Ulasan
Ulasan Film Monster Pabrik Rambut: Ketika Kapitalisme Menumbuhkan Monster
Suara mesin yang nggak pernah berhenti seringkali terdengar lebih menakutkan dari suara hantu. Di balik ritme produksi yang berjalan tanpa jeda, tersimpan cerita tentang tubuh yang dipaksa bekerja melampaui batas, pikiran yang perlahan kehilangan kewarasan, dan manusia yang akhirnya diperlakukan seperti komponen mesin yang bisa diganti kapan saja.
Gagasan itulah yang begitu kuat dalam Film Monster Pabrik Rambut, buatan Sutradara Edwin dengan naskah yang ditulisnya bersama dengan Eka Kurniawan dan Daishi Matsunaga.
Film ini diproduksi Palari Films dengan deretan pemainnya juga nggak main-main. Rachel Amanda memerankan Putri, Lutesha sebagai Ida, Iqbaal Ramadhan sebagai Bona, Didik Nini Thowok sebagai Maryati, serta Sal Priadi turut menghidupkan atmosfer film melalui kehadirannya sebagai Rudi yang juga menyumbang lagu sebagai original soundtrack.
Sekilas Kisah Film Monster Pabrik Rambut

Tayang perdana di Festival Film Internasional Berlin 2026 dalam program Special Midnight, kisahnya mengikuti Putri, perempuan yang berusaha mengungkap misteri kematian ibunya. Sang ibu bekerja di PT Raga Abadi, pabrik rambut yang menyimpan banyak kejanggalan. Para pekerja dipaksa lembur tanpa henti, mengalami gangguan fisik dan mental, lalu satu per satu terlibat dalam kecelakaan misterius.
Penyelidikan Putri membawanya bertemu berbagai rahasia yang selama ini tersembunyi di balik dinding pabrik. Bersama adiknya, Ida, mereka mulai menyusun kepingan-kepingan misteri yang mengarah pada sosok Maryati, pemilik pabrik yang berkuasa dan diselimuti banyak pertanyaan.
Situasi semakin aneh ketika Bona, saudara mereka yang memiliki kemampuan regenerasi tubuh, ikut terlibat dalam pusaran konflik tersebut. Dari sinilah film bergerak menuju wilayah yang semakin absurd, ganjil, sekaligus mengganggu.
Menarik, ya?
Kapitalisme dalam Film Monster Pabrik Rambut

Sekilas, Film Monster Pabrik Rambut tampak seperti film horor biasa. Namun semakin jauh cerita berjalan, semakin terlihat monster yang ingin dibicarakan Edwin bukan sekadar makhluk menyeramkan yang muncul dari balik kegelapan.
Meski dipasarkan sebagai film horor, aku justru merasa lapisan paling menarik dari Film Monster Pabrik Rambut terletak pada kritik sosialnya. Film ini sedang berbicara tentang wajah kapitalisme yang paling rakus.
Kapitalisme dalam bentuk ideal sering dipahami sebagai sistem yang mendorong inovasi dan pertumbuhan ekonomi. Namun dalam praktiknya, sistem ini juga melahirkan kondisi ketika keuntungan menjadi tujuan utama, sementara manusia perlahan kehilangan nilai sebagai individu.
Di PT Raga Abadi, para pekerja nggak lagi terlihat sebagai manusia yang memiliki kebutuhan, keluarga, atau batas kemampuan fisik. Mereka hanya diposisikan sebagai alat produksi.
Tubuh mereka harus terus bekerja. Waktu mereka harus terus tersedia. Tenaga mereka diperas. Sementara pihak yang berada di puncak kekuasaan menikmati hasilnya.
Di titik inilah film begitu relevan dengan realita yang nggak asing bagi banyak orang. Berapa banyak pekerja yang hidup dalam tekanan target? Berapa banyak yang terpaksa lembur berlebihan demi mempertahankan pekerjaan? Atau yang harus mengorbankan kesehatan fisik maupun mental demi memenuhi tuntutan perusahaan? Edwin nggak menyampaikan kritik tersebut melalui pidato panjang atau dialog yang menggurui.
Monster dalam film ini seolah-olah tumbuh dari akumulasi penderitaan para pekerja. Semakin besar eksploitasi yang terjadi, semakin besar pula teror yang muncul. Pendekatan seperti ini membuat Film Monster Pabrik Rambut menarik. Horor nggak lagi hadir sebagai ancaman dari dunia gaib, melainkan lahir dari sistem yang diciptakan manusia sendiri.
Karakter Maryati menjadi representasi yang kuat dari gagasan tersebut. Dia bukan sekadar tokoh antagonis, melainkan gambaran kekuasaan yang berdiri jauh di atas para pekerja. Sosok yang menentukan nasib banyak orang tanpa benar-benar merasakan penderitaan mereka.
Nah, yang membuat film ini semakin menarik adalah keberaniannya bermain di wilayah body horror. Tubuh manusia menjadi arena utama terjadinya kengerian. Tubuh membengkak, rusak, kehilangan kendali, dan dipaksa beradaptasi dengan sesuatu yang nggak semestinya.
Semua itu terasa seperti metafora tentang dunia kerja yang perlahan menggerus manusia dari dalam. Ketika seseorang dipaksa terus bekerja tanpa ruang untuk beristirahat, tubuh memang akan menjadi korban pertama.
Secara visual, Edwin menghadirkan dunia yang kusam, sempit, dan nggak nyaman. Pabrik dalam film ini ibarat labirin yang mengurung para pekerjanya. Nggak banyak ruang untuk bernapas. Perasaan terjebak itu terus mengikuti penonton sepanjang film.
Aku juga menyukai bagaimana film ini nggak terlalu bergantung pada jumpscare. Ketakutan dibangun melalui suasana, misteri, dan rasa nggak nyaman yang perlahan menumpuk. Bahkan ketika monster akhirnya muncul, yang terasa menakutkan bukan hanya bentuknya, melainkan makna yang dibawanya.
Tentu film ini bukan tontonan yang akan disukai semua orang. Sebagian penonton mungkin merasa pendekatannya terlalu aneh, simbolis, atau terlalu eksperimental.
Bagiku, Film Monster Pabrik Rambut bukan sekadar cerita tentang makhluk mengerikan yang menghantui sebuah pabrik. Film ini merupakan pengingat bahwa terkadang monster paling berbahaya bukan berasal dari dunia gaib. Dan yang paling menyeramkan, monster itu bisa tumbuh dari sistem yang setiap hari kita anggap normal.
Film Monster Pabrik Rambut masih tayang di bioskop sejak 4 Juni 2026. Sobat Yoursay, yuk, nonton!