Ulasan
Di Balik Sepiring Dimsum: Membaca Ulang Makna Keluarga di Novel Clara Ng
Buku ini tuh benar-benar membahas makna pulang bagi sebuah keluarga. Di realitas kita tentu banyak melihat macam-macam bentuk keluarga. Ada keluarga yang setiap hari tinggal serumah tetapi jarang bisa berbicara dekat satu sama lain.
Ada pula keluarga yang bertahun-tahun terpisah, sibuk dengan kehidupan masing-masing, tetapi ketika salah satu anggotanya membutuhkan pertolongan, semuanya tiba-tiba kembali ke rumah.
Kira-kira begitulah inti dari Dimsum Terakhir, novel karya Clara Ng yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Novel setebal sekitar 361 halaman ini bercerita tentang empat perempuan kembar: Siska, Indah, Rosi, dan Novera. Mereka lahir dari orang tua yang sama, tumbuh dalam keluarga yang sama, bahkan berbagi wajah yang mirip, tetapi ternyata memiliki kehidupan, kepribadian, pilihan, dan persoalan yang sangat berbeda.
Sinopsis Novel
Kalau ramalan zodiak, shio, atau horoskop mengatakan tanggal lahir menentukan karakter dan nasib seseorang, empat saudara ini justru menjadi bukti menarik bahwa kehidupan tidak sesederhana itu.
Siska adalah perempuan karier yang sukses dan tinggal di Singapura. Indah bekerja sebagai wartawan sekaligus penulis dan tinggal di Jakarta. Rosi memilih kehidupan yang jauh lebih tenang dengan mengurus kebun bunga di Puncak. Sementara Novera menetap di Yogyakarta dan bekerja sebagai guru taman kanak-kanak.
Empat perempuan. Empat dunia.
Lalu ayah mereka, Nung Atasana, terkena stroke.
Pertemuan yang selama ini mungkin bisa ditunda akhirnya tidak bisa lagi dihindari. Keempatnya harus kembali berkumpul untuk merawat sang ayah. Dari sinilah persoalan sebenarnya dimulai.
Sebab pulang ke rumah bukan cuma berarti kembali ke sebuah alamat.
Pulang berarti kembali berhadapan dengan masa lalu.
Mereka membawa persoalan masing-masing. Siska memiliki pandangan yang rumit mengenai hubungan dan pernikahan. Indah menyimpan masalah dalam kehidupan percintaannya. Rosi memiliki persoalan mengenai identitas dan pandangannya terhadap hubungan dengan laki-laki. Sementara Novera menghadapi pergulatan pribadi yang membuatnya merasa tidak cukup “utuh” untuk menikah.
Kemudian datang permintaan sang ayah yang membuat semuanya semakin rumit: ia ingin melihat anak-anaknya menikah sebelum meninggal.
Permintaan yang mungkin terdengar sederhana bagi orang tua, tetapi bisa menjadi beban luar biasa bagi anak yang memiliki persoalan hidup sendiri.
Di sinilah Clara Ng menarik pembaca masuk ke persoalan yang lebih besar: sejauh mana seseorang harus mengorbankan kehidupan pribadinya demi keluarga?
Menariknya, novel ini tidak menggambarkan keluarga sebagai tempat yang selalu harmonis. Keempat saudara tersebut sering berbeda pendapat, bertengkar, menyimpan rahasia, bahkan membawa ego masing-masing ketika kembali berkumpul.
Namun justru karena itulah mereka terasa manusiawi. Tidak ada karakter yang sepenuhnya benar. Tidak ada pula yang sepenuhnya salah.
Mereka hanya empat orang dewasa yang tiba-tiba harus belajar kembali menjadi saudara.
Kelebihan dan Kekurangan
Selain konflik keluarga, Dimsum Terakhir juga menarik karena membawa pembaca mengenal tradisi keluarga Tionghoa di Indonesia. Dimsum menjadi simbol penting dalam cerita. Hidangan yang biasanya disajikan dalam keranjang bambu ini tidak sekadar menjadi makanan, tetapi bagian dari tradisi keluarga Nung dan istrinya, Anastasia.
Ketika fajar Tahun Baru Imlek tiba, tradisi membuat dimsum kembali dilakukan. Mereka memasak bersama, seperti keluarga yang dulu pernah mereka kenal. Namun apakah ini akan menjadi dimsum terakhir mereka bersama?
Selain Imlek, novel ini juga menyinggung berbagai tradisi seperti Ce It, Cap Go Meh, Ceng Beng, hingga prosesi kematian dan pemakaman. Semuanya ditempatkan sebagai bagian dari kehidupan karakter, bukan sekadar tempelan informasi budaya.
Clara Ng juga memasukkan persoalan sosial yang pernah dihadapi masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia, termasuk pengalaman dan tekanan sosial pada masa Orde Baru. Penyampaiannya cukup kritis, tetapi tidak terasa seperti kuliah sejarah. Isu tersebut muncul melalui kehidupan para tokohnya sehingga pembaca bisa melihat bagaimana persoalan sosial-politik dapat memengaruhi kehidupan sebuah keluarga.
Yang membuat novel ini menarik adalah cara Clara Ng mengubah ide sederhana menjadi cerita yang berlapis.
Empat saudara pulang karena ayah mereka sakit.
Sederhana. Tetapi dari kepulangan itu muncul pertanyaan tentang cinta, pernikahan, identitas, pengorbanan, masa lalu, tradisi, kematian, dan arti keluarga.
Pesan Moral
Ada beberapa bagian yang mungkin terasa kurang meyakinkan, termasuk sejumlah keputusan karakter yang terasa dipaksakan. Hubungan emosional antarsaudara kembar juga sebenarnya masih bisa digali lebih dalam.
Namun secara keseluruhan, Dimsum Terakhir tetap menjadi novel keluarga yang menarik karena tidak menjadikan keluarga sebagai sesuatu yang selalu manis.
Keluarga bisa membuat kita kesal. Bisa membuat kita ingin pergi sejauh mungkin. Tetapi ketika hidup sedang benar-benar tidak baik-baik saja, sering kali merekalah orang-orang yang akhirnya kita cari.
Dimsum bukan sekadar makanan dalam cerita ini.
Ia menjadi simbol tentang meja makan, tradisi, rumah, dan orang-orang yang kembali duduk bersama setelah lama berjalan ke empat penjuru dunia.
Sebab pada akhirnya, sejauh apa pun seseorang pergi, ada kalanya hidup membawa kita kembali ke tempat yang sama.
Ke rumah. Ke keluarga.
Dan mungkin, ke semangkuk dimsum terakhir yang membuat kita sadar bahwa yang paling sulit bukanlah pulang, melainkan belajar kembali menjadi keluarga.
Identitas Buku
- Judul: Dimsum Terakhir
- Penulis: Clara Ng
- Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
- Tahun Terbit: 2013
- Tebal: 368 halaman
- ISBN: 9789792279528
- Genre: Drama, Metropop