Ulasan

Review The Death of Robin Hood: Saat Sang Legenda Menepi di Pulau Terpencil

Review The Death of Robin Hood: Saat Sang Legenda Menepi di Pulau Terpencil
Adegan Film The Death of Robin Hood (IMDb)

Nama Robin Hood mungkin sudah sangat akrab di telinga para pecinta film. Selama puluhan tahun, kisah sang pencuri budiman yang merampok kaum kaya untuk membantu rakyat miskin telah berkali-kali diangkat ke layar lebar dalam berbagai versi. Namun, di tengah banyaknya adaptasi tersebut, The Death of Robin Hood hadir dengan pendekatan yang jauh berbeda.

Film drama berdurasi 123 menit ini disutradarai sekaligus ditulis Michael Sarnoski, sineas yang sebelumnya mendapat banyak pujian lewat film Pig. Produksi film ini ditangani A24 bersama beberapa rumah produksi independen lainnya. 

Deretan pemain yang terlibat juga menjadi daya tarik tersendiri. Hugh Jackman memimpin jajaran pemeran sebagai Robin Hood yang telah menua. Ia ditemani Jodie Comer sebagai Sister Brigid, Bill Skarsgard sebagai Little John, Murray Bartlett sebagai sosok misterius yang dikenal sebagai The Leper, Noah Jupe memerankan Arthur atau Godwyn, serta Faith Delaney yang memerankan Margaret.

Alih-alih menyuguhkan petualangan heroik, aksi, dan panah yang melesat ke segala arah, film ini menawarkan kisah yang lebih sunyi, reflektif, dan emosional. Ini bukan cerita tentang bagaimana Robin Hood menjadi legenda, melainkan tentang bagaimana seorang legenda menghadapi akhir perjalanan hidupnya. 

Sinopsis Film The Death of Robin Hood

Film ini membawa penonton ke masa ketika Robin Hood sudah jauh dari masa kejayaannya. Ia hidup dalam pengasingan, menjauh dari dunia yang pernah mengenalnya sebagai sosok pemberontak dan pahlawan rakyat.

Robin menyadari banyak kisah yang selama ini berkembang tentang dirinya tidak sepenuhnya benar. Di balik cerita-cerita heroik yang diwariskan dari generasi ke generasi, terdapat kenyataan yang jauh lebih kelam. Banyak tindakan yang pernah ia lakukan meninggalkan luka, dendam, dan musuh. 

Setelah peristiwa berdarah yang melibatkan Little John, Robin mengalami luka serius dan akhirnya menemukan perlindungan di sebuah biara terpencil di pulau kecil. Di sana, ia dirawat Sister Brigid, biarawati yang perlahan membantu Robin menghadapi dosa-dosa masa lalunya.

Di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk dunia tersebut, Robin mulai merasakan kehidupan yang lebih damai. Ia bahkan menjalin hubungan dengan beberapa penghuni pulau dan berusaha meninggalkan masa lalunya yang dipenuhi kekerasan. Namun seperti bayangan yang tak pernah benar-benar pergi, masa lalu Robin terus mengejarnya.

Ketika ancaman kembali muncul dan memaksanya berhadapan dengan konsekuensi dari seluruh tindakan yang pernah ia lakukan, Robin harus menentukan apakah dirinya masih layak disebut pahlawan atau hanya pria tua yang berusaha mencari penebusan.

Review Film The Death of Robin Hood

Sejak menit-menit awal, saya langsung menyadari film ini bukan Robin Hood biasa. Jika biasanya karakter ini digambarkan sebagai sosok pemberani yang selalu siap melawan ketidakadilan, kali ini saya melihat seorang pria yang tampak lelah, kesepian, dan dihantui masa lalunya sendiri.

Michael Sarnoski mengambil risiko besar dengan mengubah legenda yang selama ini identik dengan aksi petualangan menjadi sebuah drama karakter yang sangat personal. Menariknya, pendekatan tersebut membuat film terasa segar. Saya tidak sedang menyaksikan pahlawan rakyat beraksi, melainkan manusia yang berusaha berdamai dengan kesalahan-kesalahannya.

Penampilan Hugh Jackman menjadi alasan utama mengapa film ini begitu kuat secara emosional. Ia berhasil menghadirkan Robin Hood sebagai sosok yang keras sekaligus rapuh. Ada rasa bersalah yang terus terlihat di balik tatapan matanya. Karakter ini bukan lagi pria muda yang mampu mengalahkan puluhan musuh sekaligus, melainkan seseorang yang mulai menyadari setiap tindakan memiliki harga yang harus dibayar.

Jodie Comer juga tampil sangat memikat sebagai Sister Brigid. Karakternya menjadi semacam penyeimbang dalam cerita. Kehadirannya memberi ruang bagi Robin untuk merenungkan hidupnya dan membuka sisi kemanusiaan yang selama ini tertutup reputasi sebagai legenda.

Hal yang paling saya sukai dari film ini adalah keberaniannya membongkar mitos Robin Hood. Selama ini banyak adaptasi menggambarkan Robin sebagai pahlawan tanpa cela. Namun The Death of Robin Hood mempertanyakan apakah seseorang yang melakukan kekerasan atas nama tujuan mulia tetap bisa dianggap sebagai pahlawan.

Pertanyaan tersebut menjadi tema utama yang terus mengiringi cerita. Film ini tidak memberikan jawaban sederhana. Sebaliknya, penonton diajak merenungkan sendiri apakah penebusan bisa menghapus kesalahan masa lalu?

Dari sisi visual, film ini juga sangat mengesankan. Lanskap perbukitan dan wilayah terpencil yang menjadi latar cerita berhasil menciptakan suasana melankolis yang kuat. Banyak adegan seperti lukisan hidup yang memperkuat kesan Robin sedang menjalani perjalanan spiritual menuju akhir hidupnya.

Meski demikian, saya memahami tempo film yang cukup lambat mungkin tidak akan cocok untuk semua penonton. Mereka yang mengharapkan aksi besar dan pertarungan spektakuler kemungkinan akan merasa kurang puas. Namun bagi penonton yang menyukai drama karakter dan kisah reflektif tentang penyesalan serta penebusan, film ini menawarkan pengalaman yang sangat berkesan.

Bagi saya, film The Death of Robin Hood bukan sekadar film tentang Robin Hood. Ini adalah cerita tentang penyesalan, pengampunan, dan harga yang harus dibayar seseorang untuk mendapatkan kesempatan kedua.

Rating: 4/5

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda