Ulasan
Ulasan Pyramid Game: Ketika Perundungan Menjadi Hal yang Dianggap Wajar
“Seseorang akan mengikuti kelakuan teman dekatnya. Karena itu, jauhilah orang yang berkelakuan buruk dan bertemanlah dengan orang-orang yang baik akhlaknya.”
Ungkapan yang saya pelajari dari Kitab Alala beberapa tahun lalu tiba-tiba terlintas di pikiran saya ketika menonton Pyramid Game. Di drama tersebut ada ungkapan yang saya rasa maknanya cukup mirip: “Menjadi monster itu menular.” Kalimat itu bukan hanya ditujukan kepada para pelaku perundungan, tetapi juga kepada mereka yang memilih diam dan perlahan terbiasa melihat ketidakadilan. Ketika sebuah lingkungan menganggap penindasan sebagai hal yang wajar, batas antara korban, penonton, dan pelaku pun mulai memudar.
Pyramid Game merupakan serial 10 episode yang bercerita tentang Seong Soo-ji (Bona), siswi baru di kelas 2-5 SMA Putri Baekyeon. Di kelas tersebut berlaku sebuah permainan bernama Pyramid Game. Sebulan sekali seluruh murid melakukan voting untuk menentukan peringkat teman sekelasnya. Mereka yang berada di peringkat F otomatis menjadi sasaran perundungan sampai periode voting berikutnya.
Sebagai murid baru, Soo-ji langsung berada di posisi paling bawah bersama Myeong Ja-eun (Ryu Da-in), siswi yang selama ini menjadi korban tetap di kelas tersebut. Berbeda dengan murid lain yang memilih mengikuti aturan agar tetap aman, Soo-ji berusaha mencari cara untuk menghentikan permainan itu meski harus berhadapan dengan Baek Ha-rin (Jang Da-ah), siswi yang selama ini mengendalikan sistem tersebut dari balik layar sekaligus pewaris Baekyeon Group.
Seperti yang sempat saya singgung di awal, drama ini menunjukkan bagaimana lingkungan dan sistem dapat membentuk seseorang. Melalui Pyramid Game, kita diperlihatkan para siswi yang awalnya hanya menonton perundungan yang dilakukan siswi di tingkat A kepada tingkat F, akhirnya ikut merundung juga seiring waktu. Apalagi dalam permainan kasta ini, anak-anak yang berada di tingkat A selalu merasa punya kuasa. Sementara yang ditingkat B sampai D merasa aman karena tidak menjadi korban.
Dengan adanya permainan ini, kekerasan seolah dinormalisasi. Pengaruh tingkat A membawa orang-orang di tingkat bawahnya untuk ikut melanggengkan perundungan yang mereka lakukan. Seperti kata Seong Ji-soo, di sini, menjadi monster seolah-olah memang benar-benar bisa menular. Bahkan siswi yang awalnya pendiam dan baik pun perlahan ikut melakukan perundungan ketika tingkat A memberi perintah atau membenarkannya.
Padahal jika kita melihat adegan kilas balik sebelum permainan itu ada, semua orang bisa berteman dan belajar dengan baik. Bahkan munculnya permainan Pyramid Game pun awalnya sekadar untuk hiburan saja agar kelas tak begitu membosankan dengan sistem pemberian hadiah pada pemilik suara terbanyak. Namun, seiring waktu permainan tersebut berubah menjadi sebuah sistem yang mendiskriminasi siapa pun yang tidak berhasil memperoleh suara.
Baek Ha-rin dengan memanfaatkan kekayaan dan kekuasaan keluarganya mulai memimpin permainan ini. Ia menjadikannya sebagai alat untuk membenarkan kekerasan yang ia lakukan pada Myeong Ja-eun, teman kecil yang ia anggap sudah mengkhianati dirinya. Dia juga membuat aturan bahwa siapa pun dilarang membela atau membantu siswi tingkat F yang mengalami perundungan. Status Ha-rin sebagai cucu pemilik yayasan sekolah membuat hampir semua siswi di kelas 2-5 memilih tunduk daripada melawannya.
Di sisi lain, jika kita lihat dari karakter tokohnya, Baek Ha-rin yang dikenal sebagai anak tunggal keluarga konglomerat ternyata menyimpan rahasia terkait identitas aslinya dan memiliki trauma yang cukup dalam tentang pengkhianatan. Saya rasa karena trauma itulah ia begitu benci dengan istilah “teman” atau persahabatan. Hidup di keluarga kaya dan sangat disayangi oleh neneknya juga membuat Ha-rin tumbuh menjadi sosok yang manipulatif, merasa dirinya di atas angin, serta bisa mendapatkan apapun yang dia mau. Beberapa kali, ia bahkan tak segan mengancam orang tuanya sendiri demi memperoleh keinginannya.
Sementara Seong Soo-ji yang hidup dengan ayah tunggal dilatih untuk mandiri sejak kecil. Terbiasa mengatasi masalahnya sendiri membuat Soo-ji tumbuh menjadi gadis yang cerdas, berani, dan peka dengan kondisi sekitarnya. Ia mungkin tidak punya kekuasaan sebesar Baek Ha-rin, tetapi dengan kemampuan dan dukungan teman-temannya, Soo-ji bisa meruntuhkan permainan yang ia rasa tidak berguna dan malah menyakiti banyak orang.
Secara keseluruhan, Pyramid Game menunjukkan bahwa sistem dan lingkungan memang memiliki pengaruh yang kuat dalam membentuk seseorang. Namun, drama ini juga mengingatkan bahwa kita tetap memiliki pilihan untuk memutus rantai tersebut. Melalui karakter Seong Soo-ji, kita melihat bagaimana keberanian satu orang untuk menolak ketidakadilan perlahan mampu mengubah sistem yang selama ini dianggap mustahil untuk dilawan.
Pyramid Game cocok buat Sobat Yoursay yang suka drama anak sekolah dengan nuansa misteri sekaligus cerita yang mengangkat isu perundungan, pengaruh lingkungan, dan keberanian melawan sistem yang tidak adil.