Ulasan

Love on the Brain: Bertemu Cinta di Balik Laboratorium NASA

Love on the Brain: Bertemu Cinta di Balik Laboratorium NASA
Love on the Brain (Dok.Pribadi/Oktavia)

Setelah sukses memikat pembaca melalui The Love Hypothesis, penulis romansa kontemporer Ali Hazelwood kembali menghadirkan kisah yang memadukan dunia sains dengan percintaan dalam novel Love on the Brain.

Jika novel sebelumnya berlatar dunia akademik, kali ini pembaca diajak menyelami lingkungan riset berteknologi tinggi di NASA, tempat para ilmuwan berlomba menciptakan inovasi melalui proyek-proyek neuroengineering yang kompleks. 

Sinopsis Novel

Tokoh utama novel ini adalah Dr. Bee Königswasser, seorang neuroscientist berbakat yang akhirnya memperoleh kesempatan emas memimpin proyek neuroengineering di NASA. Kesempatan tersebut seharusnya menjadi pencapaian terbesar dalam kariernya. Namun, kebahagiaan Bee tidak berlangsung lama ketika mengetahui bahwa ia harus bekerja sama dengan Levi Ward, ilmuwan yang sejak masa doktoral diyakininya membenci dirinya.

Sejak awal, Ali Hazelwood membangun dinamika hubungan Bee dan Levi melalui trope rival-to-lovers. Bee memandang Levi sebagai sosok dingin, sulit ditebak, dan selalu menunjukkan sikap tidak bersahabat. Sementara Levi lebih banyak diam sehingga semakin memperkuat kesalahpahaman yang selama bertahun-tahun dipendam Bee. Interaksi keduanya dipenuhi kecanggungan, gengsi, dan berbagai konflik kecil yang justru membuat pembaca penasaran terhadap perkembangan hubungan mereka.

Namun, seiring proyek berjalan, sedikit demi sedikit Bee mulai menyadari bahwa apa yang ia yakini selama ini tidak sepenuhnya benar. Levi ternyata menyimpan alasan yang jauh lebih rumit di balik sikap pendiamnya. Dari sinilah romansa mereka berkembang secara perlahan, dibangun melalui kerja sama, rasa saling menghormati, dan kepercayaan yang tumbuh sedikit demi sedikit.

Hubungan mereka terasa lebih realistis karena tidak dibangun hanya dari ketertarikan fisik, melainkan juga dari kekaguman terhadap kemampuan intelektual masing-masing.

Ali Hazelwood juga mengangkat isu yang masih relevan hingga saat ini, yakni bias gender di lingkungan STEM (Science, Technology, Engineering, dan Mathematics). Bee berkali-kali mengalami perlakuan tidak adil hanya karena ia seorang perempuan. Pendapatnya sering diabaikan, kebutuhannya sebagai pemimpin proyek dipersulit, bahkan pencapaiannya kerap dipandang sebelah mata oleh rekan kerja laki-laki.

Melalui pengalaman Bee, pembaca diperlihatkan bahwa menjadi ilmuwan perempuan tidak hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga keteguhan menghadapi stereotip dan diskriminasi. Isu tersebut disampaikan secara alami tanpa mengurangi unsur hiburan dalam novel. Justru pesan inilah yang membuat cerita terasa lebih bermakna.

Ali Hazelwood cukup detail menjelaskan pekerjaan para ilmuwan, mulai dari eksperimen laboratorium hingga berbagai istilah neuroengineering yang menjadi bagian penting dalam proyek NASA. Walaupun beberapa istilah ilmiah terasa cukup kompleks, penjelasannya tetap mudah diikuti sehingga pembaca awam masih dapat menikmati alur cerita tanpa merasa terbebani.

Di sisi lain, Bee bukanlah tokoh perempuan yang digambarkan sempurna. Ia memiliki trauma masa lalu dan trust issues yang membuatnya sulit mempercayai orang lain. Luka emosional tersebut menjadi salah satu konflik utama yang memengaruhi cara Bee memandang Levi. Karakter Bee terasa manusiawi karena memiliki kelemahan sekaligus keberanian untuk terus berkembang.

Sementara itu, Levi Ward tampil sebagai karakter pria yang menjadi daya tarik tersendiri. Di balik sikapnya yang dingin dan pendiam, ia ternyata penuh perhatian, setia, dan diam-diam telah menyimpan perasaan kepada Bee sejak lama. Perlahan pembaca akan memahami bahwa diam bukan selalu berarti benci. Justru ketidakmampuan Levi mengungkapkan perasaannya menjadi sumber berbagai kesalahpahaman yang menggerakkan cerita.

Kelebihan dan Kekurangan

Novel ini juga dipenuhi detail-detail kecil yang menghangatkan suasana, salah satunya kecintaan Bee dan Levi terhadap kucing. Interaksi mereka dengan hewan peliharaan membuat kedua karakter terasa lebih dekat dan memberikan jeda manis di tengah padatnya aktivitas penelitian.

Meski bagian awal cerita berjalan cukup lambat, konflik yang memuncak menjelang akhir berhasil memberikan kejutan yang memuaskan. Chemistry antara Bee dan Levi berkembang semakin kuat hingga klimaks cerita terasa emosional sekaligus romantis. Namun, pembaca juga perlu mengetahui bahwa beberapa adegan romantis ditulis secara cukup eksplisit sehingga novel ini lebih sesuai untuk pembaca dewasa.

Secara keseluruhan, Love on the Brain bukan hanya menawarkan kisah cinta yang menghibur, tetapi juga memperlihatkan bahwa dunia sains dapat menjadi latar yang menarik bagi sebuah romansa. Ali Hazelwood berhasil memadukan humor, konflik emosional, isu kesetaraan gender, dan kehidupan para ilmuwan dalam satu cerita yang hangat.

Identitas Buku

  • Judul: Love on the Brain
  • Penulis: Ali Hazelwood
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Tahun Terbit: Maret 2025
  • ISBN: 978-602-06-8213-6
  • Tebal: 452 halaman
  • Genre: Romance, Komedi Romantis

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda