Ulasan
Di Balik Lapangan Hijau: Ambisi dan Kekuasaan dalam Film Mexico 86
Ketika membaca judul Mexico 86, tentu kebanyakan orang mengira film ini akan menjadi drama olahraga yang diselubungi semangat kompetisi. Langsung terbayang deh stadion yang riuh, pertandingan menegangkan, dan momen-momen heroik yang biasanya menjadi daya tarik utama film bertema sepak bola. Namun, setelah menontonnya, film buatan Gabriel Ripstein ini sama sekali nggak tertarik menjadikan lapangan hijau sebagai pusat perhatian. Kok bisa?
Begini, sepak bola memang hadir di dalam cerita, tapi posisinya sebatas latar belakang. Piala Dunia hanyalah panggung besar yang dipakai film ini untuk membicarakan sesuatu yang jauh lebih menarik: ambisi manusia, permainan kekuasaan, dan ego yang tumbuh tanpa batas.
Lebih lanjut, film ini sudah tayang di Netflix sejak 5 Juni 2026 dan dibintangi oleh Diego Luna, Daniel Giménez Cacho, Karla Souza, Memo Villegas, serta Diana Sedano.
Sinopsis Film Mexico 86

Film Mexico 86 mengambil inspirasi dari situasi nyata ketika Kolombia batal menjadi tuan rumah Piala Dunia 1986. Kekosongan itu membuka peluang bagi negara lain untuk maju dan merebut kesempatan menjadi penyelenggara turnamen sepak bola terbesar di dunia.
Di tengah situasi tersebut, muncul Martín de la Torre yang diperankan oleh Diego Luna. Martín bukan politisi besar, bukan pengusaha kaya raya, dan bukan pula tokoh berpengaruh yang sejak awal memiliki kekuasaan. Dia hanyalah pria yang merasa hidupnya berjalan di tempat.
Kariernya nggak berkembang. Kehidupan pribadinya juga jauh dari kata memuaskan. Di balik kesehariannya yang tampak biasa, tersimpan rasa frustrasi yang terus menumpuk. Ketika peluang menjadi bagian dari proses perebutan tuan rumah Piala Dunia muncul, Martín melihatnya sebagai jalan keluar sekaligus kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya mampu menjadi seseorang yang lebih besar dari apa yang selama ini dilihat orang lain.
Adakah situasi genting yang akan menghadang langkahnya? Kepoin sendiri, ya, Sobat Yoursay!
Review Film Mexico 86

Makin lama cerita berjalan, makin jelas bahwa karakter Martín de la Torre manipulatif dan oportunistis. Kuamati, Martín sering kali mengambil keputusan yang lebih menguntungkan dirinya sendiri.
Jujur saja, karakternya mudah dibenci tapi juga disukai. Aku terus ingin mengikuti langkah-langkahnya meskipun berkali-kali nggak setuju dengan tindakannya. Ada rasa penasaran yang membuatku ingin melihat seberapa jauh Martín bersedia melangkah demi mencapai tujuan yang sudah berubah menjadi obsesi.
Diego Luna menjadi alasan terbesar mengapa karakter Martín berhasil bekerja dengan sangat baik. Diego memberikan lapisan emosi yang membuat Martín terasa manusiawi. Dalam satu adegan, Diego bisa tampil sangat karismatik hingga membuat orang percaya padanya. Pada adegan berikutnya, dia berubah menjadi sosok yang menjengkelkan dan sulit disukai.
Performa Diego Luna berhasil menunjukkan bahwa ambisi sering kali lahir bukan hanya dari rasa percaya diri, tapi juga dari ketakutan. Misalnya, ketakutan gagal atau bahkan yang paling simpel: ketakutan menjalani hidup yang biasa-biasa saja.
Hubungan Martín dengan Emilio Azcárraga yang diperankan oleh Daniel Giménez Cacho juga menjadi salah satu elemen paling menarik dalam film ini. Keduanya memiliki dinamika yang rumit. Mereka saling membutuhkan, tapi juga saling curiga. Mereka bekerja sama, tapi di saat yang sama terus mengukur siapa yang sebenarnya lebih berkuasa.
Menariknya, percakapan antara dua karakter ini sering kali lebih menegangkan daripada pertandingan sepak bola yang menjadi latar cerita mereka. Dialog-dialognya dipenuhi kepentingan tersembunyi dan permainan psikologis yang membuat setiap pertemuan mereka memiliki bobot tersendiri.
Gabriel Ripstein juga mengemas film ini dengan ritme yang cukup lincah. Padahal, materi yang dibahas sebenarnya nggak kecil. Film ini berbicara tentang negosiasi politik, lobi bisnis, media, dan kepentingan berbagai pihak yang saling bertabrakan. Topik seperti ini sebenarnya berisiko terasa kering dan membosankan jika salah ditangani.
Untungnya, film Mexico 86 mampu menjaga energinya hampir di sepanjang durasi. Alur bergerak cepat dan dialog-dialognya tajam sehingga penonton nggak terlalu dibebani penjelasan yang berlebihan.
Potensi yang Sedikit Terbuang
Meski begitu, di sinilah aku merasa film ini sedikit menyia-nyiakan potensinya sendiri. Bagian yang paling membuatku penasaran justru bukan perjalanan pribadi Martín, melainkan permainan politik internasional di balik perebutan tuan rumah Piala Dunia. Film ini beberapa kali menunjukkan keputusan besar seperti itu nggak hanya ditentukan oleh olahraga semata. Ada kepentingan ekonomi, pengaruh media, lobi politik, bahkan pertarungan citra antarnegara. Sayangnya, semua itu hanya disentuh di permukaan.
Alih-alih menggali lebih jauh intrik global yang sebenarnya sangat menarik, cerita akhirnya lebih fokus pada ambisi pribadi Martín. Akibatnya, ruang lingkup film terasa mengecil. Dari sebuah kisah yang berpotensi menjadi potret besar tentang hubungan olahraga dan kekuasaan, film ini perlahan berubah menjadi studi karakter tentang seorang pria yang terobsesi pada kesuksesan.
Aku juga merasa film ini kurang berhasil membangun klimaks emosional yang benar-benar memuaskan. Secara logika, aku memahami betapa pentingnya tujuan yang sedang diperjuangkan para karakter. Aku mengerti taruhan yang mereka hadapi. Namun, ketika cerita mencapai garis akhir, perasaan euforia yang seharusnya muncul nggak sepenuhnya sampai kepadaku.
Rasanya kayak menyaksikan perjalanan panjang yang menarik, tapi berhenti tepat sebelum menghasilkan ledakan emosi yang diharapkan. Meskipun demikian, Mexico 86 tetap menjadi tontonan yang menarik karena keberaniannya memilih sudut pandang yang nggak biasa.
Begitulah, Sobat Yoursay. Penasaran? Cek Netflix, ya! Selamat menonton.