Ulasan

Buku Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?: Teman Anak-Anak yang Kehilangan Ayah

Buku Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?: Teman Anak-Anak yang Kehilangan Ayah
Buku Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? (Dok.Pribadi/Fathorrozi)

Membaca buku Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?, menjadi pengalaman yang sangat personal bagi saya. Sejak September 2025, saya juga harus menerima kenyataan bahwa ayah telah lebih dahulu berpulang. Kepergiannya meninggalkan ruang kosong yang sampai hari ini belum benar-benar terisi.

Dari itu, hampir setiap kalimat dalam buku ini terasa begitu dekat. Ada bagian yang membuat saya berhenti membaca sejenak, menarik napas panjang, bahkan menahan air mata. Rasanya seperti sedang berbincang dengan seseorang yang benar-benar memahami bagaimana rasanya kehilangan seorang ayah.

Untuk Ayah di sana, semoga Allah melimpahkan rahmat, ampunan, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya. Terima kasih telah menjadi alasan kami belajar menjadi kuat, bahkan setelah kepergianmu.

Buku karya Khoirul Trian ini memang lahir sebagai pelukan bagi siapa saja yang kehilangan arah setelah kehilangan sosok ayah. Penulis yang sebelumnya dikenal lewat buku Dari Aku yang Hampir Menyerah kembali menghadirkan karya yang begitu hangat sekaligus menyayat hati. Ia mengangkat isu fatherless bukan sekadar sebagai fenomena sosial, melainkan sebagai luka yang benar-benar dirasakan banyak orang.

Tokoh utama dalam buku ini digambarkan seperti seorang anak kecil yang kehilangan kompas. Ayah yang selama ini menjadi nahkoda hidupnya telah tiada. Sejak saat itu, hidup terasa seperti perjalanan panjang tanpa petunjuk arah.

Namun buku ini tidak hanya berbicara tentang kesedihan. Perlahan-lahan, pembaca diajak memahami bahwa kehilangan bukanlah akhir dari kehidupan, melainkan awal dari proses menerima dan belajar melangkah sendiri.

Hal yang paling saya sukai adalah cara Khoirul Trian menyampaikan cerita. Kalimat-kalimatnya sederhana, tetapi mampu menghantam perasaan. Tidak rumit, tidak berlebihan, namun justru itulah kekuatannya. Ia seperti sedang mengajak pembaca berbicara dari hati ke hati.

"Tolong ajak aku keliling ke kota ini lagi sambil kau ceritakan tiap-tiap sudut bangunan, rumah, dan manusia-manusia yang katamu: 'Nanti kalau kamu udah besar, kamu akan seperti manusia-manusia dewasa itu, Nak.'" (Halaman 19).

Kalimat ini membuat saya sadar bahwa kenangan sederhana bersama ayah ternyata menjadi bekal hidup yang sangat besar. Dulu mungkin perjalanan kecil itu terasa biasa saja. Namun ketika ayah sudah tiada, semua kenangan sederhana berubah menjadi harta yang tak ternilai. Saya jadi teringat perjalanan-perjalanan singkat bersama ayah yang kini hanya bisa saya kunjungi kembali lewat ingatan dan doa.

"Ayah, bagaimana kabarmu di sana? Ternyata hari di mana aku bermain dengan ayah adalah hari paling baik yang ternyata aku ingin ada di sana lagi. Sayangnya, waktu terus berjalan dan semuanya terasa begitu cepat." (Halaman 25-26).

Menurut saya, inilah kenyataan yang sering baru disadari ketika kehilangan sudah tiba. Hari-hari biasa bersama ayah ternyata merupakan masa-masa terbaik yang dulu tidak pernah kita sadari nilainya. Waktu memang tidak pernah berhenti. Yang bisa kita lakukan hanyalah menyimpan kenangan itu sebagai kekuatan untuk terus hidup.

"Ayah, sekarang aku banyak memendam semuanya sendiri. Banyak hal yang selama ini gak berani aku ceritakan, sebab aku takut kelihatan cengeng. Namun justru, karena terlalu sering berusaha terlihat kuat dan baik-baik saja, rasanya sesak sekali untuk mulai bercerita dengan siapa pun. Dan kau tahu, Ayah? Sekarang aku gak punya tempat cerita lagi. Ini menyakitkan, sungguh." (Halaman 41).

Saya merasa banyak anak yang kehilangan ayah akan memahami isi hati dalam kutipan ini. Ada rasa ingin bercerita, tetapi bingung kepada siapa. Ada beban yang dipikul sendirian karena merasa harus selalu tampak kuat. Bagi saya, kutipan ini menjadi pengingat bahwa menangis bukan tanda kelemahan. Justru mengakui rasa kehilangan adalah bagian dari proses penyembuhan.

Secara isi, buku ini mengajak pembaca melewati enam fase emosional, mulai dari kerinduan, kebingungan, penolakan, harapan, keikhlasan, hingga akhirnya menerima kenyataan. Meski alurnya sederhana, setiap bab terasa hidup karena dipenuhi refleksi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Hal menarik lainnya adalah adanya halaman aktivitas yang memungkinkan pembaca ikut menuliskan perasaannya sendiri. Saya merasa fitur ini membuat buku bukan hanya menjadi bacaan, tetapi juga teman berbicara. Seolah-olah penulis memberi ruang agar pembaca tidak hanya menangis karena cerita tokohnya, tetapi juga berdamai dengan kisah hidupnya sendiri.

Saya juga menyukai bagaimana Trian menggambarkan sosok ayah. Ayah tidak selalu hadir dengan kata-kata manis. Kadang cinta ayah hadir dalam bentuk kerja keras, diam, pengorbanan, dan lelah yang tidak pernah diceritakan. Buku ini mengingatkan bahwa banyak cinta seorang ayah yang baru benar-benar dipahami setelah beliau tidak lagi berada di sisi kita.

Kelebihan utama buku ini terletak pada bahasa yang ringan, puitis, dan sangat mudah dipahami. Tema fatherless yang sedang banyak dibicarakan berhasil dikemas menjadi cerita yang hangat dan menyentuh. Kehadiran halaman aktivitas juga membuat pengalaman membaca terasa lebih personal. Selain itu, banyak kalimat reflektif yang layak diberi tanda karena begitu dekat dengan realitas kehidupan.

Buku ini bukan tanpa kekurangan. Ritme cerita cenderung stabil dan lebih banyak berisi renungan dibanding konflik yang berkembang. Bagi pembaca yang menyukai alur cepat atau penuh kejutan, buku ini mungkin terasa lambat. Selain itu, nuansa kesedihan mendominasi hampir seluruh isi buku sehingga proses bangkit setelah kehilangan terasa belum digali lebih luas.

Namun, kekurangan tersebut sama sekali tidak mengurangi makna yang saya dapatkan. Justru kesederhanaan itulah yang membuat buku ini terasa jujur. Tidak berusaha menghibur secara berlebihan, tetapi menemani pembaca yang sedang terluka.

Menurut saya, buku ini sangat layak dibaca oleh siapa pun, terutama anak-anak yang kehilangan ayah karena kematian, sama seperti yang saya alami. Buku ini tidak akan menghapus rasa rindu, tetapi membantu kita menerima bahwa kehilangan adalah bagian dari kehidupan. Ayah mungkin telah pergi, tetapi nilai-nilai yang beliau tanamkan akan terus hidup dalam setiap langkah kita.

Terima kasih, Khoirul Trian, telah menulis buku yang mampu menjadi teman bagi anak-anak yang kehilangan arah setelah kehilangan ayahnya. Dan untuk Ayah, doa terbaikku akan selalu menyertaimu, sampai suatu hari nanti Allah mempertemukan kita kembali di tempat yang paling indah.

Identitas Buku

  • Judul: Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?
  • Penulis: Khoirul Trian
  • Penerbit: Gradien Mediatama
  • Cetakan: XIV, Januari 2026
  • Tebal: 164 Halaman
  • ISBN: 978-602-208-379-5
  • Genre: Motivasi/Self Improvement

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda