Ulasan

Review Film Forastera: Sebuah Duka yang Menjelma Menjadi Misteri

Review Film Forastera: Sebuah Duka yang Menjelma Menjadi Misteri
Foto Film Forastera (IMDb)

Banyak film tentang kehilangan, tetapi tidak semuanya mampu menggambarkan proses berduka dengan cara yang terasa begitu puitis sekaligus mengusik. Film Forastera, besutan sutradara sekaligus penulis naskah Lucía Aleñar Iglesias, menjadi salah satu drama paling menarik tahun 2026 karena berhasil menggabungkan kisah keluarga dan sentuhan supranatural yang samar dalam satu pengalaman sinematik yang memikat.

Diproduksi sebagai pengembangan dari film pendek berjudul sama yang dibuat Aleñar Iglesias pada tahun 2020, film Forastera menghadirkan cerita yang sederhana di permukaan, tetapi menyimpan banyak lapisan emosi dan tafsir di baliknya. Dengan durasi sekitar 97 menit, film ini dibintangi Zoe Stein, Lluís Homar, Núria Prims, Marta Angelat, dan Martina García Cursach.

Film Forastera pertama kali tayang di Toronto International Film Festival (TIFF) 2025 pada 8 September 2025 dalam program Discovery. Debut panjang sang sutradara tersebut kemudian mencuri perhatian kritikus internasional dan berhasil meraih FIPRESCI Prize, penghargaan bergengsi yang diberikan Federasi Kritikus Film Internasional. Mantap!

Sinopsis Film Forastera

Poster Film Forastera (IMDb)
Poster Film Forastera (IMDb)

Kita akan diajak mengenal Catalina atau Cata, remaja cerdas yang memiliki kebiasaan mengarang cerita. Terkadang kebohongannya tampak sepele, seperti mengaku melihat lumba-lumba saat sedang berkayak. Namun, perlahan kebiasaan tersebut berkembang menjadi sesuatu yang lebih kompleks, hingga ia mulai mempercayai cerita yang dirinya ciptakan sendiri.

Saat musim panas tiba, Cata dan adiknya, Eva, menghabiskan waktu di rumah kakek dan nenek mereka di Mallorca. Kehidupan yang damai di tepi pantai berubah drastis ketika sang nenek, yang juga bernama Catalina, meninggal akibat kecelakaan tragis.

Kehilangan itu menghancurkan keluarga, terutama Tomeu, sang kakek yang sangat mencintai istrinya. Melihat kesedihan tersebut, Cata mulai mengenakan pakaian-pakaian lama milik neneknya. Awalnya tampak cara polos sang cucu mengenang orang yang dicintainya. Namun perlahan, Cata mulai meniru kebiasaan, cara bicara, hingga sikap sang nenek.

Semakin jauh ia tenggelam dalam sosok tersebut, semakin sulit membedakan apakah Cata hanya sedang bermain peran, atau memang ada sesuatu yang lebih misterius sedang terjadi? Semua terungkap bila kamu menontonnya sendiri. 

Review Film Forastera

Adegan Film Forastera (IMDb)
Adegan Film Forastera (IMDb)

Saya langsung tertarik dengan cara film ini membangun misteri tanpa pernah terburu-buru memberikan jawaban. Alih-alih menawarkan kejutan besar atau adegan horor yang mencolok, Forastera bermain di wilayah abu-abu antara kenyataan dan kemungkinan supranatural.

Yang paling saya sukai adalah bagaimana film ini tidak pernah memaksa penonton untuk mempercayai satu penjelasan tertentu. Apakah Cata hanya remaja yang larut dalam proses berduka? Apakah sengaja memanipulasi orang-orang di sekitarnya? Ataukah benar ada roh sang nenek yang perlahan hidup kembali melalui dirinya? Semua kemungkinan itu dibiarkan terbuka hingga akhir.

Pendekatan semacam ini membuat setiap adegan memiliki dua makna sekaligus. Ketika Cata menunjukkan kebiasaan-kebiasaan yang identik dengan neneknya, saya terus bertanya-tanya apakah itu hasil observasi yang cermat atau sesuatu yang jauh lebih misterius.

Harus saya aku, film ini berdiri kokoh berkat penampilan luar biasa Zoe Stein sebagai Cata. Karakternya sangat sulit dimainkan karena harus menampilkan perubahan yang nyaris tidak terlihat tetapi terus berkembang sepanjang cerita.

Saya sangat terkesan dengan cara Stein menggunakan bahasa tubuhnya. Dia tidak pernah berubah secara drastis, tetapi sedikit demi sedikit gerakannya menjadi berbeda. Cara dirinya berjalan, memandang orang lain, hingga menyebut nama kakeknya perlahan menciptakan kesan bahwa seseorang yang berbeda mungkin sedang mengambil alih tubuhnya.

Perubahan-perubahan kecil inilah yang membuat penampilan Stein terasa begitu meyakinkan. Dia berhasil membuat saya terus meragukan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Lebih dalam lagi, jujur saja, banyak film menggunakan kematian sebagai pemicu cerita, tetapi film Forastera menjadikan proses berduka sebagai inti narasinya. Sungguh! Film ini menunjukkan bagaimana kehilangan seseorang dapat membuat orang-orang yang ditinggalkan berusaha mempertahankan kehadirannya dengan berbagai cara. 

Tomeu mencoba menemukan istrinya kembali melalui cucunya. Cata mencoba memahami sosok neneknya dengan menjadi dirinya. Sementara anggota keluarga lain berusaha menerima kenyataan bahwa orang yang mereka cintai telah pergi. Semua itu disampaikan tanpa dialog yang berlebihan dan tanpa adegan dramatis yang dipaksakan.

Bagi saya, film Forastera adalah salah satu drama paling memikat tahun 2026. Film ini menghadirkan kisah tentang kehilangan dengan pendekatan yang elegan, banyak misteri, dan sangat emosional.

Jika kamu menyukai drama psikologis yang tenang tetapi kaya makna, serta film yang lebih tertarik mengajukan pertanyaan daripada memberikan jawaban, maka film Forastera adalah tontonan yang sangat layak untuk dicari.

Rating dari saya adalah 4,5/5. Ini adalah film yang lembut, misterius, dan memancarkan pesona yang bertahan lama bahkan setelah kredit penutup berakhir. Bila kamu penasaran, wajib nonton! 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda