Ulasan

Maju: Jejak Pahit si Kembang Gula, Misteri Hilangnya Keturunan Terakhir

Maju: Jejak Pahit si Kembang Gula, Misteri Hilangnya Keturunan Terakhir
Poster film Maju: Jejak Pahit si Kembang Gula (IMDb)

Film Maju: Jejak Pahit si Kembang Gula resmi tayang di bioskop Indonesia mulai 6 Agustus 2026. Karya garapan sutradara Franklin Darmadi dengan skenario Dedey Natalia ini diproduksi oleh Panen Entertainment bersama Wokcop Pictures dan Bluesheep Entertainment. Film berdurasi 98 menit ini diklasifikasikan untuk semua umur oleh Lembaga Sensor Film dan mendapat dukungan penuh dari Badan Narkotika Nasional (BNN) serta Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Sebelum rilis nasional, film ini telah meraih pengakuan internasional, termasuk penghargaan Best Feature Film di Moscow International Children’s Film Festival.

Sebuah Misi Penyelamatan Empat Anak Pramuka

Tangkapan layar adegan di film Maju: Jejak Pahit si Kembang Gula (Instagram/filmmaju)
Tangkapan layar adegan di film Maju: Jejak Pahit si Kembang Gula (Instagram/filmmaju)

Cerita berpusat pada Pak Wira (Bukie B. Mansyur), seorang guru sekaligus pembina pramuka yang disiplin namun penuh kepedulian. Ia membawa empat muridnya—Kirana (Princesza Leticia), Hanna (Bebe Gracia), Gerald (Axandro Juliano), dan Bagas (Aradhana Rahadi)—untuk melakukan survei lokasi Jamboree Pramuka di Desa Segosari. Perjalanan yang semula penuh semangat dan keceriaan berubah menjadi misteri ketika Bagas, yang sebelumnya menunjukkan perilaku tidak biasa dan mengaku tidak enak badan, tiba-tiba menghilang. Satu-satunya petunjuk yang tersisa adalah potongan kembang gula kesukaannya yang sedang populer. Kehadiran Adit (Alby Ersani), anak desa yang sering menjadi korban perundungan dan memiliki kondisi spektrum autisme, kemudian menjadi kunci penting dalam pencarian tersebut.

Kurasa, film ini berhasil menggabungkan elemen petualangan, misteri, dan edukasi tanpa terkesan menggurui. Isu utama yang diangkat adalah peredaran narkoba yang dikemas dalam bentuk permen atau jajanan anak-anak. Melalui sudut pandang anak-anak dan seorang guru, aku pun diajak menyadari bahwa ancaman dapat datang dari hal-hal yang tampak biasa dan menarik. Dukungan institusi terkait menjadikan film ini lebih dari sekadar hiburan; ia berfungsi sebagai sarana edukasi karakter, penguatan peran keluarga dan guru, serta penolakan terhadap perundungan.

Ulasan Film Maju: Jejak Pahit si Kembang Gula

Tangkapan layar adegan di film Maju: Jejak Pahit si Kembang Gula (Instagram/filmmaju)
Tangkapan layar adegan di film Maju: Jejak Pahit si Kembang Gula (Instagram/filmmaju)

Dari segi akting, Bukie B. Mansyur memberikan penampilan yang stabil dan emosional sebagai Pak Wira. Ia mampu menampilkan sisi tegas sekaligus kepedulian mendalam terhadap murid-muridnya. Para pemeran muda, khususnya Princesza Leticia, Bebe Gracia, Aradhana Rahadi, dan Axandro Juliano, menunjukkan chemistry yang alami sebagai sahabat. Alby Ersani sebagai Adit berhasil memberikan nuansa empati yang kuat. Sarah Sechan dan Unang Hadi Prabowo (Unang Bagito) sebagai pasangan kepala desa turut memperkuat latar sosial desa dengan penampilan yang meyakinkan.

Sinematografi yang ditangani langsung oleh Franklin Darmadi memanfaatkan keindahan alam Yogyakarta, tempat syuting berlangsung pada April–Mei 2025. Lanskap desa dan area perkemahan memberikan suasana yang autentik bagi cerita petualangan. Penyuntingan gambar oleh Kornelius Verdy menjaga ritme narasi tetap mengalir, sementara musik karya Arie Key Nova mendukung transisi suasana dari ringan ke tegang secara efektif.

Salah satu adegan paling menyentuh adalah momen ketika ketiga sahabat menyadari hilangnya Bagas dan mulai merasakan beban tanggung jawab yang berat. Ketegangan emosional terlihat jelas saat mereka berusaha tetap tenang di hadapan Pak Wira, sementara rasa takut dan rasa bersalah perlahan muncul. Interaksi antara anak-anak dan Adit juga menjadi titik emosional yang kuat. Penerimaan terhadap perbedaan serta keberanian Adit untuk membantu, meski sering dirundung, memberikan pesan inklusi yang tulus dan tidak berlebihan.

Adegan yang paling kuingat setelah nonton adalah rangkaian pencarian yang mengikuti jejak kembang gula hingga mengungkap sisi kelam di balik produk tersebut. Ketegangan meningkat secara bertahap ketika para tokoh mulai memahami bahwa sesuatu yang manis dan digemari justru menyimpan bahaya besar. Momen penyingkapan tersebut, dikombinasikan dengan reaksi emosional para anak dan keteguhan Pak Wira, meninggalkan kesan mendalam. Pesan bahwa kewaspadaan harus dimulai dari hal-hal sederhana menjadi inti yang sulit dilupakan.

Jadi bisa kusimpulkan, Maju: Jejak Pahit si Kembang Gula merupakan film keluarga yang seimbang antara hiburan dan edukasi. Ia tidak hanya mengajakku dan penonton yang lain mengikuti petualangan menegangkan, tetapi juga mendorong refleksi mengenai peran orang dewasa, kekuatan persahabatan, serta ancaman nyata yang mengintai generasi muda. Dengan pesan yang relevan dan kemasan yang mudah dicerna, film ini layak disaksikan bersama keluarga sebagai pengingat bahwa kewaspadaan dan kepedulian merupakan bagian penting dari pendidikan karakter. Rating pribadi: 7.8/10.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda