Ghost Buzzer: Antar Aku Pulang yang rilis bioskop pada 16 Juli 2026 membawa pendekatan yang berbeda dan unik. Film produksi M8 Pictures, Sanggar Ananda Kawula Muda, dan Artha Media Indonesia ini disutradarai Agus Hendra Jaya bersama Amir Gumay. Naskahnya ditulis Ariel Fauzan dan Heru Kurniawan, sementara kursi produser ditempati Febri Amalia dan Aditya Gumay.

Film ini dibintangi Nevan Atallah sebagai Nizam, Chacha Hits sebagai Vindy, Rafael Fernando sebagai Udin, Claudio Alexandre sebagai Raka, Arzalea Lanasya sebagai Maria, serta Almira Giena sebagai Ani.

Ceritanya mengikuti empat sahabat berusia 12 tahun yang memiliki hobi menyelidiki fenomena supranatural. Berbekal alat pendeteksi makhluk gaib buatan Raka dan kemampuan indigo Vindy, mereka memasuki basement angker yang diyakini menyimpan banyak misteri.

Di tempat itu mereka bertemu arwah gadis bernama Maria yang memohon bantuan agar bisa pulang dan menemukan ketenangan. Perjalanan tersebut ternyata membuka misteri yang lebih besar ketika mereka bertemu arwah lain bernama Ani. 

Sejak saat itu, keempat sahabat tersebut harus menghadapi berbagai teka-teki, ancaman dunia gaib, sekaligus belajar bahwa keberanian nggak pernah lahir dari rasa takut yang hilang, melainkan dari kemauan untuk tetap melangkah. Apakah misi mereka berhasil? Sobat Yoursay bisa kepoin langsung di bioskop, ya. 

Saat Industri Sinema Indonesia Terlalu Nyaman Mengejar Pasar Horor Dewasa

Scene dalam Film Ghost Buzzer (Instagram/ ghostbuzzerfilm)
Scene dalam Film Ghost Buzzer (Instagram/ ghostbuzzerfilm)

Kesuksesan film-film horor beberapa tahun terakhir membuat banyak rumah produksi berlomba menghadirkan formula yang sama. Hantu harus semakin menyeramkan. Adegan harus semakin sadis. Teror dibikin semakin ekstrem. Seolah-olah semakin banyak penonton berteriak di bioskop, semakin berhasil pula film horor itu. 

Cara berpikir seperti ini memang menguntungkan secara bisnis. Namun dalam jangka panjang, kreativitas malah jadi korban. Horor akhirnya kehilangan keberagamannya.

Padahal horor bukan hanya tentang rasa takut. Genre ini bisa jadi medium petualangan, fantasi, misteri, bahkan cerita tentang tumbuh dewasa. Hollywood sudah lama membuktikannya. Misalnya, Film Coraline, ParaNorman, Monster House, hingga Goosebumps. Film-film tersebut nggak menghilangkan unsur menyeramkan, tapi menyajikannya dengan cara yang tetap aman dinikmati keluarga.

Indonesia sebenarnya memiliki modal yang jauh lebih kaya. Cerita rakyat, mitos, urban legend, hingga kisah-kisah mistis dari berbagai daerah nyaris tidak ada habisnya. Sayangnya, sebagian besar terus dikemas menggunakan formula horor dewasa yang sama.

Akibatnya, anak-anak mengenal horor bukan melalui film yang memang dibuat untuk mereka, melainkan lewat potongan video di media sosial atau bahkan diam-diam ikut nonton film yang sebenarnya bukan untuk usia mereka. 

Bukankah ini sangat disayangkan? Ketika anak-anak begitu penasaran dengan dunia horor, industri sinema hampir nggak menyediakan tontonan yang sesuai untuk mereka. Oleh sebab itu, Film Ghost Buzzer rasa-rasanya jadi begitu penting.

Bukan karena film ini menawarkan cerita paling revolusioner, melainkan karena berani mengisi ruang yang selama ini hampir kosong.

Film Ghost Buzzer sadar target penontonnya bukan pemburu gore atau pencinta jumpscare. Karena itu, rasa takut dibangun melalui misteri, petualangan, dan rasa penasaran, bukan lewat ledakan suara setiap beberapa menit.

Pendekatan seperti ini mungkin dianggap kurang menegangkan bagi sebagian penonton dewasa. Namun, pada dasarnya Film Ghost Buzzer itu semacam horor yang dibuat ramah buat ditonton bareng keluarga, lho. 

Jadi, mengapa horor keluarga harus diukur menggunakan standar horor dewasa? Tentunya nggak bisa begitu ya. Sama seperti film animasi yang nggak perlu dipaksa menjadi drama psikologis, horor keluarga juga nggak perlu dipaksa mengikuti resep film-film dengan rating usia dewasa. Masing-masing memiliki tujuan yang berbeda.

Sayangnya, film macam ‘Ghost Buzzer’ masih jarang terlihat. Industri lebih senang bermain aman. Ketika satu formula menghasilkan jutaan penonton, formula itu akan terus diulang sampai penonton sendiri merasa lelah. Akibatnya, keberagaman genre semakin mengecil. Padahal, industri yang sehat bukanlah industri yang hanya memiliki satu jenis horor. Justru keberagaman itulah yang membuat penonton memiliki pilihan.

Kalau setiap tahun Indonesia mampu menghasilkan horor religi, horor psikologis, horor komedi, horor thriller, mengapa horor yang ramah ditonton bareng keluarga nggak bisa jadi bagian dari ekosistem yang sama?

‘Ghost Buzzer’ memang bukan film yang sempurna. Konfliknya sederhana, tensinya sengaja ditahan, dan misterinya nggak serumit horor dewasa. Namun kelemahan itu lahir karena film ini memahami siapa penontonnya. 

Sobat Yoursay tertarik nonton Film Ghost Buzzer? 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda