Ulasan

Karya Legendaris Idrus: Menelanjangi Luka Sejarah dan Trauma Zaman Jepang

Karya Legendaris Idrus: Menelanjangi Luka Sejarah dan Trauma Zaman Jepang
Kumpulan prosa tajam dan sinis yang memotret penderitaan serta transformasi jiwa manusia di tiga zaman penting. Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma karya Idrus. (Dok.Pribadi/Taufiq)

Kehadiran Idrus dalam kancah kesusastraan Indonesia sering kali disejajarkan dengan penyair legendaris Chairil Anwar. Jika Chairil merevolusi bentuk puisi modern, maka Idrus adalah inovator besar yang mendobrak pakem penulisan prosa tanah air. Sebagaimana yang dicatat oleh "Paus Sastra" H.B. Jassin dalam pendahuluan buku ini, inovasi yang dibawa oleh Idrus bukan sekadar perubahan kosmetik pada bentuk tulisan, melainkan sebuah perubahan radikal pada akar jiwa.

Gaya bahasanya yang lugas, sinis, tajam, dan cenderung "dingin" lahir dari tekanan batin yang menggila selama tiga setengah tahun di bawah pendudukan Jepang. Sebuah periode kelam yang mengosak-asik karakter dan moralitas masyarakat kita. Koleksi cerpen dan drama legendaris ini dibagi secara apik menjadi tiga fragmen waktu: Zaman Jepang, Corat-Coret di Bawah Tanah, dan Sesudah 17 Agustus 1945.

Kesenduan dan Penebusan dalam Fragmen "Ave Maria"

Bagian pertama buku ini dibuka dengan cerpen ikonis berjudul "Ave Maria", sebuah kisah yang ditulis dengan sentuhan puitis namun tetap menyisakan rasa getir yang mendalam. Kita diperkenalkan pada sosok Zulbahri, seorang pria yang terjebak dalam pusaran depresi berat pascaperpisahan dengan istrinya, Wartini. Zulbahri didera rasa bersalah yang akut karena menganggap dirinya telah merebut Wartini dari cinta masa remaja adiknya sendiri, Syamsu.

Puncak emosional cerita ini terjadi ketika melodi lagu Ave Maria bergema secara magis dari piano Wartini dan gesekan biola Syamsu, sebuah simfoni kepedihan yang menyadarkan Zulbahri bahwa cinta sejati sang istri mungkin memang milik sang adik. Fragmen ini ditutup dengan transformasi jiwa Zulbahri yang luar biasa. Alih-alih larut dalam nestapa personal, ia memilih untuk "membayar utang" kepada tanah air dengan bergabung dalam barisan pejuang di garis depan. Kepergiannya menjadi simbol bahwa kepentingan bangsa jauh lebih besar daripada lara hati individu. Idrus kemudian menutup bagian awal ini dengan naskah drama "Kejahatan Membalas Dendam", sebuah intrik antara penulis muda dan tua yang memotret konflik idealisme serta kecemburuan sosial.

Corat-Coret di Bawah Tanah: Menelanjangi Borok Zaman Nippon

Memasuki bagian kedua, Idrus memamerkan keahlian tertingginya dalam menggunakan senjata satire. Melalui sketsa tajam seperti "Kota-Harmoni", ia memotret perbedaan kelas dan hilangnya rasa kemanusiaan yang mencolok di atas trem kota. Penderitaan rakyat semakin memuncak dalam cerita "Jawa Baru". Idrus dengan sangat berani mengkritik kelaparan massal yang melanda Pulau Jawa, sementara beras hasil keringat para petani justru dikirim ke Tokyo untuk memberi makan tentara kaisar. Kalimatnya menghujam tanpa ampun: "Bagaimana akan mengetahui keadaan rakyat, kalau perut sudah gendut oleh nasi berbal-bal."

Kekejaman Jepang digambarkan tidak hanya lewat penyiksaan fisik, tetapi juga melalui manipulasi mental yang rapi dalam "Pasar Malam Zaman Jepang". Melalui mesin propaganda Sendenbu, pemerintah pendudukan membuat rakyat ketagihan judi rolet hingga jatuh miskin dan depresi, sementara para pejabat Nippon tertawa sinis dan menyebutnya sebagai "obat mujarab memberantas inflasi." Sketsa-sketsa lain seperti "Sanyo", "Fujinkai", hingga "Heiho" menggambarkan betapa naifnya rakyat kecil yang dimanfaatkan sebagai alat perang, yang sering kali berakhir dengan maut mengenaskan di negeri orang, sebagaimana nasib tragis Kartono di Birma.

Jalan Lain ke Roma: Merumuskan Hakikat Kemerdekaan Rohani

Setelah proklamasi 17 Agustus 1945 berkumandang, Idrus tidak lantas menulis narasi yang heroik dan romantis. Ia justru membawa kita pada realitas pascakemerdekaan yang masih terasa pahit dan karut-marut. Dalam "Kisah Sebuah Celana Pendek", kita disuguhi potret Kusno, seorang opas (penjaga kantor) yang hanya memiliki sehelai celana pendek Italia yang sudah lusuh dan robek. Kisah ini menjadi tamparan keras bahwa perang sering kali hanya diinginkan oleh "orang-orang besar", sementara rakyat kecil di akar rumput hanya mendambakan kedamaian dan perut yang kenyang.

Ulasan ini mencapai puncaknya pada cerpen masteris berjudul "Jalan Lain ke Roma". Tokoh Open, yang namanya secara harfiah berarti "berterus terang", adalah representasi dari kejujuran yang langka di tengah dunia yang dipenuhi kebohongan sistemik. Meskipun harus mendekam di penjara karena tulisan-tulisannya dianggap menghina pemerintah Jepang, Open justru menemukan kesadaran eksistensial tertinggi: bahwa kemerupakan sejati adalah kemerdekaan rohani. Meskipun tembok penjara mengepung fisiknya yang fana, pikiran dan jiwanya tetap merdeka berkelana ke mana saja tanpa batas.

Kesimpulan

Membaca kumpulan karya Idrus ini rasanya seperti sedang membuka album foto kusam yang menyimpan sejuta luka dan trauma sejarah bangsa. Idrus tidak pernah mencoba mempercantik penderitaan dengan pilihan kata-kata manis yang mendayu-dayu; ia menyajikannya apa adanya, telanjang, dan sering kali dibumbui dengan nada ejekan yang pahit.

Buku ini adalah bacaan wajib bagi siapa pun yang ingin memahami bagaimana sastra bisa bertransformasi menjadi alat perlawanan sekaligus cermin jujur bagi sebuah bangsa yang sedang tertatih mencari jati dirinya. Dari kemelut "Ave Maria" yang melankolis hingga "Jalan Lain ke Roma" yang filosofis, Idrus mengingatkan kita dengan lantang bahwa kejujuran adalah harga mati bagi seorang manusia yang mengaku merdeka.

Identitas Buku:

  • Judul: Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
  • Penulis: Idrus
  • Penerbit Pertama: Balai Pustaka, Jakarta (1948)
  • Genre: Kumpulan cerita pendek dan drama
  • Gaya Bahasa: Realisme, lugas, dan satir
  • Penerbit Ulang (Digital): PT Balai Pustaka (Persero), 2021
  • Jumlah Halaman: Sekitar 176-194 halaman (tergantung edisi cetak) 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda